Oleh : Dr. Agus Andi Subroto
Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan
Ketua DPD AFEBSI Jawa Timur
Pengurus IKA Universitas Brawijaya Jawa Timur
Baca juga: KAUJE Korda Surabaya Adakan Penyegaran Organisasi di Acara NGOBRAS
Surabaya, JatimUPdate.id -Pelantikan Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA UNAIR) Masa Bakti 2025–2030 yang digelar malam ini pada Jumat, (19/12/2025) di Plaza Airlangga bukan sekadar agenda organisasi.
Ini merupakan momen kolektif yang menandai keberlanjutan ikatan, kesinambungan amanah, serta pembaruan harapan.
Di ruang seperti inilah jejaring alumni bertemu—bukan hanya untuk bernostalgia, melainkan untuk menyatukan niat dan memperluas kerja bersama bagi negeri.
Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen Perhimpunan Organisasi Alumni Perguruan Tinggi Negeri (HIMPUNI), yang merepresentasikan kekuatan jejaring alumni lintas kampus di Indonesia.
Hadir di antaranya perwakilan dari IKA Universitas Brawijaya (IKA UB), KAGAMA, IKA Universitas Sriwijaya Palembang, IKA Universitas Udayana, IKA Universitas Diponegoro, IKA UPN, serta Keluarga Alumni Universitas Jember (KAUJE).
Kehadiran lintas alumni Perguruan Tinggi ini memperlihatkan bahwa organisasi alumni tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh dalam semangat kebersamaan dan kolaborasi nasional.
Kehadiran perwakilan Ikatan Alumni Universitas Brawijaya (IKA UB) pada kesempatan ini merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan organisasi. Undangan formal yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal IKA UB kepada para pengurus yang memiliki kelonggaran waktu—untuk mewakili Ketua IKA UB yang berhalangan hadir—diterima sebagai amanah.
Kehadiran tersebut dimaknai sebagai doa, dukungan, serta komitmen untuk menyukseskan pelantikan, sekaligus menjaga silaturahmi dan komunikasi antar jejaring alumni.
IKA UB dan IKA UNAIR merupakan dua ekosistem besar pendidikan tinggi di Indonesia, dengan sebaran alumni yang luas di tingkat daerah, nasional, hingga internasional. Alumni dari kedua perguruan tinggi ini berkiprah aktif di berbagai sektor strategis—pendidikan, kesehatan, ekonomi, kewirausahaan, birokrasi, hingga kebijakan publik.
Baca juga: Dilantik di Gedung Grahadi, Kadin Jatim Tetapkan Tujuh Fokus Strategis
Dalam konteks tersebut, perjumpaan jejaring alumni memiliki arti yang jauh melampaui simbolik: membuka ruang dialog lintas kapasitas, mempertemukan potensi, serta menyelaraskan langkah untuk menjawab tantangan kebangsaan yang kian kompleks.
Pelantikan ini juga menandai dimulainya kepemimpinan baru IKA UNAIR di bawah Ketua Umum Dr. (HC) Khofifah Indar Parawansa, M.Si., yang juga menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur, dengan Sekretaris Jenderal Dr. Indra Nur Fauzi, S.E., M.Si.
Kombinasi kepemimpinan ini mencerminkan kuatnya irisan antara jejaring alumni, kepemimpinan publik, dan pengabdian sosial yang berorientasi pada kebermanfaatan luas.
Di tengah dinamika nasional lima tahun ke depan—mulai dari bonus demografi, transformasi ekonomi, hingga kebutuhan kepemimpinan yang adaptif—peran jejaring alumni menjadi modal sosial yang semakin penting.
Kolaborasi antar-IKA bukan sekadar simbol kebersamaan, melainkan kerja nyata yang membutuhkan kepercayaan, kerendahan hati, serta orientasi jangka panjang.
Alumni tidak cukup berhenti pada identitas almamater; mereka dipanggil untuk menghadirkan nilai, kompetensi, dan jejaringnya dalam ruang kolaborasi yang inklusif dan berdampak.
Baca juga: Bupati Bondowoso Lantik 11 Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama, Tegaskan Meritokrasi Tanpa Kompromi
Di sinilah organisasi alumni menemukan relevansinya—sebagai penghubung antara gagasan dan tindakan, antara niat baik dan kontribusi nyata.
Pelantikan ini menjadi pengingat bahwa kekuatan jejaring tidak terletak pada siapa yang paling menonjol, melainkan pada kesediaan untuk bekerja bersama. Bukan mencari sorotan, tetapi menyatukan peran. Bukan menegaskan perbedaan, melainkan menemukan irisan.
Ke depan, kolaborasi antar jejaring alumni seperti IKA UB dan IKA UNAIR, Serta KAUJE juga yang lainnya bersama simpul-simpul alumni lain yang tergabung dalam HIMPUNI, merupakan aset strategis yang perlu terus dirawat. Tidak hanya melalui agenda formal, tetapi melalui kesediaan untuk saling mendukung, berbagi peran, dan berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing.
Dari ruang-ruang kolaboratif yang tenang, dewasa, dan konsisten inilah, harapan bagi negeri dapat tumbuh—berkelanjutan, relevan, dan bermakna. (red)
Editor : Redaksi