Malang, JatimUPdate.id - Duta Besar Jerman untuk Indonesia H.E Ralf Beste, Wakil Duta Besar Polandia, Maciej Tumulec, Kepala Bidang Kerjasama Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia Jerome Pons, serta perwakilan Tim Eropa lainnya menghadiri peresmian Pusat Penyakit Menular/Infeksi di Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB), Malang Jawa Timur.
Direktur Rumah Sakit Universitas Brawijaya, Viera Wardhani, merespons positif dukungan Ini Eropa dalam mengembangkan Pusat Layanan Infeksi.
Baca juga: Hanya Prof Prija Djatmika Dapat Lima Kali Aplaus
Ia berkomitmen RSUB akan menghadirkan layanan standar global, melakukan inovasi sekaligus mengembangkan riset.
“Dengan dukungan pendanaan Uni Eropa melalui inisiatif Global Gateway, pengembangan Pusat Layanan Infeksi ini memperkuat komitmen RSUB dalam menghadirkan layanan yang melindungi pasien dan keluarga sesuai standar global dan mengembangkan riset utk inovasi,” jelas Viera, Minggu (11/1).
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, berharap Pusat Penyakit Menular/Infeksindi RSUB dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Indonesia, utamanya warga Jawa Timur.
“Uni Eropa dan Negara-negara anggotanya, melalui pendekatan ‘Tim Eropa’, bermitra dengan Kementerian-Kementerian Republik Indonesia dan dengan Rumah Sakit Universitas Brawijaya agar jutaan warga Indonesia di seluruh Jawa Timur dapat memperoleh manfaat dari lebih banyak peralatan dan teknologi kesehatan yang didanai oleh program Global Gateway Uni Eropa,” kata Denis.
Direktur Direktorat Sumber Daya Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, meminta RSUB mentransformasikan kesehatan berbasis riset dan layanan terpadu.
Riset dan layanan terpadu tersebut diharapkan berdampak bagi generasi bangsa hingga masa mendatang.
Baca juga: Belajar Ulang Menjadi Ilmuwan: Catatan Seorang Doktor dari Sebuah Percakapan Menjelang Dies Natalis
“Melalui Infectious Disease Center Rumah Sakit Universitas Brawijaya mendorong transformasi kesehatan berbasis riset dan layanan terpadu yang berdampak bagi generasi kini dan masa depan,” kata Sri Suning.
Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, menegaskan serangan pandemi covid-19 beberapa tahun dapat dijadikan pengalaman berharga.
Sebab penyakit menular seperti covid-19 tidak mengenal waktu dan jarak.
Ia menjabarkan investigasi kesehatan di Indonesia tidak hanya fokus pada vaksinasi. Namun juga memperkuat rumah sakit di sektor pendidikan.
Baca juga: Epistemologi Pulang dan Akar yang Menghidupi
“Pandemi COVID-19 telah menunjukkan kepada kita dengan sangat jelas bahwa penyakit menular tidak mengenal batas negara. Karena alasan ini, Jerman berinvestasi dalam sistem kesehatan Indonesia untuk mempromosikan produksi vaksin dan farmasi nasional, memperkuat rumah sakit pendidikan, dan mendukung pengendalian malaria,” kata Ralf Beste.
Sebagai informasi: Proyek ini merupakan bagian dari kemitraan investasi Global Gateway yang lebih luas dengan Indonesia di bidang kesehatan, pendidikan, dan penelitian, yang dilaksanakan melalui pendekatan Tim Eropa.
Program ini mewakili investasi sebesar 77 juta Euro yang menggabungkan pinjaman sebesar 67 juta Euro dari KfW (Jerman) dan hibah Uni Eropa sebesar 10 juta Euro, yang diimplementasikan melalui kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta Kementerian Kesehatan, untuk mendukung investasi prioritas di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. (*RoY)
Editor : Yuris. T. Hidayat