Oleh: Ponirin Mika
Baca juga: Menuju Puasa Melampaui Ritualisme, Menuju Transformasi Spiritual
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research
Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id - Pesantren seringkali dicitrakan sebagai ruang sunyi yang hanya bergelut dengan teks-tex klasik. Namun, di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, citra tersebut luruh.
Pesantren bukan lagi sekadar "menara gading" tempat santri menghafal bait-bait Alfiyah, melainkan sebuah laboratorium sosial yang denyut nadinya berdetak bersama kegelisahan rakyat.
Sebuah kalimat berkesan dari Pengasuh saat ini, KH. Moh. Zuhri Zaini, menjadi jangkar filosofis bagi seluruh gerak santri: "Santri tidak hanya berpikir untuk dirinya sendiri, tapi berpikir untuk masyarakat dan negara." Kalimat ini bukan sekadar imbauan melainkan sebuah manifestasi teologi sosial yang menuntut kerja nyata di lapangan.
Dalam diskursus yang dibangun oleh KH. Abdul Wahid Zaini melalui karyanya Dunia Pemikiran Kaum Santri, ditegaskan bahwa pesantren memiliki watak dasar sebagai agen transformasi sosial.
Baca juga: Kiai Zuhri Zaini Sebut Memahami Konsekuensi Akhirat Adalah Kunci Ketenangan Hidup
Sejak masa perintisan oleh KH. Zaini Mun’im, nalar perubahan itu sudah membumi dalam bentuk kedaulatan agraria.
Ketika Kiai Zaini mengelola lahan tegalan menjadi ladang produktif dan memperkenalkan tanaman kelapa—sesuatu yang asing bagi masyarakat kala itu—beliau sedang melakukan rekayasa sosial (social engineering) berbasis kearifan lokal.
Beliau tidak hanya mengajarkan cara beribadah kepada Tuhan, tetapi juga cara memuliakan martabat manusia melalui kemandirian ekonomi. Satu hal yang sangat heroik dalam catatan sejarah Nurul Jadid adalah keteguhan pesantren dalam menjaga pasar rakyat.
Di tengah gempuran kapitalisme dan dominasi pemilik modal, pesantren berdiri sebagai perisai agar sirkulasi ekonomi tetap berada di tangan rakyat kecil.
Baca juga: Kiai Zuhri Zaini Bedah Karakter Ulama Akhirat di Pengajian Ramadan Nurul Jadid
Estafet perjuangan ini kemudian dikonkretkan di era Kiai Wahid Zaini. Sebanyak 67 program pengembangan ekonomi yang dilahirkan menjadi bukti sahih bahwa pesantren mampu mengawinkan spiritualitas dengan profesionalitas.
Pesantren tidak membiarkan masyarakatnya berjalan sendirian di tengah badai ekonomi; ia hadir sebagai kompas sekaligus penggerak.
Santri sebagai Arsitek Sosial
Apa yang terjadi di Nurul Jadid adalah bukti bahwa kontribusi pesantren terhadap perubahan sosial bersifat permanen dan berkelanjutan. Pesantren telah melampaui fungsinya sebagai lembaga pendidikan formal.
Ia telah menjelma menjadi entitas yang mampu mengelola krisis, mendistribusikan kesejahteraan, dan menjaga stabilitas sosial-ekonomi.
Pada akhirnya, santri yang lahir dari rahim Nurul Jadid adalah mereka yang memiliki kesadaran ganda: kesadaran langit untuk menjaga iman, dan kesadaran bumi untuk menjaga kedaulatan bangsa. Inilah esensi sejati dari khidmah santri untuk negeri. (red)
Editor : Redaksi