KH. Zuhri Zaini: Tidak Semua Jiwa Disiapkan Menanggung Hafalan, Jangan Jadikan Tahfidz Sekadar Ambisi

Reporter : Ponirin Mika
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Zuhri Zaini Mun’im. (Foto Humas Ponpes Nurul Jadid for JatimUPdate.id)

 

Kraksaan, Probolinggo, JatimUPdate.id – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Zuhri Zaini Mun’im, memberikan nasehat mendalam dalam gelaran Wisuda Al-Qur’an dan Pelantikan PAC JQH NU se-PC JQH NU Kraksaan.

Baca juga: Menuju Puasa Melampaui Ritualisme, Menuju Transformasi Spiritual

Dalam dawuhnya, beliau mengingatkan bahwa menghafal Al-Qur’an bukan sekadar pencapaian intelektual, melainkan kesanggupan jiwa untuk mengemban amanah seumur hidup.

Di tengah tren tahfidz yang kini sering terjebak pada target kuantitas dan seremoni wisuda, Kiai Zuhri menekankan bahwa Al-Qur’an tidak boleh diperlakukan seperti lomba.

Beliau mengingatkan bahwa yang paling menentukan dalam kaderisasi penghafal Al-Qur’an bukanlah kecerdasan pikiran semata, melainkan kesiapan batin untuk istiqamah.

"Tidak semua jiwa disiapkan menanggung hafalan Al-Qur’an," ungkap  Kiai Zuhri.

Beliau menegaskan bahwa memaksa seseorang memikul amanah yang belum sanggup ditanggung hanya akan membawa risiko di akhirat kelak.

Baca juga: Kiai Zuhri Zaini Sebut Memahami Konsekuensi Akhirat Adalah Kunci Ketenangan Hidup

Kiai Zuhri juga menyoroti peran krusial seorang guru sebagai penjaga pintu amanah. Menurut beliau, guru Qur’an bukan sekadar penyimak setoran, melainkan harus memiliki ketajaman batin untuk menakar kapasitas seorang santri.

Guru harus peka menentukan mana anak yang perlu didorong dan mana yang perlu dijaga agar tidak memikul beban di luar batas kemampuannya.

Ketajaman batin pendidik dalam membaca kesiapan murid ini, menurut beliau, lahir dari kedekatan sang guru kepada Allah melalui tirakat, sujud-sujud panjang, dan ketaatan yang tulus.

Beliau memberikan perbandingan menohok: menghafal nadzom kitab jika lupa hanyalah rugi waktu dan tenaga.

Baca juga: Kiai Zuhri Zaini Bedah Karakter Ulama Akhirat di Pengajian Ramadan Nurul Jadid

Namun, melupakan Al-Qur’an karena kelalaian adalah urusan langsung dengan Allah SWT. Pesan ini menjadi pengingat bagi semua pihak agar tidak tergesa-gesa menjadikan anak sebagai penghafal sebelum mereka siap menjadi penjaga.

Menjadi seorang hafidz bukan soal seberapa cepat setoran selesai, melainkan sejauh mana kesiapan untuk ditagih pertanggungjawabannya.

Sebagaimana ditulis oleh Ahmad Taufiq Zein, pesan Kiai Zuhri tidak bermaksud mengecilkan semangat tahfidz, melainkan memuliakan Al-Qur’an setinggi-tingginya sebagai mukjizat yang terlalu suci untuk sekadar dijadikan ambisi. (pm/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru