Tol Prosiwangi Difungsionalkan Terbatas H-10 Lebaran 2026, Wagub Emil: Dukung Kelancaran Mudik

Reporter : M Aris Effendi
Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak didampingi Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid saat jumpa pers di lokasi jembatan Setong Bondowoso yang kini ditutup total pada Rabu (25/02/2026). (Foto JatimUPdate.id)

 

Bondowoso, JatimUPdate.id – Ruas Tol Probolinggo–Situbondo–Banyuwangi (Prosiwangi ) akan difungsionalkan secara terbatas mulai H-10 Lebaran 2026 guna mendukung kelancaran arus mudik di wilayah timur Jawa Timur.

Baca juga: Ambrolnya Jembatan Sentong, Aktivitas Perdagangan dan Sekolah Warga Bondowoso Terganggu

Kepastian tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, saat meninjau lokasi Jembatan Sentong di Kabupaten Bondowoso, Rabu (25/2/2026).

Menurut Emil, skema fungsional berarti tol belum dioperasikan secara penuh. Gerbang tol belum dijalankan secara normal dan pengoperasiannya akan diberlakukan dengan pengaturan jam tertentu selama periode mudik.

“Insyaallah pada waktu yang dipersyaratkan untuk momen mudik, tol tersebut [Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi/Prosiwangi] siap fungsional,” ujar Wagub saat diwawancarai JatimUPdate.id, pada Rabu (25/02/2026).

Namun, skema tersebut hanya berlaku sementara. Setelah H+10 Lebaran, ruas tol akan kembali ditutup guna menyelesaikan sejumlah pekerjaan sebelum diresmikan beroperasi penuh.

“Setelah itu H+10 Lebaran akan kembali ditutup karena ada yang harus dilengkapi lagi,” imbuhnya.

Transisi Menuju Operasional Penuh

Emil menjelaskan, pengalaman pada segmen Gending–Kraksaan–Paiton menunjukkan bahwa proses dari tahap fungsional menuju operasional penuh membutuhkan waktu cukup panjang.

Salah satu faktor yang memengaruhi adalah kondisi tanah yang berbeda dan rawan ambles.

Baca juga: Kapolres Bondowoso Buka Puasa Bersama Media, Tegaskan Sinergi Jaga Kondusifitas Ramadhan

Untuk ruas Prosiwangi yang kini dipersiapkan, berdasarkan laporan pengelola dan kontraktor, kondisi tanah dinilai lebih stabil.

“Menurut Jasa Marga dan kontraktor, kondisi tanahnya lebih stabil sehingga potensi ambles tidak sebesar di segmen sebelumnya,” ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, ia berharap masa transisi pasca penutupan H+10 hingga operasional penuh tidak memakan waktu lama.

Antisipasi Kepadatan di Exit Tol

Selain kesiapan fisik jalan tol, Emil juga menyoroti potensi kepadatan lalu lintas di sekitar pintu keluar tol. Ia menyebut terdapat lampu lalu lintas dengan jarak sekitar 800 meter menuju simpang tiga Arak-Arak yang berpotensi menimbulkan antrean kendaraan.

Baca juga: Ambrolnya Jembatan Sentong, Warga Bondowoso Terpaksa Lewati Jalur Alternatif

“Ini harus diantisipasi karena jaraknya 800 meter. Kalau tidak sinkron, sini hijau, sininya merah, bisa terjadi penumpukan ke belakang,” jelasnya.

Untuk itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan, Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kementerian Perhubungan, Direktorat Lalu Lintas Polda Jatim, serta Pemerintah Kabupaten Situbondo guna merancang manajemen lalu lintas selama masa mudik.

Emil menegaskan, sisa waktu persiapan sekitar 13 hari harus dimanfaatkan secara maksimal, mulai dari sinkronisasi fase lampu lalu lintas, rekayasa arus kendaraan, hingga penentuan jenis kendaraan dan exit tol yang akan digunakan selama periode Lebaran.

“Sinkronisasi fase lampu lalu lintas ini penting. Penentuan kendaraan yang lewat, exit mana yang digunakan di masa Lebaran, itu sedang dirancang oleh rekan-rekan semua,” pungkasnya.

Keberadaan Tol Prosiwangi sendiri dinilai strategis dalam memperkuat konektivitas kawasan Tapal Kuda. Jika skema fungsional berjalan lancar saat mudik, ruas ini diproyeksikan menjadi penopang utama mobilitas masyarakat sekaligus mempercepat distribusi logistik di wilayah timur Jawa Timur. (ries/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru