Guru Besar UIN Madura Pakai Pendekatan Analisis Astronomi Untuk Wahyu dan Fenomena Langit saat Turun al-Qur’an

Reporter : Rio Rolis
Guru Besar Ilmu Falak UIN Madura Achmad Mulyadi.

 

Pamekasan, JatimUPdate.id - Peristiwa turunnya al-Qur’an (Nuzulul Qur’an) yang secara populer diperingati pada 17 Ramadan bukan sekadar momentum historis, melainkan juga peristiwa kosmik.

Baca juga: Lorong Paseban, Anak Muda, dan Senja Ramadan

Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW di Gua Hira menghadirkan relasi unik antara teks ilahi dan fenomena langit. Langit malam bukan hanya letak geografis, tetapi juga ruang simbolik.

“Secara simbolik, malam menghadirkan situasi di mana hiruk-pikuk dunia mereda dan kesadaran manusia menjadi lebih terbuka terhadap dimensi spiritual,” ujar Guru Besar Ilmu Falak UIN Madura Achmad Mulyadi.

Karena itu, tambahnya, malam turunnya al-Quran bukan hanya waktu kronologis, tetapi merupakan saat ketika batas antara pengalaman manusia dan pesan ilahi menjadi lebih dekat.

Kegelapan malam yang diterangi oleh bintang-bintang menghadirkan metafora yang kuat. Di tengah kegelapan eksistensi manusia, wahyu hadir sebagai cahaya penuntun.

Langit dalam pengalaman manusia purba dan tradisional selalu dipandang sebagai ruang yang sarat makna. Dalam tradisi Islam, langit tidak hanya dipahami sebagai fenomena fisik, tetapi juga sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah Swt. (āyāt kauniyah).

Hamparan bintang, peredaran Bulan, dan terbit tenggelamnya Matahari merupakan fenomena kosmik yang berulang dan teratur. Pada malam-malam Ramadan, Bulan biasanya berada pada fase terang menuju purnama atau setelahnya. Cahaya Bulan yang lembut di langit gurun memberikan penerangan alami yang cukup untuk menyaksikan lanskap malam secara jelas.

Pada saat yang sama, langit yang luas memperlihatkan taburan bintang yang tak terhitung, termasuk jalur galaksi Milky Way yang sering tampak jelas di wilayah gurun Arabia.

“Dari perspektif astronomi Islam, fenomena ini memperlihatkan bahwa pengalaman spiritual Nabi berlangsung dalam sebuah alam semesta yang teratur. Kosmos dengan segala keteraturannya menjadi latar bagi turunnya wahyu, sehingga wahyu dan alam semesta seakan berada dalam satu harmoni kosmik. Dalam kondisi seperti ini, pengalaman spiritual menjadi lebih intens. Kesunyian tersebut menciptakan ruang batin bagi hadirnya wahyu.  Relasi ini memperlihatkan bahwa wahyu tidak hadir dalam suasana yang bising atau kacau, melainkan dalam kondisi kontemplatif yang mendalam. Hal ini sekaligus menunjukkan pentingnya dimensi perenungan dalam proses penerimaan pengetahuan Ilahi,” urainya.

Dari sudut pandang filsafat ilmu dan kosmologi religius, terangnya, peristiwa Nuzulul Qur’an menunjukkan adanya relasi antara wahyu (ayat qauliyah) dan alam semesta (ayat kauniyah).

Wahyu merupakan pesan ilahi yang disampaikan melalui teks suci, sementara alam semesta merupakan tanda-tanda kebesaran Tuhan yang dapat dibaca melalui observasi dan refleksi.

Dengan demikian, langit malam pada peristiwa Nuzulul Qur’an tidak sekadar menjadi latar peristiwa sejarah, tetapi juga menjadi simbol keterhubungan antara manusia, wahyu, dan kosmos.

Dalam perspektif ini, wahyu turun di tengah alam semesta yang penuh dengan tanda-tanda kebesaran Allah Swt. sehingga membaca al-Qur’an dan mengamati langit sebenarnya merupakan dua jalan yang saling melengkapi dalam memahami realitas ilahi.

Fase Bulan dan Struktur Malam 17 Ramadan

Menurut Mulyadi, riwayat yang populer dalam tradisi keislaman menyebut bahwa peristiwa Nuzulul Qur’an terjadi pada 17 Ramadan tahun 610 M, ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira di wilayah Makkah.

Jika peristiwa ini dilihat dari perspektif astronomi, maka tanggal 17 dalam kalender Hijriah menempati fase penting dalam siklus sinodik Bulan.

Siklus Bulan mengelilingi Bumi berlangsung sekitar 29,53 hari, yang menghasilkan perubahan fase Bulan dari hilal, kuartir pertama, purnama, hingga kuartir akhir.

Pada tanggal 17 bulan Hijriah, secara umum Bulan telah melewati fase purnama dan berada pada tahap purnama menuju kuartir akhir, yang dalam terminologi astronomi dikenal sebagai waning gibbous.

Secara astronomis, umur Bulan pada tanggal 17 Hijriah biasanya berada pada kisaran 16–18 hari sejak ijtimak’ (konjungsi).

Dalam fase ini karakteristik Bulan memiliki Iluminasi permukaan Bulan masih sangat besar, sekitar ± 90%, bentuk Bulan masih tampak hampir bulat, hanya sedikit berkurang dari purnama, dan cahaya Bulan yang dipantulkan ke Bumi masih sangat kuat.

Fase ini menjadikan malam pertengahan Ramadan sebagai malam yang cukup terang. Di wilayah gurun Arabia yang minim polusi cahaya, cahaya Bulan bahkan mampu menerangi lanskap gurun secara jelas.

Dari sudut pandang astronomi sferis, posisi Bulan pada fase gibbous akhir memiliki karakteristik tertentu dalam peredaran harian di langit.

Pada fase tersebut Bulan biasanya terbit tidak lama setelah Matahari terbenam. Pada awal malam, Bulan sudah berada cukup tinggi di langit. Pada tengah malam, Bulan mencapai ketinggian yang lebih besar sebelum perlahan bergerak ke arah barat.

Kondisi ini menyebabkan sebagian besar malam diterangi oleh cahaya Bulan. Dalam konteks gurun Arabia pada abad ke-7, situasi ini menghasilkan malam yang tidak sepenuhnya gelap, melainkan malam yang memiliki pencahayaan alami yang lembut.

Cahaya Bulan sebenarnya bukan cahaya yang diproduksi oleh Bulan itu sendiri, melainkan pantulan cahaya Matahari dari permukaan Bulan.

Dalam kajian astronomi, albedo Bulan (daya pantul permukaan) sekitar 12%, namun karena kedekatan Bulan dengan Bumi, cahaya pantulannya tetap tampak sangat terang di langit malam.

Dalam kondisi gurun seperti di sekitar Makkah, atmosfer yang relatif kering dan minim uap air membuat cahaya Bulan dapat menyebar dengan lembut tanpa banyak hamburan cahaya.

Akibatnya, malam pertengahan Ramadan sering menghadirkan pemandangan langit yang sangat indah dengan lanskap gurun yang diterangi rembulan dan taburan bintang di sekelilingnya.

“Menariknya, fenomena astronomi ini memiliki resonansi simbolik yang kuat dalam tradisi teologis Islam. Malam Nuzulul Qur’an bukanlah malam tanpa cahaya, melainkan malam yang diterangi oleh rembulan. Secara kosmologis, Cahaya Bulan merupakan pantulan cahaya Matahari. Bulan tidak memiliki cahaya sendiri, tetapi memantulkan sumber cahaya yang lebih besar,” ujar Mulyadi.

Dalam dimensi teologis, katanya, analogi ini penting dipahami secara simbolik bahwa wahyu yang turun kepada Nabi merupakan cahaya ilahi (nur) yang menerangi hati manusia.

Sebagaimana Bulan memantulkan cahaya Matahari ke Bumi, dan wahyu memantulkan cahaya ketuhanan ke dalam kesadaran manusia.

Dengan demikian, hubungan antara fenomena langit dan makna spiritual menjadi semakin jelas.

Cahaya Bulan yang menerangi malam pertengahan Ramadan dapat dipahami sebagai simbol kosmik dari hadirnya cahaya wahyu dalam kehidupan manusia.

Wahyu sebagai “Cahaya” dan Simbolisme Astronomi

Dalam banyak ayat, ungkap Mulyadi, al-Qur’an menggambarkan dirinya sebagai “nūr” (cahaya) yang menerangi kehidupan manusia. Konsep ini memiliki kedalaman makna teologis sekaligus resonansi simbolik dengan fenomena kosmik.

Dalam bahasa agama, cahaya melambangkan petunjuk, kejelasan, dan kebenaran.

Baca juga: Gym Sepi Saat Puasa, Meja Takjil Justru Penuh Sesak

Sementara dalam ilmu astronomi dan fisika, cahaya merupakan unsur fundamental yang memungkinkan manusia memahami alam semesta.

Dalam ilmu astronomi, cahaya dipahami sebagai gelombang elektromagnetik yang merambat dengan kecepatan sekitar 300.000 km per detik.

Cahaya membawa energi sekaligus informasi tentang objek yang memancarkannya. Melalui cahaya dari bintang-bintang dan planet, para astronom dapat mengetahui berbagai hal seperti suhu, komposisi kimia, dan jarak benda langit.

Tanpa cahaya, alam semesta akan berada dalam kegelapan total, dan manusia tidak akan mampu mengamati ataupun memahami realitas kosmik. Cahaya memungkinkan objek-objek langit—seperti Moon dan Sun—menjadi terlihat dan dikenali.

Dengan kata lain, cahaya adalah medium yang membawa informasi tentang realitas. Tanpa cahaya, realitas tetap ada, tetapi tidak dapat dipahami oleh manusia.

Selain membawa informasi, cahaya juga berfungsi sebagai sarana orientasi dan navigasi. Sejak masa kuno, manusia menggunakan cahaya benda-benda langit sebagai penunjuk arah.

Pergerakan Matahari menentukan waktu siang dan malam, sedangkan posisi bintang dan Bulan membantu manusia menentukan arah perjalanan di darat maupun di laut.

Dalam sejarah peradaban, langit menjadi “peta kosmik” bagi manusia. Para pelaut, pengembara gurun, dan pengamat langit menggunakan cahaya bintang untuk menemukan arah dan menentukan posisi mereka di bumi.

Fungsi orientasi ini memperlihatkan bahwa cahaya bukan hanya fenomena fisik, tetapi juga memiliki nilai praktis dalam kehidupan manusia.

Jika konsep cahaya dalam astronomi dipahami sebagai pembawa informasi dan orientasi, maka terdapat analogi yang kuat dengan konsep wahyu dalam tradisi Islam.

Wahyu membawa pesan ilahi yang memberi pemahaman tentang tujuan hidup manusia.

Dengan demikian, wahyu dapat dipahami sebagai cahaya maknawi yang menerangi kesadaran manusia. Jika dikaitkan dengan rekonstruksi astronomi malam 17 Ramadan.

Bulan pada saat itu kemungkinan berada pada fase hampir purnama dengan iluminasi yang tinggi. Cahaya Bulan menerangi langit malam dan lanskap gurun di sekitar Makkah.

Fenomena ini menghadirkan korespondensi simbolik yang menarik antara cahaya fisik dan cahaya maknawi.

Cahaya Bulan yang lembut menerangi kegelapan malam dapat dipahami sebagai metafora kosmik dari turunnya wahyu yang menerangi kegelapan spiritual manusia.

Dalam astronomi, cahaya Bulan sebenarnya adalah pantulan cahaya Matahari. Bulan tidak memiliki cahaya sendiri, tetapi memantulkan cahaya dari sumber yang lebih besar.

Analogi ini memperkuat simbolisme teologis bahwa wahyu merupakan pancaran cahaya ketuhanan yang disampaikan kepada manusia.

Struktur Waktu Kosmik dan Sakralitas 17 Ramadan

Baca juga: RHU Masih Nekat Buka Saat Ramadan, Baktiono: Satpol PP Harus Konsisten Lakukan Penindakan 

Ramadan merupakan bulan dalam kalender Hijriah yang sepenuhnya didasarkan pada siklus lunar.

Dalam astronomi, siklus ini dikenal sebagai bulan sinodik, yaitu periode waktu yang diperlukan oleh Moon untuk kembali ke fase yang sama terhadap Sun sebagaimana terlihat dari Bumi. Lama siklus tersebut sekitar 29,53 hari.

“Awal bulan Ramadan ditandai dengan munculnya hilal setelah konjungsi, yaitu ketika Bulan dan Matahari berada pada garis bujur ekliptika yang sama. Setelah hilal pertama terlihat, fase Bulan terus berkembang secara bertahap menuju purnama. Dalam konteks ini, penentuan 17 Ramadan memiliki makna astronomis tertentu karena menandai fase lanjutan dalam siklus pencahayaan Bulan,” jelasnya.

Jika tanggal 1 Ramadan dimulai dengan kemunculan hilal, maka tanggal 17 Ramadan berarti telah berlalu sekitar 16 hari sejak hilal pertama terlihat.

Dalam dinamika fase Bulan, periode ini berada pada fase setelah purnama menuju kuartir akhir. Karakteristik astronomisnya antara lain, yaitu Bulan telah mencapai tingkat iluminasi yang sangat tinggi, permukaan Bulan masih tampak hampir bulat di langit, dan cahaya Bulan cukup terang untuk menerangi malam.

Dengan demikian, malam pertengahan Ramadan berada pada puncak siklus pencahayaan Bulan. Dalam lanskap gurun seperti di wilayah Makkah, kondisi ini menjadikan malam tampak terang oleh cahaya alami.

Dalam perspektif astronomi, waktu sebenarnya merupakan hasil dari gerakan benda-benda langit.

Beberapa sistem waktu dasar dalam kehidupan manusia berasal dari fenomena kosmik, yakni rotasi Bumi menghasilkan siklus siang dan malam, revolusi Bulan menghasilkan siklus bulan Hijriah, revolusi Bumi terhadap Matahari menghasilkan tahun.

Dengan kata lain, seluruh sistem penanggalan manusia pada dasarnya merupakan refleksi dari ritme kosmik alam semesta. Waktu bukan sekadar konstruksi sosial, tetapi juga merupakan ekspresi keteraturan gerak benda langit.

Dalam kosmologi Islam, waktu tidak dipandang sebagai sesuatu yang sepenuhnya netral. Waktu memiliki kualitas spiritual tertentu yang membuat sebagian momentum memiliki kedudukan yang lebih mulia dibandingkan yang lain.

Pemilihan waktu-waktu tertentu ini menunjukkan bahwa dalam pandangan keagamaan, waktu memiliki dimensi sakral yang terkait dengan peristiwa-peristiwa spiritual, seperti Ramadan sebagai bulan yang dimuliakan dan Lailatul Qadar sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Jika peristiwa Nuzulul Qur’an dipahami terjadi pada malam 17 Ramadan, maka peristiwa tersebut berlangsung dalam suatu momentum kosmik yang berada di tengah siklus lunar.

Bulan pada saat itu berada dalam kondisi iluminasi yang tinggi dan langit malam relatif terang. Fenomena ini dapat dipahami sebagai keselarasan simbolik antara ritme kosmos dan peristiwa spiritual.

Langit malam yang diterangi Bulan menciptakan suasana yang hening dan kontemplatif, yang secara simbolik selaras dengan turunnya wahyu sebagai cahaya petunjuk bagi manusia. 

Dalam perspektif ini, gerakan kosmik seperti rotasi Bumi dan revolusi Bulan dapat dipandang sebagai “jam kosmik” yang menandai berlangsungnya peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah manusia.

Karena itu, struktur waktu kosmik yang melatarbelakangi 17 Ramadan memperlihatkan bahwa momentum Nuzulul Qur’an tidak hanya merupakan peristiwa sejarah keagamaan, tetapi juga bagian dari ritme alam semesta.

Siklus lunar yang menentukan Ramadan, cahaya Bulan yang mencapai puncaknya pada pertengahan bulan, serta keteraturan gerak benda langit menunjukkan adanya keselarasan antara kosmos dan wahyu. 

“Dalam perspektif ini, rotasi Bumi dan revolusi Bulan dapat dipahami sebagai jam kosmik yang menandai perjalanan waktu manusia. Nuzulul Qur’an pun dapat dilihat bukan hanya sebagai peristiwa historis, tetapi sebagai peristiwa yang selaras dengan harmoni dan keteraturan alam semesta,” tukasnya. (rilis/rio/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru