Oleh: Agus Andi Subroto
Baca juga: Zulhas: Bangsa Kuat Dimulai dari Ketahanan Pangan
Malang, JatimUPdate id - Malam masih tetap di Malang.
Udara dingin turun perlahan seperti tangan yang menepuk bahu dengan lembut. Kota ini selalu punya cara yang sederhana namun dalam untuk menyapa siapa saja yang sedang singgah dalam perjalanan hidupnya.
Di sebuah emper rumah tua di kawasan Bethek, saya masih duduk diam. Seharian beraktivitas di Malang dan berkeliling di Universitas Brawijaya, tubuh memang lelah. Namun pikiran justru seperti menemukan ruangnya sendiri untuk kembali menyala.
Ada sesuatu yang selalu hidup ketika berada di kota ini—sebuah spirit lama yang seakan tak pernah benar-benar pergi.
Malang seperti memanggil kembali ingatan tentang masa muda, tentang kegelisahan, tentang mimpi-mimpi yang dulu pernah ditanamkan oleh para guru kehidupan kepada anak-anak bangsa yang sedang mencari arah.
Kota ini memang tidak pernah terlalu gaduh. Ia justru berbicara pelan, tetapi sering kali langsung menyentuh ruang batin yang paling dalam.
Mungkin karena itu Malang selalu menemukan anak-anak muda yang datang dengan satu harapan sederhana: menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
Namun dunia hari ini tidak lagi sederhana.
Kita hidup di zaman yang keras. Zaman di mana ukuran nilai manusia, bahkan nilai sebuah negara, semakin ditentukan oleh seberapa besar kontribusi yang bisa diberikan kepada kehidupan.
Dunia global bergerak tanpa banyak kompromi. Mereka yang tidak memiliki nilai tambah perlahan akan tersisih. Dalam percaturan besar peradaban, individu maupun bangsa yang kehilangan value sering kali hanya menjadi penonton di pinggir panggung sejarah.
Baca juga: Optimalkan Program Makan Bergizi Gratis, Bupati Malang Siapkan Call Center 24 Jam
Kesadaran itulah yang tiba-tiba terasa begitu dekat malam ini.
Di emper rumah tua Mbethek ini, tarikan kesadaran itu datang pelan, tipis, namun melekat kuat di ruang jiwa.
Barangkali hidup memang selalu membawa kita pada pertanyaan yang sama dari waktu ke waktu: sudahkah kita menjadi manusia yang bernilai?
Bukan sekadar bernilai bagi diri sendiri, tetapi bernilai bagi orang lain, bagi masyarakat, bahkan bagi bangsa yang kita cintai.
Malang seperti mengingatkan kembali bahwa perjalanan menjadi manusia bernilai bukanlah perjalanan yang instan. Ia ditempa oleh proses panjang: belajar, bekerja, menulis, memimpin, jatuh bangun, dan terus mencoba memberi arti bagi kehidupan di sekitar kita.
Barangkali karena itu kota ini selalu melahirkan generasi yang gelisah. Gelisah bukan karena kehilangan arah, tetapi gelisah karena sadar bahwa hidup tidak boleh berhenti pada kenyamanan.
Ada panggilan untuk terus bergerak. Ada dorongan untuk terus bertumbuh.
Baca juga: Tingkatkan Minat Belajar Matematika, Mahasiswa Unitri Perkenalkan Papan Perkalian Inovatif
Malam di Malang akhirnya bukan sekadar tentang udara dingin yang merayapi tubuh. Ia adalah ruang sunyi yang mengingatkan bahwa hidup yang bermakna tidak pernah lahir dari sikap diam.
Hidup yang bermakna lahir dari keberanian untuk terus memperbaiki diri dan memberi kontribusi, sekecil apa pun itu.
Dan pada akhirnya, waktu akan mencatat satu hal yang paling sederhana sekaligus paling jujur tentang manusia:
bukan seberapa tinggi ia berdiri, tetapi seberapa besar nilai yang ia tinggalkan bagi kehidupan.
"Pada akhirnya manusia tidak dikenang karena jabatannya, tetapi karena nilai dan kontribusi yang ia berikan bagi zamannya."
Editor : Redaksi