Bro Will Dukung Pembatasan Gadget Anak Jam 6 Sore hingga 8 Malam
Surabaya,JatimUPdate.id - Anggota Komisi D DPRD Surabaya, William Wirakusuma atau yang akrab disapa Bro Will mendukung pembatasan gadget pukul 18.00 hingga 20.00 WIB bagi anak usia sekolah.
"Trafik penggunaan gawai mencapai puncaknya pukul 18.00 hingga 20.00," kata Bro Will, Minggu (26/4).
Bro Will menegaskan, pembatasan gadget bagi anak sekolah atau di bawah 17 tahun perlu dibatasi penggunaannya.
Hal ini untuk menghindarkan anak agar tidak terjerumus ke dalam kebiasaan buruk yang sulit dilepaskan.
"Dapat meminimalisir risiko kecanduan gawai sejak dini," jelas Bro Will.
Bro Will menjelaskan tanpa pengawasan, anak-anak berisiko terpapar konten yang belum sesuai dengan usia mereka.
Pasalnya saat ini banyak sekali informasi negatif atau kurang pantas yang berseliweran di dunia maya.
Maka dari itu, ia mendorong langkah preventif harus diambil agar teknologi tetap menjadi alat belajar, bukan sumber masalah perilaku.
"Peran keluarga, khususnya orang tua, paling utama dalam kendali ini," tegasnya.
Ia menjabarkan, saat ini, banyak smartphone yang menyediakan fitur pemantauan orang tua, dari penguncian aplikasi jarak jauh hingga pembatasan waktu layar (screen time).
Bro Will meyakini melalui fitur ersebut, orang tua dapat memantau aktivitas digital anak secara lebih efektif.
"Dan memastikan lingkungan siber lebih aman di dalam rumah," beber William Wirakusuma.
Sebagai informasi: Pemkot Surabaya meluncurkan kebijakan solutif untuk menjawab tantangan pengasuhan anak di era digital.
Melalui Surat Edaran (SE) Wali Kota Nomor 400.2.4/7809/436.7.8/2026, diterapkan Gerakan Surabaya Tanpa Gawai setiap pukul 18.00–20.00 WIB untuk memperkuat perlindungan anak sekaligus memulihkan interaksi sosial dalam keluarga.
Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani, menyebut kebijakan ini bukan sekadar imbauan.
Namun gerakan bersama yang melibatkan keluarga, sekolah, hingga masyarakat dalam satu sistem pengawasan terpadu.
“Ini bukan hanya soal membatasi penggunaan gawai, tetapi bagaimana kita mengembalikan ruang komunikasi yang hangat di dalam keluarga,” kata Rini. (Roy)
Editor : Miftahul Rachman