Antara Takdir dan Nasib: Jalan Sufi Menemukan Kebahagiaan Sejati

Reporter : Redaksi
Tri Prakoso, SH,.M.HP.

 

Oleh: Tri Prakoso, SH,.M.HP.

Baca juga: HIPMI Sidoarjo Turun Tangan Tekan Harga Sembako, Gelar Operasi Pasar Murah saat Ramadhan

WKU Kadin Jatim, Alumni Universitas Jember

 

Surabaya, JatimUPdate.id -SETIAP manusia pasti pernah bergulat dengan pertanyaan klasik: apakah hidup ini sudah ditentukan, ataukah kita memiliki kuasa untuk mengubahnya? Ketika musibah datang, sebagian orang pasrah dengan berkata "ini sudah nasib".

Ketika keberuntungan menghampiri, sebagian lain bersyukur "ini takdir baik Tuhan". Namun, sebuah syair sufistik menawarkan perspektif yang lebih dalam. Syair itu berbunyi:

”Nasibmu memang bisa berubah, tapi takdir Tuhanmu tidak akan pernah bisa berubah. Cerita hidupmu adalah takdir Tuhanmu, tapi kebahagiaan dan kesenangan yang mengikuti cerita hidupmu, itulah nasibmu."

Syair ini membedakan secara tegas antara takdir dan nasib. Dalam tradisi tasawuf, pembedaan ini bukan sekadar permainan kata, melainkan kunci memahami relasi manusia dengan Tuhan. Lalu, apa sebenarnya makna di balik syair ini? Dan bagaimana para sufi klasik menjelaskannya?

Memahami Takdir dan Nasib dalam Bingkai Sufi

Dalam khazanah tasawuf, takdir sering dipahami sebagai qadha' dan qadar—ketetapan Tuhan yang bersifat mutlak. Syaikh Dhiya'uddin Ahmad al-Kamasykhanawi dalam kitabnya Jami' al-Ushul fi al-Awliya' menjelaskan bahwa takdir terbagi menjadi dua: al-qadha' al-mubram (ketetapan mutlak yang tidak berubah) dan al-qadha' al-mu'allaq (ketetapan bersyarat yang dapat berubah).

Yang pertama—al-qadha' al-mubram—adalah ketetapan Tuhan yang pasti terjadi, seperti kematian, rezeki pokok, dan pertemuan dengan-Nya. Inilah yang dimaksud syair dengan ”takdir Tuhanmu tidak akan pernah bisa berubah."

Ia adalah skenario besar kehidupan yang telah tertulis di Lauh Mahfuzh.

Sementara yang kedua—al-qadha' al-mu'allaq—adalah ketetapan yang tergantung pada ikhtiar manusia. Doa, usaha, dan perubahan perilaku dapat mengubahnya. Dalam sebuah hadis masyhur disebutkan bahwa sedekah dapat memanjangkan umur dan silaturahmi dapat meluaskan rezeki. Inilah yang dimaksud syair dengan ”nasibmu memang bisa berubah".

Namun, para sufi tidak berhenti pada pembagian teologis ini. Mereka masuk lebih dalam ke wilayah batin. Syair itu melanjutkan:

”Cerita hidupmu adalah takdir Tuhanmu, tapi kebahagiaan dan kesenangan yang mengikuti cerita hidupmu, itulah nasibmu."

Artinya, peristiwa-peristiwa lahiriah—sakit, sehat, kaya, miskin, sukses, gagal—adalah wilayah takdir yang sudah ditetapkan. Tapi bagaimana respons batin kita terhadap peristiwa-peristiwa itu—apakah kita merasa bahagia atau sengsara—itulah yang disebut nasib. Dan nasib inilah yang dapat kita ubah, bukan dengan mengubah takdir, melainkan dengan mengubah cara pandang dan respons hati.

Pilihan Eksistensial: Mengikuti Takdir atau Mengikuti Nasib?

Syair kedua mempertegas pilihan eksistensial yang dihadapi manusia:

”kehidupanmu akan selalu mengikuti takdir Tuhanmu, Dan tidak pada nasibmu. Jika engkau mengikuti takdir Tuhanmu, maka sesungguhnya tujuan hidupmu kembali Pada Tuhanmu. Jika engkau mengikuti nasibmu, maka engkau mengikuti kesenangan sesaat yang semu."

Dalam perspektif tasawuf, ”mengikuti takdir Tuhan" bukanlah sikap pasrah tanpa daya. Justru sebaliknya—ia adalah penyelarasan total kehendak hamba dengan kehendak Ilahi. Para sufi menyebutnya sebagai al-fana' fi al-masyi'ah—lebur dalam kehendak Tuhan. Ibn 'Atha'illah as-Sakandari dalam kitab al-Hikam berkata: Kehendakmu yang muncul bertentangan dengan ketentuan-Nya adalah kegelapan bagimu. Kapan engkau keluar dari kehendakmu, sinar ketentuan-Nya akan terbit untukmu."

Sementara "mengikuti nasib" berarti mengejar bagian duniawi yang diinginkan nafsu. Ini adalah jebakan al-ghurur (tipu daya dunia). Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dalam Futuh al-Ghaib menjelaskan bahwa dunia adalah mata air kesenangan palsu yang memuaskan nafsu tetapi menjauhkan hati dari Allah.

Kunci Kebahagiaan: Memahami Tujuan Hidup

Syair pertama menyatakan:

”Jika engkau mengerti tujuan hidupmu, Maka hidupmu / nasibmu / kebahagiaanmu tidak akan bergantung dgn cerita hidupmu / takdir Tuhanmu. Dan engkau akan menemukan kepastian akan nasibmu."

Apa maksudnya? Dalam tradisi sufi, "mengerti tujuan hidup" berarti mencapai ma'rifah—kesadaran bahwa hidup adalah perjalanan kembali kepada Allah. Allah berfirman: "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai." (QS. Al-Fajr: 27-28). Dengan ma'rifah ini, seseorang mencapai maqam ridha. Ia menerima segala ketentuan Tuhan—baik manis maupun pahit—dengan lapang dada. Imam al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulum al-Din menjelaskan bahwa ridha adalah puncak ketenangan batin. Orang yang ridha tidak lagi menjadi budak takdir, tetapi menjadi kekasih Allah yang melihat tangan-Nya di balik setiap peristiwa.

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman: "Barang siapa yang tidak ridha dengan ketetapan-Ku dan tidak bersabar atas cobaan-Ku, maka hendaklah ia mencari tuhan selain Aku." Al-Ghazali menafsirkan: "Orang ini tidak ridha menjadikan-Ku sebagai Tuhannya sampai ia menentang takdir-Ku, maka silakan ia mencari tuhan lain yang ia mau." Ini adalah ancaman yang sangat keras bagi mereka yang tidak mampu menerima takdir dengan lapang dada.

Ridha inilah yang dimaksud syair dengan "kepastian akan nasibmu"—sebuah kepastian batin, bukan kepastian lahiriah. Hatinya tenang dalam situasi apa pun, karena kebahagiaannya bersumber dari hubungannya dengan Tuhan, bukan dari perubahan peristiwa dunia.

Buah Manis Mengikuti Takdir Tuhan

Syair kedua menggambarkan karakteristik mereka yang tujuan hidupnya kembali kepada Tuhan:

Baca juga: Siswa SD Plus Al Ishlah Bondowoso Salurkan 226 Paket Zakat untuk Warga

”Dan sesungguhnya mereka yang tujuan hidupnya kembali pada Tuhannya, maka mereka tidak akan pernah bosan untuk mencari ilmu yang berguna. Mereka juga terus melakukan kebaikan-kebaikan, Tidak berharap balasan. Dan tidak segan berkorban untuk kebenaran. Dan sungguh, mereka juga tidak akan membiarkan keturunannya berjalan tanpa arahan. Mereka akan mengajari dan mendidik dengan ilmu ketuhanan."

Pertama: Pencari Ilmu Sejati

Mereka tidak pernah bosan mencari ilmu yang berguna. Dalam Jami' al-Ushul, ilmu yang berguna (al-'ilm al-nafi') adalah ilmu yang meningkatkan ketakwaan, membersihkan hati, dan mendekatkan diri kepada Allah. Ini adalah ilmu ladunni—ilmu ilhami yang disebut dalam QS. Al-Kahf: 65. Pencari Tuhan tidak pernah puas, karena hati selalu haus akan cahaya makrifat.

Kedua: Pelaku Kebaikan Ikhlas

Mereka terus berbuat baik tanpa mengharap balasan. Ini adalah maqam al-ikhlas yang tertinggi—amal dilakukan semata-mata karena Allah, bukan karena pujian atau imbalan dunia. Dalam hadis qudsi disebutkan: "Aku adalah sekutu yang paling tidak membutuhkan sekutu... barangsiapa mengerjakan suatu amal dengan menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya." 

Ketiga: Pejuang Kebenaran

Mereka tidak segan berkorban untuk kebenaran. Ini adalah al-jihad al-akbar—perang melawan nafsu dan kesediaan menanggung penderitaan di jalan Allah. Syaikh Abu Hasan asy-Syadzili berkata: "Tanda cinta sejati adalah bersedia menderita demi yang dicintai." Pengorbanan di sini bisa berupa waktu, harta, popularitas, bahkan nyawa demi menegakkan kalimatullah.

Keempat: Pendidik Generasi

Mereka mendidik keturunan dengan ilmu ketuhanan. Ini adalah tanggung jawab spiritual seorang salik terhadap generasi penerus. Dalam Jami' al-Ushul, pendidikan keturunan adalah bagian dari hifzh al-nasl (menjaga keturunan) secara maknawi. Luqman al-Hakim—yang dijadikan contoh dalam Al-Qur'an—menasihati anaknya dengan ilmu tauhid dan adab (QS. Luqman: 13-19). Ini adalah tarbiyyah ruhiyyah (pendidikan spiritual) yang jauh lebih penting daripada warisan materi.

Bahaya Mengikuti Jalan Kesenangan Dunia

Sebaliknya, syair memperingatkan:

”Dan sebaliknya mereka yang mengikuti jalan kesenangan dunia, maka mereka membiarkan sifat-sifat binatang dan setan menguasai dirinya."

Apa maksud "sifat binatang" dan "sifat setan" ini? Dalam kitab Ihya' 'Ulum al-Din, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa setan mudah singgah di hati manusia ketika di dalamnya terdapat "makanan pokok" setan—yaitu keburukan dan penyakit hati.

Cendekiawan NU, Ulil Absor Abdalla, dalam pengajian Ihya' di Masjid An-Nahdlah PBNU menjelaskan bahwa ada dua sifat hewan dalam diri manusia: sifat anjing (mudah marah) dan sifat babi (nafsu tak terkendali, terutama terhadap makanan dan syahwat). Ketika kedua sifat ini mendominasi, setan akan betah bersarang dan sulit diusir. “Mundurnya setan," jelas Ulil, "adalah dengan cara cukup mengatakan 'pergilah engkau', maka ia akan pergi karena tidak ada sesuatu yang bisa diambil dari kita. Seperti setan pada diri kita, apabila tidak terdapat keburukan dalam diri kita, maka setan akan pergi dengan kita mengingat (berdzikir) kepada Allah".

Baca juga: Mercon Dan Takbiran

Namun, ketika hati manusia dipenuhi syahwat, dzikir pun sulit menembus pusat hati (suwaida). Orang yang dikuasai nafsu duniawi mengalami ghaflah (kelalaian spiritual) kronis. Mereka lupa pada Tuhan, lupa pada tujuan hidup, dan lupa pada tanggung jawab terhadap generasi penerus.

Antara Pasrah dan Ikhtiar: Jalan Tengah Tasawuf

Pembahasan tentang takdir dan nasib ini mengantarkan kita pada pertanyaan klasik: apakah kita harus pasrah total, atau justru aktif berikhtiar?

Syekh Abdul Qadir al-Jilani dalam kitab Misbahul Ashfiya' memberikan jawaban yang indah:

”Laki-laki hebat bukanlah pribadi yang pasrah pada takdir, akan tetapi ia yang dapat merubah takdir buruk menjadi lebih baik."

Pernyataan ini sejalan dengan firman Allah dalam Surat Ar-Ra'd ayat 11: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." Ayat ini menjadi landasan bahwa manusia memiliki peran aktif dalam perjalanan hidupnya.

Dalam kerangka tasawuf falsafi, manusia adalah hayawanun nathiq—makhluk berakal yang memiliki kebebasan untuk menentukan dan mengusahakan nasibnya. Pemikir sufi-filosof seperti Ibn Arabi dan Mulla Shadra menegaskan bahwa manusia, sebagai pancaran dari Al-Wujud al-Mutlaq (Keberadaan Absolut), dibekali potensi untuk kembali menuju kesempurnaan Ilahi melalui amal saleh, pencarian ilmu, dan penyucian batin. Namun, ikhtiar ini harus dibingkai dalam tawakkal—penyerahan hasil sepenuhnya kepada Allah. Al-Ghazali menegaskan bahwa orang yang bertawakkal bukan berarti meninggalkan usaha, tetapi setelah berusaha maksimal, ia menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan keyakinan bahwa Allah akan memberikan yang terbaik .

Kesimpulan: Meraih Kebahagiaan yang Pasti

Dua syair yang dianalisis dalam tulisan ini sejatinya menawarkan jalan keluar dari kebingungan manusia menghadapi takdir. Jalan itu adalah jalan sufistik: memahami tujuan hidup, mencapai maqam ridha, dan menyelaraskan kehendak dengan kehendak Ilahi.

Ketika seseorang telah mencapai maqam ini, ia tidak lagi tergantung pada "cerita hidup" yang ditakdirkan Tuhan. Kebahagiaannya tidak bergantung pada apakah ia sedang senang atau susah, kaya atau miskin, sehat atau sakit. Kebahagiaannya bersumber dari kedekatannya dengan Sang Sumber Kebahagiaan—Allah SWT.

Inilah yang dimaksud syair dengan "kepastian akan nasibmu"—sebuah kepastian batin yang tidak tergoyahkan oleh perubahan zaman dan peristiwa. Dalam situasi apa pun, hatinya tenang, pikirannya jernih, dan jiwanya damai.

Sebaliknya, mereka yang mengejar "nasib" dalam arti kesenangan duniawi akan terus terombang-ambing. Bahagia jika mendapat, sengsara jika kehilangan. Mereka membiarkan sifat binatang dan setan menguasai diri, karena nafsu dan ambisi telah menjadi tuhan selain Allah.

Pada akhirnya, pilihan ada di tangan kita masing-masing. Apakah kita akan menjadi hamba yang mengikuti takdir Tuhan dengan ridha dan ikhlas, ataukah menjadi budak nasib yang terombang-ambing oleh kesenangan sesaat? Jawabannya menentukan kualitas hidup kita di dunia dan kebahagiaan kita di akhirat kelak.

Seperti kata seorang sufi: "Tuhan yang menetapkan, hamba yang bersabar. Tidak ada dalam ketidakridhaan kecuali kegelisahan di dunia dan dosa di akhirat. Karena ketetapan Tuhan pasti berlaku, dan tak bisa ditolak dengan keluh kesah." Maka, mari kita jadikan setiap peristiwa—baik manis maupun pahit—sebagai tangga menuju kedekatan dengan-Nya. Karena hanya dengan itulah kita menemukan kebahagiaan yang sejati dan abadi. (red)

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru