Oleh: Hijrah Saputra
Baca juga: Jelang Puncak Mudik 2026, Dishub Bondowoso Cek Bus dan Tes Urine Sopir, 48 Armada Siap
Pengamat Sosial, alumni UIN Sunan Ampel, alumni Universitas Jember
Bondowoso, JatimUPdate.id Setiap menjelang adzan isya’, seorang pemuda bersarung dan berkaos oblong selalu datang lebih awal ke masjid. Kopiyah tidak pernah terlihat di kepalanya. Sajadah diselempangkan di pundak, menjulur hampir jatuh ke bawah.
Dari jauh tampak ia membawa kue di tangan. Sesekali ia menggigitnya sambil berjalan.
Perutnya seolah didorong ke depan. Langkah kakinya agak terbuka. Cara berjalannya seperti tidak punya rasa sungkan. Santai. Cuek. Seolah tidak merasa sedang diperhatikan orang lain.
Tidak banyak orang menegur. Rupanya jamaah sudah memahami.
Sebagian orang menyebut pemuda itu “disabilitas”. Dilihat dari cara berjalannya. Dari sikapnya yang tampak cuek. Ia jarang berbicara. Hidup seperti mengikuti ritmenya sendiri.
Namun ada hal yang menarik. Saat sholat isya dan tarawih dimulai, pemuda ini hampir selalu berada di saf paling depan.
Bahkan sebelum imam memberi aba-aba berdiri untuk tarawih, ia berdiri duluan. Seolah ia tidak memberi ruang bagi dirinya untuk terlambat.
Salat tarawih pertama sama. Salat tarawih kedua juga sama. Disiplinnya tidak berubah.
Jamaah yang awalnya hanya memaklumi, lama-lama diam-diam mulai merasa ada yang kurang pada diri sendiri. Pemuda yang dianggap “tidak biasa” itu justru lebih disiplin dalam ibadah.
Di akhir tarawih, masjid tidak sepadat biasanya. Jamaah kebanyakan sudah berusia tua. Penampilan tidak lagi menjadi soal.
Sementara sebagian yang muda, di hari-hari mendekati lebaran, mulai disibukkan dengan ke toko baju, pusat perbelanjaan, dan sejenisnya.
Berbeda dengan pemuda itu. Ia tetap datang dengan cara yang sama. Makan sambil berjalan. Sajadah tetap menjulur dari pundak. Tidak bicara.
Saat jamaah belum berdiri, ia sudah berdiri duluan. Jika terasa lama, ia melirik ke arah imam.
Seolah ada sedikit prasangka. Padahal imam sedang menunggu jamaah menyelesaikan sholat ba’diyah. Siklus itu terus berulang.
Suatu ketika pemuda itu tidak ada.
Yang menarik, seorang bapak tua justru seperti menggantikan posisi. Ia berdiri pas seperti pemuda itu berdiri. Mendahului aba-aba. Sesekali melirik imam. Menunggu agak lama sebelum akhirnya seluruh jamaah benar-benar berdiri.
Yang membedakan, bapak tua itu tidak makan sambil berjalan. Tidak juga berjalan dengan sikap cuek. Hehehe.
Suatu ketika saya bertanya kepada seorang jamaah mengenai pemuda itu. “Biarkan saja,” katanya. “Ia tidak mengganggu. Justru ibadahnya kuat. Infaq subuh juga tidak pernah lupa.”
Baca juga: Nyawa Lebih Berharga dari Kecepatan, Dishub Bondowoso Imbau Pemudik Utamakan Keselamatan
Lalu ia menambahkan dengan nada bercanda, “Kita ini yang kalah.”
Saya kemudian teringat sebuah catatan dari Azrul Ananda, putra Dahlan Iskan.
Ia pernah bercerita tentang seorang perempuan cantik. Badannya proporsional. Rambutnya terurai.
Penampilannya rapi. Tampak berpendidikan tinggi, bahkan terkesan berasal dari kalangan berada.
Tanpa banyak bicara. Tanpa ekspresi. Ia membuka bagasi di atas kursi. Sebuah barang jatuh dan mengenai kepala orang.
Tidak ada permintaan maaf. Ia kembali duduk dengan tenang. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun barangkali persoalannya tidak berhenti di sana. Kita sering memahami disabilitas sebagai sesuatu yang tampak pada tubuh. Padahal, ada disabilitas yang tidak terlihat.
Disabilitas dalam memahami orang lain. Disabilitas dalam merasakan. Disabilitas dalam menjaga etika.
Disabilitas dalam sensitivitas untuk meminta maaf. Bahkan mungkin disabilitas dalam kesungguhan beribadah.
Filsuf Max Scheler dalam The Nature of Sympathy (1913) pernah mengingatkan bahwa manusia pada dasarnya diukur dari kemampuannya merasakan orang lain.
Ketika kemampuan itu melemah, yang hilang bukan sekadar kesopanan, tetapi sesuatu yang lebih dalam dari itu.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, Surah Al-Hujurat ayat 13: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.”
Baca juga: Pemkab dan Baznas Sidoarjo Santuni 1.000 Anak Yatim
Barangkali selama ini kita keliru memahami disabilitas.
Kita mengira ia hanya soal fisik. Padahal bisa jadi, ia justru bersembunyi dalam sikap.
Pada ketidakpedulian. Pada rasa tidak bersalah. Pada perasaan selalu benar. Pada cara kita menilai orang lain tanpa benar-benar memahami.
Kita melihat kekurangan pada orang lain, namun luput melihat kekurangan dalam diri sendiri.
Mungkin, yang disebut disabilitas itu bukan hanya mereka yang tampak berbeda.
Tetapi juga kita—yang kurang peka, kurang merasa, dan terlalu mudah merasa paling benar.
Di momentum "telasan" ini, kendati kurang beberapa hari, mari kita mulai dari diri sendiri.
Melepas disabilitas dalam hati. Belajar peduli. Belajar memahami. Belajar merendahkan diri.
Saling memaafkan. Saling menguatkan. Saling membersihkan hati.
Mohon maaf lahir dan batin.
Wallahu a'lam bish showab.
Editor : Redaksi