Oleh: Hijrah Saputra
Baca juga: 'Pekerjaan Jelas' yang Tak Jelas: Atur Urbanisasi Jangan Langgar Hak Warga
Pengamat Sosial, Alumni UIN Sunan Ampel, dan Alumni Universitas Jember
Bondowoso, JatimUPdate.id - Saya asli lahir di kota metropolitan. Dulu rumah saya berada di pinggir kota. Dari daerah itu ada jalur alternatif menuju bandara udara. Kawasan tersebut juga dikenal sebagai daerah perindustrian.
Maka tidak aneh bila sebagian penduduk memperoleh penghasilan dari usaha kos-kosan.
Penghuninya kebanyakan anak desa yang bekerja di sektor industri: pabrik rokok, sepatu, hingga pabrik es krim.
Perindustrian membawa dampak pada geliat perdagangan. Toko elektronik, mebel, bahan bangunan, hingga warung makanan tumbuh pesat.
Bahkan tidak sedikit orang dari luar kota yang datang ke daerah tersebut, khususnya ketika ingin membeli barang pecah belah.
Namun saya tidak sedang bercerita tentang pesatnya ekonomi kawasan itu. Ada satu pengamatan menarik tentang bagaimana orang berdagang di tengah padatnya persaingan.
Di sepanjang jalan, toko mebel berdiri berjejer. Hampir sepuluh toko ada di satu ruas jalan. Persaingan tentu sangat ketat.
Di antara toko-toko itu, ada satu toko mebel yang luar biasa sukses. Letaknya persis di dekat rumah saya. Depan kuburan. Sepi.
Pemiliknya sendiri yang berjualan. Ia sering mengenakan kemeja yang tidak dimasukkan, celana panjang sederhana, rambut agak panjang yang disisir rapi. Sepeda motornya tampak sudah tua, tetapi tenaganya luar biasa.
Untuk mengejar pembeli yang hampir berubah pikiran, motor itu cukup bisa diandalkan. Hidupnya seolah digantungkan pada motor, toko, dan tawaran harga.
Anehnya, banyak orang menafsirkan dia sebagai orang yang “bodoh”. Mudah ditipu. Memberi harga seenaknya. Bila pembeli pergi, ia bisa saja berubah keputusan.
Mungkin itulah daya tarik pasar tradisional: selalu ada ruang untuk menawar.
Awalnya saya tidak percaya. Tetapi saya sering melihat orang datang silih berganti ke toko itu. Hampir setiap jam ada saja pembeli yang berlalu-lalang.
Barang mebel diletakkan di dalam maupun di luar toko. Sang pemilik jarang sekali duduk menemani meja kasirnya. Mondar-mandir di depan. Sepertinya kantong sakunya cukup dapat diandalkan.
Ia hanya ditemani satu orang pembantu. Hampir semua pekerjaan ia tangani sendiri: mengantar barang, menaikkan dan menurunkan barang, melayani pembeli, bahkan mengurus kehidupannya sendiri.
Semua serba sempat. Pokoknya sempat—seperti itulah prinsip hidupnya.
Yang menarik adalah cara ia menentukan harga. Hampir tidak ada banderol yang menempel pada barang jualan.
Pembeli yang menawar harga akan ia pikirkan. Selisih antara harga yang ia sebutkan dengan harga penawaran bisa mencapai lima puluh hingga dua ratus ribu rupiah.
Menarik, bukan?
Kesan “bodoh” itulah yang justru menjadi daya tarik. Bila ada pembeli menawar, ia memberi harga seenaknya. Seolah tidak ada aturan tetap. Tetapi justru di situlah pembeli merasa memiliki kesempatan.
Baca juga: Halal Bihalal Pemkab Bondowoso, Bupati Hamid Ajak Perkuat Sinergi dan Kebersamaan
Dalam dunia perdagangan tradisional, ruang tawar-menawar sering kali menjadi cara bertahan di tengah arus modernisasi. Di situlah simpati pembeli tumbuh.
Orang senang merasa berhasil menawar. Senang merasa lebih pintar dari penjual. Padahal bisa jadi sang penjual sudah memperhitungkan semuanya sejak awal.
Tidak semua orang mengajarkan ilmu seperti ini.
Ada buku yang membahas bagaimana menghadapi pandangan orang ketika dianggap bodoh. Bodoh Amat. Tetapi dalam pengalaman ini, kebodohan justru mempunyai nilai jual.
Saya sempat berpikir, mungkin yang terlihat “bodoh” hanya si penjual itu saja. Namun ketika ia menikah, kesan yang sama juga tampak pada istrinya. Ia terlihat sederhana, bahkan seolah lugu. Padahal penampilannya menarik: kulit putih, tubuh langsing, rambut hitam panjang.
Yang terjadi justru unik. Toko mebel itu semakin dipadati pengunjung.
Fenomena seperti ini sebenarnya ada dalam relung kehidupan kita. Menjadi sukses, menurut keyakinan saya, kadang bukan dengan menunjukkan kepintaran.
Strategi terlihat “bodoh” justru lebih marketable daripada terlihat terlalu pintar.
Ada ungkapan yang sering kita dengar: lebih baik di-bodoh-i daripada di-pinter-i. Kesan itu sering muncul dalam cara orang menentukan keputusan.
Saya terakhir bertemu dengannya sekitar setahun lalu. Ia menyapa saya terlebih dahulu. Ingatannya masih tajam.
Sambil berbasa-basi saya bertanya, “Mana istrimu?”
Ia menjawab santai, “Sekarang jadi sales marketing apartemen. Nomor dua terbaik di Ciputra. Ayo, Mas… kalau mau beli, temannya sendiri.”
Baca juga: Masak Bareng Gubernur, Kadindik Jatim Sapu Bersih 4 Juara Lewat Bandeng Parape
Bahasanya masih sama. Tetap terdengar sederhana, bahkan seolah “bodoh”. Namun bagi saya, ada satu hal yang terasa menarik.
Kesan bodoh yang dulu dilekatkan orang kepadanya ternyata justru mengantarkan mereka pada posisi yang lebih tinggi. Bahkan di lingkungan pengembang besar seperti Ciputra.
Di titik itu saya mulai berpikir: dalam kehidupan sosial, tidak selalu mudah membedakan mana yang benar-benar bodoh dan mana yang hanya terlihat bodoh.
Barangkali inilah yang dimaksud Erving Goffman dalam The Presentation of Self in Everyday Life (1959): hidup ini seperti panggung. Kita tidak sekadar hadir, tapi memainkan peran—mengatur kesan, menyembunyikan sebagian, menampilkan sebagian—agar orang lain melihat apa yang ingin kita tunjukkan.
Dalam sudut pandang lain, apa yang terjadi ini mengingatkan pada Herbert A. Simon dalam Administrative Behavior (1947). Ia menunjukkan bahwa keputusan manusia tidak pernah benar-benar murni rasional. Kita memilih bukan hanya karena logika, tetapi karena bagaimana situasi itu “dibingkai”—oleh persepsi, keterbatasan informasi, dan kesan-kesan yang sengaja atau tidak sengaja diarahkan.
Dalam konteks ini, pembeli merasa sedang mengambil keputusan rasional—menawar, membandingkan, memilih. Padahal bisa jadi, ruang keputusan itu sudah “diatur” sejak awal oleh cara penjual memainkan peran.
Bisa jadi, yang terlihat bodoh hanyalah seseorang yang sedang memainkan peran.
Dan tanpa sadar, kita sendirilah yang merasa memintari orang lain, padahal diam-diam sedang di-bodoh-i oleh strategi yang rapi.
Barangkali dalam kehidupan sehari-hari, kita terlalu cepat menilai siapa yang pintar dan siapa yang bodoh.
Padahal bisa jadi, yang tampak bodoh itu hanya sedang menunggu kita merasa pintar.
Wallahu a’lam bish shawab.
Editor : Redaksi