Press Release 7181/DST/UN25.4.3.3/HM/2026 Humas Universitas Jember
Dari Limbah ke Nilai Tambah: Guru Besar UNEJ Dorong Hilirisasi Kelapa di Nias
Tegal Boto, Jember, JatimUPdate.id - Universitas Jember (UNEJ) meluaskan manfaatnya. Kali ini menjangkau 2.000 kilometer dari Kampus Tegalboto.
Melalui upaya hilirisasi kelapa menjangkau Kepulauan Nias, Sumatera Utara. Di wilayah yang selama ini dikenal dengan potensi kelapanya, limbah yang kerap terabaikan mulai didorong menjadi sumber energi dan produk bernilai ekonomi.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) yang didanai Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) dan dilaksanakan pada 7-9 April 2026 lalu di Hotel Kaliki, Gunungsitoli, bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat.
Dalam kegiatan ini, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UNEJ, Prof. Dr. Ir. Soni Sisbudi Harsono, M.Eng., M.Phil., memperkenalkan pendekatan ekonomi sirkular sebagai strategi untuk menahan nilai tambah tetap berada di tingkat lokal.
“Nias memiliki potensi besar pada kelapa. Bayangkan jika satu rumah punya 10 pohon, dan ada sekitar 3.000 rumah, berarti ada kurang lebih 300.000 pohon kelapa. Selama ini limbahnya terbuang begitu saja, padahal di situlah sebenarnya peluang nilai tambahnya,” jelas Prof. Soni.
Selama ini, petani di Nias terjebak dalam pola penjualan buah mentah yang nilai ekonominya rendah. Mengubah mindset masyarakat nyatanya bukan hal mudah. Pada hari pertama, Prof. Soni mengakui adanya pesimisme dari warga.
“Saya menyadari mereka tidak mau banyak teori atau 'omon-omon'. Begitu masuk sesi praktik, antusiasme mereka langsung naik. Begitu masuk sesi praktik, antusiasme mereka langsung melonjak. Mereka belajar mengolah tempurung, sabut, hingga memproduksi cocopeat untuk media tanam urban farming seperti stroberi dan anggrek," ungkapnya.
Teknologi tepat guna yang diperkenalkan mencakup spektrum luas, mulai dari pemanfaatan daging kelapa sebagai bahan bakar alternatif kapal nelayan hingga produk inovatif Briket Wangi.
Briket ini dirancang khusus dengan aroma seperti lavender untuk memberikan nilai tambah fungsional sebagai pengusir nyamuk, yang cocok digunakan untuk keperluan kesehatan maupun industri jasa seperti spa.
"Briket wangi itu saat dibakar sudah mengeluarkan aroma, misalnya dicampur lavender agar aromanya bisa mengusir nyamuk. Sistemnya bukan seperti arang biasa, tapi lebih seperti obat nyamuk bakar untuk keperluan ruangan, spa, atau kesehatan," jelas Prof. Soni. Inovasi briket level atas ini diharapkan dapat mendongkrak ekonomi masyarakat pesisir Nias.
Di luar komoditas kelapa, Bimtek in juga membuka mata terhadap kelemahan tata niaga pertanian di Nias, terutama akibat tren Fear of Missing Out (FOMO) di kalangan petani yang gemar berganti-ganti komoditas saat harga anjlok. Salah satu yang paling terdampak adalah Pisang Kepok.
Prof. Soni menyoroti ketimpangan harga yang sangat merugikan petani.
"Satu tandan pisang di Nias hanya dihargai Rp20.000. Begitu dibawa ke Medan atau Riau, harganya bisa jadi Rp50.000 per sisir. Ini sangat merugikan petani karena mereka tidak punya pengolahan," tegasnya.
Saat ini, sampel pisang kepok Nias tengah diuji di Laboratorium FTP UNEJ untuk mengungkap kandungan gizinya. Secara karakteristik, pisang kepok dinilai cocok untuk dijadikan tepung rendah gula bagi penderita diabetes dan anak berkebutuhan khusus, Target pasarnya pun tak main-main, berpotensi menembus Batam hingga Singapura. Begitu pula dengan Gula Aren, yang selama ini lebih sering dijadikan tuak, padahal berpotensi besar masuk ke industri medis karena ditanam secara organik.
Melihat potensi yang begitu besar, Prof. Soni menekankan pentingnya keberlanjutan program ini melalui payung hukum yang resmi. Saat ini, Universitas Jember belum memiliki kerja sama formal (Memorandum of Understanding) dengan Pemerintah Kabupaten Nias.
“Sayang sekali jika momentum ini tidak berlanjut. Kami ingin UNEJ benar-benar hadir membantu masyarakat di daerah tertinggal. Harapan kami, ini segera ditindaklanjuti dengan kerja sama formal agar kolaborasi untuk mengangkat potensi Nias ini memiliki dasar hukum yang kuat, baik dalam hal penelitian maupun penerjunan mahasiswa KKN Tematik,” tegasnya.
Kepakaran Prof. Soni dalam hilirisasi limbah biomassa juga telah mendapat pengakuan internasional. Beliau baru saja berhasil mengamankan pendanaan riset dari Direct Action Program (DAP) Konsulat Jenderal Australia setelah menyisihkan ratusan pelamar lainnya.
Riset mendatang tersebut akan berfokus pada pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas di Lereng Argopuro, yang semakin memperkuat posisi UNEJ sebagai institusi yang berorientasi pada solusi nyata.
“Kami tidak ingin ilmu pengetahuan hanya berhenti di laboratorium. Proyek di Nias maupun rencana strategis kami ke depan memiliki benang merah yang sama: memanfaatkan apa yang dianggap limbah menjadi sumber ekonomi baru. Kami ingin UNEJ hadir sebagai mitra strategis bagi daerah yang ingin maju melalui inovasi teknologi pertanian,” pungkasnya. (mmt/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat