Oleh: Nonot Sukrasmono,
Seniman, Pendidik dan budayawan Tinggal di Sidoarjo
Baca juga: Perpaduan Antara Seniman visioner dan Tersetruktur
Surabaya, JatimUPdate.id - Sebagai kota metropolitan kedua di Indonesia, memiliki rekam jejak kesenian yang unik, berkarakter "Arek" yang lugas, kritis, dan egaliter. Kesenian di Surabaya tidak pernah benar-benar mati, namun perjalanannya mengalami pasang surut yang signifikan, terutama jika dibandingkan dengan pusat seni rupa nasional seperti Jakarta atau Yogyakarta.
Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia dan dikenal sebagai "Kota Pahlawan", memiliki sejarah panjang perkembangan kesenian yang unik. Sebagai melting pot kebudayaan (Eropa, Cina, Arab, dan pribumi), Surabaya pernah menjadi pusat pertunjukan tradisional yang hidup, ditandai dengan populernya Ludruk dan tari tradisional.
Namun, perkembangan kesenian di Surabaya saat ini menunjukkan dinamika yang kompleks. Meskipun pertunjukan tradisional seperti Ludruk dan Tari Remo masih ada, secara umum perkembangan seni rupa di Surabaya dinilai masih tertinggal dibandingkan kota-kota besar lain.
Kesenian di Surabaya, khususnya seni rupa, menghadapi tantangan serius yang menyebabkan penurunan aktivitas. Faktor penyebab mundurnya kesenian ini antara lain adalah tingginya biaya untuk berkarya dan pentas, kurangnya regenerasi, serta dominasi budaya populer yang membuat apresiasi masyarakat terhadap seni tradisional dan seni rupa konvensional menurun. Selain itu, pasar seni rupa di Surabaya dinilai tidak selalu stabil, di mana kolektor kian selektif sehingga seniman kesulitan
1. Perkembangan Kesenian di Surabaya Masa Keemasan hingga Kini
Era Awal & Sanggar (1950-an - 1970-an)
Pada masa pasca-kemerdekaan, Surabaya sempat memiliki semangat sanggar yang kuat. Kelompok seperti AKSERA (Akademi Seni Rupa Surabaya) pada tahun 1967-1972 berperan penting dalam publikasi seni dan mendidik mental seniman.
Era Dewan Kesenian Surabaya (1970-an - 1980-an)
Berdirinya Dewan Kesenian Surabaya (DKS) pada 1971 menjadi motor penggerak kreativitas, ditandai dengan pameran-pameran besar seperti "Pameran Perkembangan Seni Lukis Surabaya". Bengkel Muda Surabaya juga menjadi wadah ekspresi kaum muda.
Era Kontemporer & Tantangan (1990-an - Sekarang)
Seni rupa Surabaya perlahan bergeser ke arah kontemporer. Meskipun sempat terasa tertinggal, pergerakan seni rupa tetap ada, ditandai dengan munculnya event seperti ARTSUBS 2025 yang berupaya menempatkan Surabaya kembali dalam peta seni rupa kontemporer nasional.
2. Faktor Penyebab Kemunduran Seni Rupa di Surabaya
Meskipun kota besar, seni rupa Surabaya kerap dianggap tertinggal dibanding kota lain. Beberapa faktor penyebabnya antara lain:
a. Dominasi Seni Pertunjukan
Surabaya lebih dikenal dengan seni pertunjukan seperti Ludruk. Fokus apresiasi masyarakat lebih besar pada seni tradisional yang hidup, sehingga seni rupa murni seringkali kurang mendapat panggung.
b. Ketidakpastian Pasar dan Kolektor
Pasar seni rupa di Surabaya dinilai kurang agresif. Kolektor di Surabaya cenderung selektif dan tidak sebanyak di Jakarta atau Yogyakarta.
c. Kurangnya Kolektivitas Konsisten
Pola pergerakan seni rupa yang kurang terstruktur dibandingkan wilayah lain, serta seringkali seniman bergerak sendiri-sendiri tanpa dukungan kolektif yang berkelanjutan.
d. Fokus Industri yang Tinggi
Sebagai kota dagang dan industri, orientasi masyarakat lebih pada aktivitas ekonomi, membuat ruang untuk apresiasi seni murni seringkali terpinggirkan.
3. Minimnya Media dalam Mendorong Perkembangan Seni Rupa Surabaya
Salah satu masalah utama adalah lemahnya publikasi dan dokumentasi, yang mengakibatkan kesenian Surabaya kurang terdengar gaungnya.
a. Kurangnya Ruang Galeri dan Publikasi
Ruang untuk memamerkan dan mempublikasikan karya seni rupa secara profesional masih minim. Galeri seni rupa, seperti Orasis, ada namun tidak tersebar luas.
Baca juga: Ziarah Seni Modern dan Sosok Patron Seni Hendra Hadiprana
b. Minimnya Kritikus dan Jurnalis Seni
Jarang ditemukan media lokal maupun nasional yang secara khusus dan konsisten mengangkat perkembangan seni rupa Surabaya dalam bentuk kritik seni maupun ulasan mendalam.
c. Ketergantungan pada Media Sosial
Banyak seniman yang hanya mengandalkan media sosial pribadi, yang seringkali tidak cukup untuk membangun narasi seni rupa kota secara komprehensif atau menarik perhatian khalayak luas (kolektor/kurator nasional).
d. Kurangnya Dokumentasi Tertulis
Minimnya buku, katalog, atau jurnal yang mendokumentasikan sejarah dan perkembangan seni rupa Surabaya membuat perkembangan seni tidak terdokumentasi dengan baik bagi generasi baru.
Peran Media
Perkembangan kesenian di Surabaya memiliki sejarah yang dinamis, mulai dari kesenian tradisional yang berakar kuat hingga seni rupa kontemporer, namun mengalami tantangan serius terkait eksistensi dan eksposur.
Peran media dalam hal ini dibutuhkan secara kontinyu dan sistematik didalam mengekspous ekspresi karya paraseniman lukis.
1. Perkembangan Kesenian di Surabaya
Seni Pertunjukan Tradisional
Ludruk merupakan kesenian khas Surabaya yang tumbuh dari kehidupan rakyat, dengan Kidungan Jula-Juli yang ikonik. Selain itu, terdapat Tari Remo dan Gulat Okol.
Seni Rupa (Lampu Hijau dan Kontemporer)
Seni rupa di Surabaya mengalami fase konsolidasi dan akselerasi, dengan komunitas yang terus berusaha hidup di tengah pasar yang tidak pasti. Pameran seperti ARTSUBS 2025 menunjukkan adanya usaha untuk menjadikan Surabaya pusat seni rupa kontemporer.
Sejarah Sanggar
Pada tahun 1967-1972, AKSERA (Akademi Seni Rupa Surabaya) memiliki peran penting dalam sejarah seni rupa, mengutamakan pendidikan mental sanggar.
Revitalisasi Gedung Budaya
Pemerintah Surabaya berupaya menghidupkan kembali seni melalui revitalisasi tempat seperti Balai Pemuda.
Baca juga: Jejak Ingatan Arsitek dan Kolektor Seni Hendra Hadiprana dalam Pameran Retrospeksi Napak Tilas Seni
2. Faktor Penyebab Mundurnya Kesenian di Surabaya
Kurangnya Ruang Kreatif dan Fasilitas: Seniman Surabaya sering mengeluhkan minimnya ruang pameran atau fasilitas pertunjukan yang memadai, sehingga menghambat kreativitas.
Minimnya Apresiasi dan Pasar:
Seni rupa kontemporer Jawa Timur seringkali kurang mendapat sorotan nasional dan pasar lokal belum sekuat Yogyakarta atau Jakarta.
Pergeseran Budaya dan Teknologi
Kesenian tradisional seperti ludruk mengalami penurunan pamor karena kalah bersaing dengan hiburan modern dan teknologi digital.
Faktor Politik dan Keamanan
Situasi yang tidak kondusif, seperti aksi massa, pernah menyebabkan pameran seni besar (ARTSUBS 2025) ditutup lebih awal, merugikan secara ekonomi dan eksposur.
3. Minimnya Media dalam Mendorong Seni Rupa di Surabaya
Kurang Eksposur Nasional
Seni rupa kontemporer di Surabaya cenderung minim sorotan dari media arus utama nasional, sehingga potensi seniman lokal tersembunyi.
Minimnya Dokumentasi dan Kritik Seni
Kurangnya penerbitan buku, majalah seni, atau artikel kritis di media massa lokal yang membahas perkembangan seni rupa secara mendalam.
Keterbatasan Media Spesialis
Belum banyak platform atau media digital yang khusus didedikasikan untuk mendokumentasikan, mengulas, dan mempromosikan kegiatan seni rupa di Surabaya secara konsisten.
Fokus Media pada Berita Sensasional
Media seringkali lebih fokus pada berita umum/politik daripada liputan mendalam mengenai perkembangan kesenian.
Meskipun demikian, semangat seniman di Surabaya, seperti melalui pameran kolektif dan revitalisasi ruang publik, masih menjaga denyut kesenian tetap hidup.
Kesimpulan
Kota Surabaya memiliki potensi seniman yang besar, namun seni rupa Surabaya seringkali "tersembunyi" di balik hiruk pikuk kota industri.
Kurangnya media publikasi yang intensif membuat seni rupa di kota ini lambat dalam mendapatkan apresiasi yang layak, menjadikan kolaborasi antara seniman, pemerintah, dan media mutlak diperlukan untuk mengangkat kembali seni rupa Surabaya. (*)
Editor : Redaksi