Pertanda Kekuatan Global AS Meredup: Di Ambang Interregnum?

Reporter : Yuris. T. Hidayat
Agus Trihartono

Oleh: Agus Trihartono. Dosen Hubungan Internasional Universitas Jember; Rektor UI Cordoba, Banyuwangi. 
 
JatimUPdate.id - Perubahan tatanan dunia tidak selalu hadir dengan ledakan besar. Kadang justru sebaliknya. Ia bergerak melalui peristiwa yang tampak biasa, konflik yang saling dibalas, ketegangan yang terasa jauh. 

Dari perseteruan paling mutakhir, konflik Amerika Serikat (AS)-Israel versus Iran, ketika Teheran meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di kawasan Teluk, dan respons AS yang muncul tidak sepenuhnya memulihkan efek gentar, yang kita saksikan bukan sekadar eskalasi perang. Ada sesuatu yang sedang bergeser, lebih dalam dari yang terlihat. AS sebagai kekuatan global tampaknya sedang mengalami kemunduran relatif. 
 
Memang, tanda-tanda kemunduran itu tidak selalu tampak di permukaan. Ia bekerja pelan, mengubah cara kekuatan dibaca dan kepercayaan dibentuk. Kita tampaknya sedang menyaksikan momen ketika sebuah kekuatan besar masih berdiri dan tidak runtuh, tetapi perlahan kehilangan kemampuannya menentukan arah dunia sendirian. Bukan karena ia tiba-tiba melemah, melainkan karena daya pengaruhnya tidak lagi bekerja seperti sebelumnya. Kekuatan lamanya belum benar-benar memudar, tetapi juga tidak lagi utuh. Kita mungkin sedang memasuki sebuah fase baru tatanan dunia.
 
Menyimak ke belakang, Paul Kennedy dalam buku klasiknya The Rise and Fall of the Great Powers (1987) mengingatkan bahwa kekuatan besar jarang runtuh secara tiba-tiba. Yang lebih sering terjadi justru pelemahan yang berjalan pelan, ketika ambisi global melampaui kapasitas ekonomi dan politik yang menopangnya.
 
Dilihat dari dua sudut ini, keberadaan AS dalam konflik hari ini terasa berbeda. Ia bukan sekadar peristiwa. Ia lebih menyerupai gejala, bahkan bisa jadi sebuah pertanda.
 
AS, tentu saja, masih kuat. Kekuatan militernya tetap dominan dalam banyak aspek. Tetapi kekuatan tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimiliki, melainkan juga oleh bagaimana ia dipercaya. Keterlibatan panjang AS di Afghanistan dan Irak menyisakan pertanyaan kemenangan yang belum sepenuhnya terjawab. Kini, dalam konfrontasi dengan Iran, yang diuji bukan hanya militer, tetapi kredibilitas. Dunia unipolar AS sangat mungkin sedang dalam tahap awal menuju akhir.

Baca juga: Gelombang Demonstrasi “No Kings” Menggema, Jutaan Massa Protes Trump di AS dan Eropa

Di Timur Tengah, perubahan itu memang tidak selalu terlihat mencolok, tetapi arahnya jelas. Arsitektur keamanan yang selama puluhan tahun bertumpu pada AS mulai terasa longgar. Negara-negara Teluk tidak lagi sepenuhnya bergantung pada Washington. Mereka mulai membuka ruang bagi China sebagai mitra ekonomi, bahkan perlahan sebagai penyeimbang. Iran bergerak memperluas pengaruhnya melalui jaringan regional. Turki tampil lebih percaya diri. Rusia tetap hadir di kawasan.
 
Tetapi mungkin yang lebih penting bukan sekadar siapa mendekat ke siapa. Ada proses yang lebih senyap sedang berlangsung, erosi kredibilitas.


Fase menuju interregnum 

Baca juga: Amerika Menjual Perang, Arab Ditagih Tunai

Hegemoni tidak hanya berdiri di atas kekuatan militer. Ia bertahan karena kepercayaan, pada keyakinan bahwa komitmen akan ditepati. Ketika serangan Iran menyasar kepentingan dan pangkalan militer AS di negara-negara Teluk, dan respons yang muncul tidak sepenuhnya menghasilkan efek jera, yang terdampak bukan hanya posisi strategis. Reputasi ikut tergerus. Apakah AS masih kredibel sebagai penjamin keamanan kawasan?
 
Dalam politik global, reputasi sering kali bekerja lebih keras daripada kekuatan itu sendiri.
 
Kredibilitas yang melemah jarang berhenti pada satu titik. Ia merambat, mengikis kepercayaan, membuat aliansi terasa kurang pasti, lalu mendorong negara-negara untuk meninjau ulang posisinya. Tidak selalu melalui keputusan besar. Kadang hanya berupa langkah kecil, membuka komunikasi baru, atau mengurangi ketergantungan.

Dalam catatan lama yang kemudian banyak dikutip, Antonio Gramsci (1930) menyebut fase yang disebut interregnum, masa peralihan yang ganjil ketika kekuatan yang lama belum sepenuhnya hilang, sementara yang baru belum terbentuk. Ia melihatnya sebagai masa paling rawan, ketika otoritas lama kehilangan daya ikatnya, tetapi legitimasi baru belum juga hadir. Dalam ruang seperti inilah ketidakpastian bukan sekadar kondisi, melainkan menjadi bagian dari cara dunia bekerja.
 
Situasi seperti ini tidak pernah benar-benar stabil. Ia tampak “tenang” di permukaan, tetapi menyimpan kegelisahan yang sulit diukur. Perubahan besar sering kali bermula dari hal-hal semacam itu.
 
Apa yang terlihat hari ini, terutama di Timur Tengah, mengarah pada tatanan yang tidak lagi bertumpu pada satu pusat kekuatan. Amerika tetap penting, tetapi tidak lagi menentukan sendirian. China, Rusia, Turki, India dan Iran hadir mulai lebih menonjol dibanding beberapa waktu sebelumnya.
 
Multipolaritas, paling tidak di kawasan, dalam taraf tertentu tampaknya mulai terbentuk.
 
Namun dunia multipolar tidak otomatis stabil. Tanpa kekuatan dominan yang menetapkan aturan, tatanan global menjadi lebih cair. Aliansi mudah berubah, kepentingan bergeser, dan kepastian semakin terbatas. Hilal atas fase interregnum dalam taraf tertentu sudah mulai kelihatan.
 

Baca juga: Geopolitik dan Alasan Israel Amerika Menyerang Iran

Peluang Baru bagi Indonesia?
 
Bagi Indonesia, situasi ini membuka peluang sekaligus tantangan.
 
Di satu sisi, ruang gerak sejatinya semakin luas. Indonesia tidak harus “terikat” pada satu poros. Hubungan ekonomi dengan China dapat diperkuat, kerja sama keamanan dengan Amerika tetap dijaga, dan jejaring dengan kawasan lain diperluas.
 
Di sisi lain, tekanan kepada Indonesia untuk memilih tidak sepenuhnya hilang. Ia justru berubah bentuk, lebih halus, lebih sulit dikenali, melalui insentif, kedekatan, dan kepentingan.
 
Dalam konteks ini, prinsip bebas aktif perlu dibaca ulang. Ia tidak boleh dipahami sebagai netralitas pasif. Ia menuntut strategic autonomy, kemampuan menjaga kemandirian di tengah keterlibatan.
 
Tetapi pada ujungnya, semua kembali pada kekuatan domestik. Tanpa fondasi ekonomi yang kokoh, ruang manuver akan terbatas. Diplomasi memerlukan dukungan kapasitas, dan kedaulatan membutuhkan daya tahan ekonomi.
 
Karena itu, membaca perubahan global tidak bisa berhenti pada analisis. Ia harus diterjemahkan menjadi langkah konkret, penguatan industri, pengembangan teknologi, pembangunan SDM dan pendidikan, serta pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
 
Konflik AS–Israel dan Iran bukan sekadar peristiwa jauh. Ia mencerminkan sesuatu yang lebih luas. Dunia lama tidak runtuh sekaligus, tetapi perlahan kehilangan daya ikatnya.
 
Struktur lama mungkin masih terlihat bertahan. Aliansi tetap berjalan, pangkalan militer masih berfungsi, dan retorika kekuatan terus diulang. Namun di bawah permukaan, pergeseran itu tidak pernah benar-benar berhenti. Ia bergerak pelan, hampir tak terdengar, tetapi terus mengubah arah.
 
Yang paling mendasar pada akhirnya, sejarah tidak pernah menunggu. Ia tidak selalu datang dengan tanda yang terang. Ia acap kali bergerak senyap, melalui retakan-retakan kecil yang lama diabaikan. Yang berbahaya bukan mereka yang keliru membaca arah perubahan, tetapi mereka yang tidak merasa perlu membacanya sama sekali. Indonesia, dalam dunia yang sedang bergeser ini, tidak hanya dituntut untuk hadir, tetapi juga untuk memahami. (*)

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru