Blitar, JatimUPdate.id — Kegiatan Halal Bihalal Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kabupaten Blitar yang diselenggarakan di Kampung Coklat pada Sabtu (11/4/2026) tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga forum strategis untuk merumuskan arah kontribusi alumni HMI dalam pembangunan daerah.
Baca juga: Kunjungi Sumbersuko Wagir, Komisi IV DPR Dorong Swasembada Bawang Putih
Momentum ini diperkuat melalui Stadium General bertema “Reaktivasi Peran Strategis KAHMI: Ketahanan Pangan sebagai Solusi Masa Depan Blitar dan Indonesia”.
Kegiatan tersebut menghadirkan Anas Urbaningrum sebagai narasumber utama.
Dikenal sebagai tokoh nasional asal Blitar yang pernah menjabat Ketua Umum PB HMI periode 1997-1999 dan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas menyampaikan pentingnya menempatkan ketahanan pangan sebagai agenda prioritas dalam pembangunan berkelanjutan.
Ia menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga menyangkut stabilitas sosial, kemandirian ekonomi, dan kedaulatan bangsa.
Oleh karena itu, diperlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan berbagai pihak.
“Ketahanan pangan adalah fondasi. Jika ini kuat, maka sektor lain akan mengikuti. Tapi ini tidak bisa dikerjakan sendiri, harus dengan kolaborasi,” ujar Anas di hadapan peserta.
Dalam pemaparannya, ia menguraikan pentingnya penguatan modal sosial sebagai kekuatan utama KAHMI.
Modal tersebut terdiri dari bonding social capital, yakni kekompakan internal yang lahir dari proses kaderisasi, serta bridging social capital, yaitu kemampuan menjalin jejaring lintas sektor, lintas kelompok, dan lintas kepentingan.
Menurutnya, pluralitas yang ada di tubuh KAHMI justru menjadi kekuatan strategis. Keberagaman latar belakang anggota memungkinkan organisasi ini memiliki akses dan pengaruh di berbagai lini, baik pemerintahan, masyarakat, maupun dunia usaha.
Anas juga menekankan bahwa nilai kebenaran tidak boleh berhenti pada tataran konsep. “Kebenaran itu harus diterjemahkan menjadi kebaikan dan kemaslahatan. Ukurannya jelas, sejauh mana memberi manfaat bagi masyarakat luas,” tegasnya.
Dalam konteks Blitar, ia mendorong agar ketahanan pangan dikembangkan melalui penguatan potensi lokal, termasuk optimalisasi peran desa, pemberdayaan petani, serta sinergi dengan program pemerintah daerah.
Baca juga: Islam " Mazhab HMI"
Ia turut mengajak peserta untuk belajar dari pengalaman sejarah nasional.
Pada masa Soeharto, Indonesia dinilai mampu membangun fondasi ketahanan pangan dalam kondisi stabil.
Sementara pada era Soekarno, fokus bangsa masih berada dalam fase revolusi sehingga pembangunan belum berjalan optimal.
Selain itu, Anas menyinggung pengalaman Iran yang tetap mampu berkembang meskipun menghadapi tekanan global.
Ia menilai, keberhasilan tersebut tidak lepas dari konsistensi dalam menerjemahkan nilai ideologis menjadi kebijakan dan aksi nyata yang dijalankan secara disiplin oleh seluruh elemen negara.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa setiap daerah tidak harus meniru model keberhasilan secara mentah.
“Tidak semua harus menjadi seperti Kampung Coklat. Tapi yang harus diambil adalah saripatinya—prosesnya, ketekunannya, dan semangatnya,” ungkapnya.
Baca juga: Zulhas: Bangsa Kuat Dimulai dari Ketahanan Pangan
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Bambang Dwi Purwanto yang mewakili Bupati Blitar, Agus Machfud Fauzi, Pimpinan DPRD Kabupaten Blitar Susi Nalurita, jajaran Kepala OPD Kabupaten Blitar, serta para pejabat dan alumni HMI dari berbagai sektor.
Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan kuatnya jejaring KAHMI sebagai kekuatan sosial yang strategis dalam pembangunan daerah.
Forum ini juga menjadi ruang konsolidasi gagasan untuk memperkuat peran alumni HMI dalam menjawab tantangan masa depan.
Melalui kegiatan ini, KAHMI Kabupaten Blitar diharapkan mampu mengambil peran lebih aktif dalam mendorong ketahanan pangan berbasis potensi lokal.
Dengan dukungan kapasitas intelektual dan jejaring yang luas, KAHMI diyakini dapat menjadi motor penggerak dalam menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat serta memperkuat kemandirian daerah menuju Indonesia yang lebih berdaulat. (rio/yh)
Pewarta Gunawan Febrianto TAPM Blitar.
Editor : Yuris. T. Hidayat