Blitar, JatimUPdate.id -
Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Kabupaten Blitar menggelar kegiatan halal bihalal yang dirangkaikan dengan stadium general pada Sabtu (11/4/2026) di Kampung Coklat, Kademangan, Kabupaten Blitar.
Kegiatan ini mengusung tema “Reaktivasi Peran Strategis KAHMI: Ketahanan Pangan sebagai Solusi Masa Depan untuk Blitar dan Indonesia” dan menghadirkan Anas Urbaningrum sebagai pemateri utama.
Acara ini dihadiri ratusan peserta yang terdiri dari anggota dan alumni HMI se-Blitar Raya, baik dari Kota maupun Kabupaten Blitar.
Dalam pengantarnya, Ketua Umum HMI Cabang Blitar, Aziz, menyoroti tantangan nyata dalam dinamika pengkaderan dan kepemudaan hari ini.
Ia menegaskan bahwa salah satu tantangan terbesar generasi muda adalah disrupsi sosial yang dipicu oleh arus algoritma digital.
“Generasi muda harus tetap menjaga kedaulatan berpikir di tengah gempuran algoritma. Jika tidak hati-hati, kita hanya akan akrab dengan ‘pembenaran’ dan kehilangan arah dalam mencari kebenaran,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia, Juni Arifin, menyampaikan harapannya agar kegiatan halal bihalal ini tidak sekadar menjadi ajang temu kangen, tetapi juga mampu mempererat silaturahmi lintas latar belakang alumni—baik dari segi disiplin ilmu, profesi, maupun asal cabang—yang kini berdomisili di Blitar Raya.
Ia juga menambahkan bahwa format kegiatan tahun ini dirancang berbeda dari sebelumnya.
Selain menjadi ruang silaturahmi, kegiatan ini diperkaya dengan stadium general guna menjaga tradisi intelektual dalam tubuh HMI, baik bagi kader aktif maupun alumni.
Baca juga: Kirab Ketupat Kampung Coklat Blitar Sedot Antusiasme, Tradisi Religi dan Budaya Kian Kuat
Dalam pemaparannya, Anas Urbaningrum menyoroti isu ketahanan pangan dari dua aspek utama, yakni kecukupan pangan dan diversifikasi pangan.
Menurutnya, persoalan mendasar dalam politik pangan di Indonesia terletak pada kesenjangan antara kebijakan dan implementasi di lapangan.
Namun demikian, ia tidak semata-mata melihat persoalan ini sebagai domain pemerintah.
Ia menekankan pentingnya peran KAHMI sebagai bagian dari civil society, baik sebagai bonding maupun bridging dalam masyarakat.
“Peran itu bisa dijalankan melalui penguatan ideologis. Dalam konteks ke-HMI-an, pilihan ideologis kita adalah teokrasi, dengan pesan utama yang membumi berupa keadilan sosial,” jelasnya.
Baca juga: Islam " Mazhab HMI"
Ia menegaskan bahwa relevansi ketahanan pangan dapat diuji dari sejauh mana masyarakat memiliki akses terhadap pangan dengan harga yang terjangkau, serta bagaimana upaya diversifikasi pangan terus diperjuangkan.
Di akhir pemaparannya, yang akrab disapa Cak Anas ini memberikan pesan khusus kepada kader HMI yang masih aktif.
Menanggapi kekhawatiran terkait disrupsi generasi muda, ia menekankan pentingnya menjaga pola hubungan antara kader dan senior.
“Relasi yang harus dibangun adalah senior partner, bukan hubungan patron-klien yang cenderung feodal—yang hanya melahirkan kepatuhan tanpa daya kritis,” tegasnya.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang silaturahmi pasca-Idulfitri, tetapi juga menjadi momentum reflektif untuk menghidupkan kembali peran strategis KAHMI dalam menjawab persoalan kebangsaan, khususnya di bidang ketahanan pangan. (rio/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat