Lawan Gunungan Sampah dari Desa: Aksara Project Mahasiswa UNEJ Tawarkan Solusi Zero Waste Berbasis AI-IoT

Reporter : M Aris Effendi
Poster Aksara Project: Teknologi Automasi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Aplikasi Pintar Berbasis AI-IoT sebagai Solusi Aksi Zero Waste Indonesia dalam Pencapaian Konsep Smart Village

 

Jember, JatimUPdate.id - Masalah sampah rumah tangga di Indonesia masih menjadi tantangan pelik yang belum menemui titik terang.

Baca juga: Abul Choir, Cucu Gubernur Pertama NTB Dilantik Jadi Sekdaprov NTB

Kurangnya kesadaran memilah sampah sejak dari rumah mengakibatkan beban TPA (Tempat Pembuangan Akhir) kian meluap, memicu pencemaran lingkungan hingga emisi gas berbahaya.

Fenomena inilah yang memantik keresahan lima mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA Universitas Jember (UNEJ) untuk melahirkan Aksara Project.

Inovasi yang digarap oleh Aditya Satya Utama, Wilda Robiah Salsabila, Ratih Eka Saputri, Shinta Ayu Febrianti, dan Nahila Hunafa Qudsi ini hadir sebagai jawaban atas kerumitan pemilahan sampah manual.

Melalui integrasi teknologi automasi dan Artificial Intelligence (AI), mereka mencoba memutus rantai masalah sampah langsung dari sumbernya: rumah tangga dan lingkungan desa.

Aditya Satya Utama, ketua tim, menjelaskan bahwa sistem ini terdiri dari Aksa Bin (tempat sampah pintar) dan aplikasi MyAksa.

Aksa Bin dilengkapi dengan teknologi smart vision untuk mengenali jenis sampah secara otomatis dan pneumatic arm untuk memilahnya ke kompartemen yang tepat tanpa sentuhan tangan manusia.

Sementara itu, MyAksa berfungsi sebagai pusat kontrol pengguna untuk memantau kondisi sampah secara real-time sekaligus mendapatkan rekomendasi pengelolaan berbasis AI.

Satya menegaskan bahwa "Aksara Project" bukan sekadar alat, melainkan upaya mengubah perilaku masyarakat melalui konsep Smart Village.

“Keresahan utama kami sebenarnya berangkat dari kondisi nyata di Indonesia, di mana sampah rumah tangga itu menjadi penyumbang terbesar, tapi pengelolaannya masih sangat minim terutama dari sisi pemilahan sejak awal," ungkapnya.

Secara khusus, dijelaskan kembali konsep pengolahan sampah tersebut.

Baca juga: Sidak TPS, Bupati Sidoarjo Dorong Pembenahan Total Sistem Pengelolaan Sampah

"Kami melihat banyak orang ingin hidup lebih bersih dan peduli lingkungan, tapi terkendala cara memilah yang benar atau merasa itu ribet. Akhirnya, semua sampah tercampur dan berakhir di TPA. Makanya kami mengangkat konsep Zero Waste, karena kami ingin mengurangi sampah sejak dari sumbernya, bukan hanya mengelola di akhir," ujarnya.

Lebih dalam dijelaskan kembali tahapan pengelolaan sampah itu.

"Lalu kami kombinasikan dengan konsep Smart Village, karena kami melihat desa memiliki potensi besar untuk menjadi titik awal perubahan, apalagi kalau didukung teknologi yang tepat,” jelas Satya.

Dalam proses pengembangan dan presentasi ide, Satya dan tim sangat mengedepankan penguasaan substansi daripada sekadar teknik hafalan.

Strategi ini terbukti ampuh saat mereka harus berhadapan dengan dewan juri dan peserta dari puluhan universitas lainnya.

“Strategi utama yang kami gunakan adalah memastikan bahwa kami benar-benar memahami substansi ide yang kami ajukan, bukan sekadar menghafal materi. Beberapa langkah yang kami lakukan seperti mempersiapkan kemungkinan pertanyaan dengan melakukan simulasi sesi tanya jawab, memperkuat argumen dengan data, fakta, dan landasan logis, menyampaikan jawaban secara tenang, runtut, dan jelas, bersikap jujur apabila terdapat hal yang belum sepenuhnya kami kuasai, disertai dengan alternatif pemikiran yang relevan. Dengan pendekatan tersebut, kami dapat menjaga konsistensi dan kekuatan argumen selama sesi diskusi,” ungkapnya.

Baca juga: Inovasi INVORA dan SEMAR Antarkan Tiga Mahasiswa Sistem Informasi UNEJ Sabet Dua Gelar Juara Nasional

Ke depan, tim berencana menjadikan Aksara Project sebagai program berkelanjutan melalui kolaborasi dengan berbagai instansi atau pengembangannya menjadi startup sosial.

“Kami tidak mau Aksara Project cuma sebatas lomba saja. Kami merencanakan terkait implementasi dan langkah strategis apa saja ke depannya. Pertama bisa dari skala kecil dulu di lingkungan sekitar (misalnya di sekolah atau komunitas lokal) sebagai pilot project. Setelah itu, kita ingin mengembangkan fitur atau sistemnya supaya lebih siap digunakan secara luas. Kalau memungkinkan, kita juga ingin kolaborasi dengan pihak kampus atau instansi terkait agar dampaknya lebih besar. Bahkan ke depan, kita berharap bisa dikembangkan jadi program berkelanjutan atau startup sosial,” imbuh Satya.

Sebagai penutup, tim mengajak seluruh mahasiswa Universitas Jember untuk terus berinovasi dan tidak takut menemui kegagalan di awal langkah.

“Jangan nunggu siap untuk mulai, karena kita nggak akan pernah benar-benar siap. Jangan takut kalah, karena kalah itu bagian dari proses menuju menang. Ide brilian yang kalian punya tidak untuk dilamunkan semata, kita harus berani menjadi agen of change. Berani mencoba itu sudah setengah jalan menuju prestasi, karena sebenarnya yang membedakan bukan siapa yang paling hebat, tapi siapa yang berani mulai dan bertahan sampai akhir,” pungkasnya.

Inovasi ini berhasil mengantarkan tim UNEJ menyabet penghargaan Honorable Medal dan Favorite Poster dengan inovasi bertajuk “Aksara Project: Teknologi Automasi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Aplikasi Pintar Berbasis AI-IoT sebagai Solusi Aksi Zero Waste Indonesia dalam Pencapaian Konsep Smart Village” dalam ajang nasional Ignite Future Fest 2026 yang diselenggarakan oleh Futura Innovation Hub di Bandung, 4 April 2026 lalu. (rilis/ries/mmt)

 

Editor : Miftahul Rachman

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru