Oleh : Rio Rolis
Baca juga: Perjalanan Terakhir
Jurnalis JatimUPdate.id
Blitar, JatimUPdate.id - Di rumah, ayahnya selalu mengajarkan bahwa agama harus kembali kepada sumbernya. Tanpa banyak tambahan, tanpa lapisan yang tidak perlu. Al-Qur’an, sunnah, dan cara memahami keduanya dengan bersih.
Kalimat itu tidak pernah terasa sebagai perintah, lebih seperti kebiasaan yang diwariskan pelan-pelan, seperti cara duduk yang benar atau cara menyimpan kitab di rak kayu.
Ia tumbuh dengan itu.
Ia belajar mengaji sejak kecil, dengan tajwid yang rapi, dengan suara yang pelan tapi jelas. Guru ngajinya sering berkata, “kalau membaca Al-Qur’an, jangan tergesa-gesa, biarkan hurufnya hidup di lidahmu.” Ia mengingat itu sampai dewasa, bahkan ketika banyak hal dalam hidupnya mulai berubah bentuk.
Namun hidup tidak pernah tinggal di satu rumah saja.
Sekarang ia tinggal di sebuah kampung yang berbeda dari tempat ia dibesarkan. Kampung itu tidak pernah sunyi dari kegiatan keagamaan yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Ada yasinan malam Jumat, ada tahlilan ketika ada yang meninggal, ada doa bersama ketika musim panen datang atau ketika seseorang hendak berangkat jauh.
Awalnya ia hanya datang sebagai tamu.
Duduk di sudut, mengikuti dengan cara yang paling aman: diam.
Ia tidak menolak, tapi juga tidak sepenuhnya ikut larut. Ia membaca Al-Fatihah bersama yang lain, mengangguk saat doa dipanjatkan, lalu pulang dengan langkah yang biasa saja. Di rumah, ia kembali kepada kebiasaan lamanya: shalat dengan tenang, bacaan yang ia jaga agar tidak salah, gerakan yang ia pastikan tidak terburu-buru.
Di situ ia merasa paling dekat dengan dirinya sendiri.
Ada semacam ketertiban yang membuatnya tenang. Tidak banyak suara, tidak banyak penjelasan. Hanya ia dan Tuhan, dalam ruang yang tidak terlalu luas, tapi cukup.
Di luar itu, hidup kampung terus berjalan.
Tetangga-tetangganya tidak pernah memandang agama sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Ia melihat bagaimana doa menjadi bagian dari cara mereka saling menjaga. Ketika ada yang sakit, orang-orang datang bukan hanya membawa kabar, tapi juga makanan. Ketika ada yang meninggal, rumah itu tidak pernah benar-benar sepi selama beberapa hari.
“Manungsa dudu kewan, mosok bar mati mung di pendem ngono wae,” kata seorang tetangga suatu sore.
“Lek ora iso awor karo tonggo, nek mati arep piye? Arep mlaku dewe tekan kuburan?” sahut yang lain, setengah bercanda, setengah serius.
Baca juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian III
Ia mendengar itu tanpa benar-benar menoleh. Suara orang-orang di kampung kadang seperti angin: lewat, lalu hilang, tapi meninggalkan sisa yang tidak selalu ia sadari.
Ia tidak marah. Ia juga tidak menganggapnya sebagai ancaman. Baginya, itu hanya cara orang-orang memahami hidup dan kematian dengan bahasa yang mereka miliki.
Namun malam itu, ketika ia pulang, kalimat-kalimat itu tidak sepenuhnya ikut tertinggal di luar rumah.
Ia duduk lama setelah lampu dipadamkan.
Ada satu pertanyaan yang tidak ia ucapkan kepada siapa pun: bagaimana jika suatu hari ia tidak lagi berada di tengah orang-orang yang memahami caranya hidup? Bagaimana jika kematian datang, dan ia tidak benar-benar menjadi bagian dari struktur sosial yang selama ini mengelilinginya?
Bukan soal siapa yang akan mengurusnya.
Tapi soal sesuatu yang lebih sunyi: apakah ia benar-benar diterima sebagai bagian dari tempat ia tinggal?
Waktu berjalan seperti biasa setelah itu. Tidak ada perubahan yang tampak dari luar. Ia tetap bekerja, tetap shalat dengan cara yang ia kenal sejak kecil, tetap hadir di yasinan malam Jumat ketika dipanggil.
Tetapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang perlahan bergeser.
Ia mulai merasa bahwa jarak yang dulu tidak ia perhatikan, kini kadang terasa hadir. Bukan jarak antara benar dan salah, tetapi jarak antara memahami dan menjadi bagian dari sesuatu.
Ia tidak pernah benar-benar memutuskan untuk menjauh. Ia juga tidak sepenuhnya masuk. Ia hanya berada di tengah, seperti banyak orang lain yang tidak sempat memberi nama pada posisinya sendiri.
Baca juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian II
Dan di masa itu, ia mulai jarang membaca Al-Qur’an di luar shalat. Bukan karena menolak, bukan karena mengganti keyakinan dengan yang lain. Hanya karena ada banyak pertanyaan yang tidak lagi ia kejar jawabannya.
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak hilang. Mereka hanya diam.
Sampai suatu malam Jumat, ia kembali duduk di sebuah rumah duka. Suara bacaan Yasin mengalir pelan, diikuti doa yang sesekali terputus oleh isak yang ditahan.
Ia duduk di antara orang-orang itu.
Tidak di depan, tidak di belakang.
Di tengah.
Dan di sana, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak merasa sedang harus memilih apa pun.
Ia hanya merasa sedang berada di antara manusia lain yang sama-sama tidak berdaya di hadapan sesuatu yang pasti datang.
Setelah acara selesai, ia tidak langsung pulang. Ia duduk di teras rumah yang mulai sepi. Angin malam bergerak pelan melewati atap seng, membawa suara-suara yang perlahan mengecil.
Ia tidak menemukan jawaban besar malam itu.
Tapi ada sesuatu yang lebih sederhana yang perlahan terasa kembali: bahwa hidup tidak selalu menuntut seseorang untuk segera memilih sisi, tetapi untuk tetap bertahan sebagai manusia di tengah semua yang tidak selalu bisa ia pahami sepenuhnya.
Ia kembali ke rumah dengan langkah pelan.
Di kepalanya, dua kartu anggota tidak lagi berdiri sebagai batas yang harus ia tentukan. Keduanya hanya menjadi bagian dari dunia yang ia tinggali, cara orang-orang di sekitarnya menjaga Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Dan mungkin, pikirnya, ia tidak sedang dituntut untuk menjadi salah satunya.
Mungkin ia hanya sedang belajar hal yang lebih dasar: bagaimana kembali mengenal Tuhan, tanpa kehilangan kemanusiaan di tengah jalan.
Malam itu, sebelum tidur, ia teringat kembali Al-Qur’an yang lama tidak ia buka di luar shalat.
Ia tidak berjanji apa pun.
Ia hanya tahu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidak sedang menjauh.
Editor : Redaksi