Bondowoso, JatimUPdate.id, – Lomba puisi bahasa Madura atau guguritan menjadi salah satu kegiatan yang menyedot perhatian dalam Pekan Pendidikan Berkah 2026 di Bondowoso.
Baca juga: Gerindra Sambangi Eri Cahyadi, Alif: Murni Silaturahmi Tak Ada Agenda Khusus
Ajang ini tidak sekadar perlombaan, tetapi juga menjadi upaya nyata melestarikan bahasa daerah di kalangan pelajar.
Lomba yang digelar pada Selasa (28/4/2026) ini diikuti siswa jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dari berbagai sekolah di Bondowoso.
Koordinator kegiatan dari MGMP Bahasa Jawa-Madura, Dra. Faalulliyatin, menjelaskan bahwa lomba ini diikuti sekitar 50 sekolah, baik negeri maupun swasta, termasuk sekolah satu atap (Satap).
“Kurang lebih ada 50 peserta dari berbagai sekolah. Ini menunjukkan antusiasme yang cukup baik dari siswa,” ujarnya.
Menurut Faalul, pemilihan bahasa Madura sebagai fokus lomba didasarkan pada kondisi sosial masyarakat Bondowoso yang mayoritas menggunakan bahasa tersebut, khususnya di wilayah pinggiran.
“Mayoritas sekolah di Bondowoso berada di daerah pinggiran yang menggunakan bahasa Madura. Karena itu, bahasa daerah ini perlu terus dilestarikan sebagai bagian dari kearifan lokal,” jelasnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga sejalan dengan imbauan Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso agar sekolah turut aktif menjaga dan melestarikan bahasa daerah Madura di lingkungan pendidikan.
Cegah Generasi Muda Lupa Bahasa Ibu
Faalul mengungkapkan, meski hidup di lingkungan berbahasa Madura, tidak semua siswa terbiasa menggunakan bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari. Fenomena ini menjadi perhatian tersendiri.
“Anak-anak sekarang belum tentu menggunakan bahasa ibu di rumah. Ini yang menjadi tantangan, sehingga perlu diperkenalkan kembali melalui kegiatan seperti ini,” katanya.
Baca juga: Ibaratkan Keping Mata Uang, Fathoni: Silaturahmi KPU ke Parpol Ciptakan Demokrasi Makin Berkualitas
Menurutnya, pengaruh perkembangan teknologi turut memengaruhi pola komunikasi generasi muda yang mulai meninggalkan bahasa daerah.
“Sekarang anak-anak sudah campur baur bahasanya. Bahkan ke orang tua kadang tidak menggunakan bahasa yang semestinya. Ini yang harus kita perbaiki,” ujarnya.
Bangun Etika Lewat Bahasa Daerah
Lebih dari sekadar alat komunikasi, Faalul menekankan bahwa bahasa daerah memiliki peran penting dalam membentuk etika dan tata krama siswa.
“Melalui bahasa daerah, anak-anak belajar unggah-ungguh, bagaimana berbicara dengan orang tua, guru, dan teman. Ini bagian dari pendidikan karakter,” ungkapnya.
Ia pun mendorong agar penggunaan bahasa daerah tidak dianggap kuno oleh generasi muda.
Baca juga: Usai Dilantik, Legislator PPP Silaturahmi bersama Masyarakat Relawan dan Simpatisan
“Anak-anak tidak perlu gengsi menggunakan bahasa daerah. Justru harus bangga dan mau melestarikan,” tegasnya.
*Peran Guru Jadi Kunci*
Faalul mengaku, sebagai guru, dirinya juga berupaya aktif menanamkan penggunaan bahasa daerah dalam proses pembelajaran, meskipun bukan berasal dari latar belakang budaya Madura.
“Saya bukan orang Madura, tetapi ketika mengajar tetap menggunakan bahasa Madura. Ini bagian dari upaya menjaga bahasa daerah agar tetap hidup,” katanya.
Melalui lomba guguritan dalam Pekan Pendidikan Berkah 2026, diharapkan generasi muda Bondowoso semakin mengenal, mencintai, dan melestarikan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya yang tidak boleh hilang. (Sda/ries/yh)
Editor : Redaksi