Dua Hari Latihan, 400 Pelajar Menari: Jejak Remo Sutinah dari Kelas ke Panggung Bondowoso

Reporter : M Aris Effendi
400 pelajar tampil kolosal membawakan Tari Remo Sutinah pada Peringatan Hardiknas 2026 di Bondowoso. Penampilan ini menjadi simbol pelestarian budaya di tengah generasi muda.

 

Bondowoso, JatimUPdate.id, – Hentakan kaki para pelajar memecah pagi di Alun-alun Ki Bagus Asra, Senin (4/5/2026). Selendang merah berayun serempak, menyatu dengan kostum hitam yang dikenakan 400 siswa SMP dalam Tari Remo Sutinah pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026.

Baca juga: Ponpes Al-Ishlah Bondowoso Buka Beasiswa Penuh Kader Dai dan Ulama Muda hingga 6 Tahun

Penampilan itu tak sekadar memeriahkan panggung. Di balik gerakan yang kompak, tersimpan upaya panjang menghidupkan kembali identitas budaya lokal yang sempat nyaris tenggelam.

Pemerintah Kabupaten Bondowoso kini menjadikan sekolah sebagai garda depan pelestarian budaya. Melalui Dinas Pendidikan, Tari Remo Sutinah digerakkan kembali secara sistematis—tidak hanya di panggung, tetapi juga di ruang kelas.

Salah satunya melalui lomba Tari Remo Sutinah dalam Pekan Pendidikan Berkah 2026. Dari ruang kompetisi itulah, semangat pelestarian budaya mulai ditanamkan sekaligus diuji.

Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso, Taufan Restuanto, menyebut Tari Remo Sutinah bukan sekadar tarian, melainkan identitas kultural daerah.

“Tari Remo ini dari Jawa Timur, tapi Bondowoso punya Remo Sutinah. Di situlah letak keunikannya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tarian tersebut merupakan karya almarhum Sutinah, seniman daerah yang dikenal mampu membaca denyut sosial masyarakat Bondowoso. Berangkat dari Tari Remo, karya itu berkembang dengan karakter kuat—merefleksikan perjuangan hidup, keteguhan sikap, hingga dinamika sosial masyarakat pada masanya.

“Karena penciptanya sudah wafat, tanggung jawab pelestariannya ada pada kita semua,” tambahnya.

Menurut Taufan, nilai-nilai kehidupan yang ditangkap Sutinah diterjemahkan dalam gerak, irama, dan ekspresi yang sarat makna filosofis.

“Sutinah adalah pejuang Bondowoso yang mengekspresikan perjuangannya lewat tari. Ini menjadi inspirasi bagi pelajar,” katanya.

Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, menegaskan pagelaran tersebut bukan sekadar pertunjukan, melainkan bagian dari upaya memperkuat identitas daerah.

“Remo Sutinah ini khasanah kita. Harus diperkuat dan dilestarikan sebagai identitas Bondowoso,” ujarnya.

Dari panggung besar di alun-alun, cerita bergeser ke ruang yang lebih sunyi: ruang latihan.

Baca juga: Ikhtiar Bondowoso Menuju Desa Mandiri melalui Sinergi dan Inovasi

Di SMP Negeri 1 Bondowoso, proses menuju panggung itu dimulai dari seleksi ketat. Para siswa dipilih, lalu ditempa dalam latihan intensif hingga berhasil meraih juara 1 lomba Tari Remo dalam Pekan Pendidikan Berkah.

Pembina tari SMPN 1 Bondowoso, Nuril Arifin, menyebut perjalanan itu tidak instan.

“Kurang lebih satu bulan kami persiapkan untuk lomba. Kami seleksi siswa yang benar-benar siap, lalu dilatih intensif,” ujarnya.

Namun kontras terjadi saat mereka harus tampil dalam tari kolosal bersama ratusan pelajar lainnya.

“Untuk kolosal ini hanya dua hari latihan,” katanya.

Sekitar 20 siswi dari SMP Negeri 1 Bondowoso turut ambil bagian dalam penampilan tersebut. Dalam waktu singkat, mereka harus menyatu dalam gerakan yang sama dengan ratusan penari lain.

Di antara mereka, Renata, siswi kelas 8, merasakan langsung tekanan sekaligus kebanggaan itu. Hari-harinya diisi latihan dari pagi hingga sore.

Baca juga: Kiai Regu dan Penguatan Spiritual, Cara Bondowoso Siapkan Jemaah Haji Lebih Siap dan Tenang

“Latihan hampir setiap hari,” ujarnya.

Dengan durasi tarian sekitar 10 menit, setiap gerakan menuntut ketepatan. Tidak mudah, tetapi justru di situlah pengalaman itu terbentuk.

“Lumayan sulit, tapi bangga bisa tampil di depan bupati dan pejabat,” katanya.

Ia berharap, Tari Remo Sutinah tidak berhenti pada generasinya.

“Semoga terus dilestarikan,” tuturnya.

Ketika musik berhenti dan barisan pelajar perlahan meninggalkan alun-alun, yang tersisa bukan sekadar pertunjukan. Ada jejak panjang—tentang bagaimana budaya diajarkan, dilatih, dan diwariskan, dari ruang kelas hingga panggung kota.

Melalui integrasi pendidikan dan ruang ekspresi publik, Dinas Pendidikan Bondowoso berharap Tari Remo Sutinah tidak sekadar bertahan, tetapi kembali berdenyut sebagai warisan budaya yang hidup—terus diwariskan dari generasi ke generasi. (ries/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru