AI Bisa Menjawab, tapi Tidak Bisa Merangkul (Refleksi atas Guru, Teknologi, dan Kemanusiaan yang Tak Tergantikan)

Reporter : Redaksi
Ilustrasi

 

Oleh: Hijrah Saputra

Baca juga: Edukasi Kreator di EJSC Bakorwil, Korbid Digital SMSI Malang Raya Bedah Etika dan Batasan Penggunaan AI

Pengamat Sosial

 

 

Bondowoso, JatimUPdate.id - Bayangkan seorang pelajar di desa. Buku sulit didapat. Guru hanya hadir dalam jam pelajaran. Tapi di tangannya, ada sebuah ponsel—dan di sana, ada AI yang siap menjawab apa saja, kapan saja, tanpa lelah.

Ia bukan anak yang malas. Ia hanya memilih yang paling mudah menjawab rasa ingin tahunya.

Inilah realitas yang sedang terjadi hari ini: anak-anak lebih percaya kepada AI daripada kepada guru. Dan sebelum kita terburu-buru menghakimi—ada baiknya kita bertanya, mengapa sampai begitu?

Di media sosial ada kabar pemerintah akan memberlakukan pelarangan kepada anak di usia 16 tahun ke bawah untuk memegang handphone seluler (ponsel).

Ini dapat dibaca sebagai kabar baik. Baik bagi pendidikan yang selama ini mungkin belum sepenuhnya memiliki batas yang jelas terhadap anak-anak yang memegang smartphone, tetapi belum sepenuhnya “smart” dalam penggunaannya.

Masyarakat desa memiliki realitas yang berbeda dengan kota. Di kota, televisi cukup menggunakan antena sederhana sudah dapat menikmati berbagai siaran. 

Sementara di desa, untuk mendapatkan hiburan, seringkali harus menggunakan parabola dengan harga yang tidak murah. Bahkan jika menggunakan layanan TV berbayar, ada biaya bulanan yang harus dikeluarkan. Dalam kondisi seperti ini, ponsel kemudian menjadi pilihan.

Hiburan yang dulu terasa jauh, kini hadir dalam genggaman. YouTube, TikTok, dan berbagai platform lain menjadi alternatif. Bahkan, berbagai tayangan seolah telah berpindah ke sana.

Hari ini, akses wifi juga mulai menjangkau banyak wilayah. Ponsel tidak hanya menjadi alat hiburan, tetapi juga alat untuk meningkatkan pendapatan. Masyarakat mulai berdagang, membuat konten, hingga mencari peluang ekonomi melalui ponsel.

Namun di sisi lain, ada persoalan yang tidak sederhana. Seorang pelajar di desa, buku masih sulit diakses dan dibeli. Keterbatasan ekonomi menjadi kendala. Dalam kondisi ini, YouTube dan Artificial Intelligence (AI) seringkali menjadi pengganti sumber belajar.

Dalam beberapa situasi, siswa menjadi semakin kreatif dan inovatif. Mereka mulai membandingkan. Bahkan, membandingkan guru dengan AI.

Memang tidak sepenuhnya dapat dibanding-bandingke. AI adalah produk algoritma. Ia menyerap informasi dari berbagai sumber dan menjawab dengan cepat serta terstruktur. Dalam beberapa hal, ia mampu memberikan jawaban yang terasa lebih langsung, meski belum tentu lebih utuh dipahami.

Namun, siswa—terutama di bawah usia 16 tahun—belum sepenuhnya mampu membedakan mana yang baik dan mana yang kurang baik. Mereka masih berada pada fase ketertarikan.

Seringkali, yang dipilih bukan yang paling benar, tetapi yang paling menarik.
Apa yang ditonton di YouTube adalah yang paling mudah dipahami.
Apa yang muncul di media sosial adalah yang paling tren.
Apa yang dimainkan adalah yang paling memberi kesenangan.

Dalam permainan sekalipun, yang kompleks tetap diminati selama ada reward dan ruang imajinasi.

Dalam pandangan Jean Piaget melalui The Psychology of the Child (1969), anak pada usia ini memang belum sepenuhnya matang dalam cara berpikirnya. Hal ini diperkuat dengan pandangan B. F. Skinner melalui Science and Human Behavior (1953) bahwa perilaku akan cenderung mengikuti apa yang memberi penguatan atau kesenangan.

Baca juga: Jurusan PT Era AI

Pemahaman seperti ini sulit dihindarkan. AI mampu menjawab pertanyaan dengan presisi. Namun, belum tentu dipahami secara utuh.

Hari ini, cara belajar telah berubah.
Namun, cara mengajar belum tentu ikut berubah.
Peningkatan sumber daya manusia seringkali dilakukan karena kebutuhan yang mendesak. Keinginan untuk meningkatkan kemampuan teknis, konseptual, dan sosial masih perlu terus didorong.

Seharusnya, pengajaran menjadi lebih variatif dan inovatif ketika AI hadir. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga memahami kebutuhan siswa.

Keterbatasan informasi hari ini bukan lagi persoalan utama.
Yang menjadi persoalan adalah kemauan.
Jika ditarik lebih jauh, relativitas AI tetap ada. Ia bergantung pada listrik dan jaringan. Tanpa itu, ia tidak memberikan apa-apa. Ia tetap alat.

Manusia tetap manusia.

Ia adalah aktor dari terciptanya AI. Dalam perspektif keagamaan, manusia diciptakan sebagai khalifah fil ardh. Ia memiliki akal dan nafsu, serta tanggung jawab.

Di sinilah pertanyaan menjadi lebih serius dari sekadar metode mengajar. Ini soal siapa manusia, dan apa yang membuatnya tidak bisa digantikan oleh apa pun—termasuk oleh ciptaannya sendiri.

Dalam tradisi keislaman, jawaban atas pertanyaan ini sudah ada sejak awal mula.

Dalam kisah penciptaan Nabi Adam, terjadi perdebatan yang mendasar. Iblis merasa dirinya lebih unggul. Ia melihat dari asal penciptaan. Merasa lebih sempurna. Tidak ingin posisinya tergantikan.

Namun Tuhan tetap memerintahkan untuk sujud kepada Adam. Malaikat patuh. Iblis memilih membangkang. Sejak saat itu, iblis meminta waktu untuk menggoda manusia.

Kisah ini bukan sekadar cerita. Ia mengajarkan bahwa keunggulan manusia bukan pada asal-usulnya, tetapi pada potensi dan kemampuannya menjalankan amanah.

Baca juga: Lari 4 Km ke Sekolah, Guru di Bojonegoro Ini Terapkan Efisiensi Energi Secara Sederhana

Hari ini, kesalahan yang sama bisa terulang—ketika manusia justru merasa kalah oleh ciptaannya sendiri.

Maka, pertanyaan mendasarnya adalah: guru seperti apa yang tidak dapat tergantikan oleh AI?

Jawabannya bukan pada kecanggihan, tetapi pada kemanusiaan.

Guru yang sabar.
Guru yang ikhlas.
Guru yang humanis.
Merangkul, bukan memukul.
Menjelaskan, bukan mendikte.
Meneladani, bukan sekadar meminta diteladani.

Guru seperti ini tidak akan tergantikan.
Guru desa dan kota seharusnya memiliki nilai yang sama. Ukurannya bukan pada fasilitas, tetapi pada kemanusiaan.

Karena pada akhirnya, manusia dinilai karena kemanusiaannya.
Bukan karena kehewanannya.
Bukan pula karena “ke-AI-annya”.

Dalam konteks ini, pelarangan ponsel bagi anak di bawah usia 16 tahun dapat dipahami sebagai langkah awal yang positif. Namun, kebijakan tersebut perlu disertai pendampingan yang menyeluruh agar lebih efektif menjawab persoalan.

Mengarahkan, bukan sekadar melarang.
Membimbing, bukan sekadar membatasi.
Karena anak tidak hanya membutuhkan akses, tetapi juga arah.

Tingkatkan akhlaknya dalam menggunakan teknologi.
Tingkatkan kesabarannya dalam belajar.
Tingkatkan kehambaannya sebagai manusia.
Tingkatkan kepemimpinannya sejak dini.
Tingkatkan daya saingnya tanpa kehilangan arah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru