Oleh Salihudin
Pengamat Kebangsaan, Bermukim Di Palu
Palu, JatimUPdate.id - Dalam sejarah Indonesia, tidak semua pejuang berdiri di garis depan dengan senjata. Ada pula yang berjuang melalui gagasan, administrasi, keuangan negara, diplomasi, pangan, dan kelembagaan.
R.M. Margono Djojohadikusumo adalah salah satunya. Beliau bukan hanya tokoh koperasi dan ekonomi rakyat tapi juga tokoh kelembagaan.
Beliau bekerja dalam senyap, tetapi meninggalkan jejak panjang dalam fondasi negara Indonesia yang baru lahir.
Kajian Sygma Research and Consulting menempatkan Margono sebagai tokoh penting dalam sejarah ekonomi, sosial, dan politik Indonesia, terutama karena perannya dalam pendirian Bank Negara Indonesia serta perjuangannya membangun kedaulatan ekonomi bangsa.
Kajian itu juga menyebut Margono sebagai negarawan, ekonom, dan tokoh yang memiliki komitmen kuat terhadap nilai kebangsaan, kebijaksanaan dalam pengelolaan keuangan negara, serta dedikasi besar terhadap kemajuan rakyat Indonesia.
Perjalanan Margono menunjukkan bahwa keahlian teknokratis bisa menjadi alat perjuangan. Sejak muda, beliau meniti karier dalam dunia administrasi dan keuangan.
Dari Banyumas, Cilacap, Purworejo, Madiun, Malang, hingga Jakarta, bergerak dalam struktur pemerintahan kolonial, tetapi tidak kehilangan kepekaan terhadap nasib rakyat.
Pada 1930, beliau bekerja di kantor besar Algemene Volkscredietbank. Bahkan, pada 1932, disebut sebagai orang bumiputra pertama yang menduduki jabatan Inspektur Perbendaharaan Pusat di lingkungan Kementerian Keuangan kolonial.
Ini bukan sekadar kenaikan pangkat dan jabatan. Tetapi ini adalah tanda bahwa kapasitas anak negeri mulai menembus tembok birokrasi kolonial yang lama tertutup bagi bumiputra.
Peran Margono semakin penting pada masa pendudukan Jepang. Beliau tidak hanya berkutat pada urusan perkreditan rakyat, tetapi juga terlibat dalam urusan pangan.
Saat bekerja membantu Keraton Mangkunegaran membentuk Departemen Perekonomian, Margono mengurusi penyediaan bahan makanan, penyuluhan petani, jawatan peternakan, dan pengawasan rumah gadai.
Dalam situasi ketika hasil pertanian rakyat banyak diserap untuk kepentingan Jepang, Margono berusaha menjaga agar persediaan makanan rakyat tetap aman. Di sini, perjuangan Margono tampak sangat konkret yaitu melindungi rakyat dari kelaparan dengan kecerdikan birokrasi.
Setelah Proklamasi, Margono masuk ke jantung pembentukan negara. Beliau ditunjuk sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung.
Dari posisi inilah beliau mengusulkan perlunya bank sentral atau bank sirkulasi sebagaimana semangat UUD 1945. Indonesia yang baru merdeka membutuhkan bukan hanya bendera dan lagu kebangsaan, tetapi juga alat kedaulatan ekonomi.
Beliau memahami bahwa negara tanpa sistem keuangan sendiri akan rapuh di hadapan tekanan asing. Atas dasar itu, beliau menemui Mohammad Hatta dan memperoleh restu untuk membangun bank nasional.
Melalui surat kuasa Soekarno-Hatta pada 16 September 1945, Margono diberi mandat mendirikan Bank Negara Indonesia.
BNI yang lahir pada 5 Juli 1946 itu kemudian menjadi simbol bahwa Indonesia tidak ingin hanya merdeka secara politik, tetapi juga berdaulat secara finansial.
BNI berperan sebagai bank sirkulasi, termasuk dalam penerbitan dan pengedaran Oeang Republik Indonesia. Uang negara sendiri adalah simbol penting.
Baca juga: Inti Pemikiran Margono Djojohadikusumo tentang Koperasi
Ini memberi pesan kepada rakyat dan dunia bahwa Republik ini berdiri eksis, bekerja, dan memiliki otoritas. Dalam konteks itu, Margono bukan hanya pendiri bank. Tapi juga adalah arsitek dan sumber kepercayaan yang otoritatif.
Peran lain yang tak kalah menarik adalah keterlibatannya dalam mempertahankan aset negara.
Kajian Sygma mencatat Margono pernah menyelamatkan aset BNI berupa emas seberat tujuh ton saat Belanda melancarkan Agresi Militer II pada 1948. Emas itu kemudian dijual ke Macau, dan hasilnya digunakan untuk perjuangan Indonesia, termasuk penyediaan bahan pangan, biaya diplomasi, serta kebutuhan perang melawan Belanda.
Ini menunjukkan bahwa perang kemerdekaan tidak hanya ditopang oleh keberanian prajurit, tetapi juga oleh kecakapan mengelola sumber daya.
Margono juga hadir dalam arena diplomasi besar. Beliau menjadi salah satu anggota delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag tahun 1949, bersama putranya, Sumitro Djojohadikusumo. Hal ini bisa dilihat dari sejumlah dokumen negara berupa foto-foto saat Konferensi Meja Bundar terlaksana.
Perundingan itu sangat berat, terutama soal utang kolonial Hindia Belanda. Indonesia harus menghadapi dilema pahit: menerima sebagian beban utang demi mempercepat pengakuan kedaulatan. Di sinilah Margono menjadi bagian dari generasi pendiri yang memahami bahwa kemerdekaan sering kali harus dijaga melalui kompromi yang tidak mudah.
Setelah itu, Margono tetap memainkan peran dalam kehidupan ketatanegaraan. Dalam sejarah DPR, ia tercatat mengusulkan penggunaan hak angket pada tahun 1950-an terkait usaha memperoleh devisa dan cara menggunakan devisa.
Panitia angket yang dibentuk beranggotakan tiga belas orang dan diketuai oleh Margono. Tugasnya menyelidiki untung-rugi mempertahankan rezim devisa berdasarkan aturan pengawasan devisa yang berlaku saat itu.
Dari sini tampak bahwa Margono bukan hanya tokoh ekonomi praktis, tetapi juga penjaga akuntabilitas negara. Beliau memahami pentingnya pengawasan parlemen terhadap kebijakan ekonomi. Dalam bahasa hari ini, Margono sedang memperjuangkan tata kelola ekonomi yang transparan.
Akhirnya, Margono juga meninggalkan warisan pendidikan dan intelektual. Persahabatannya dengan Mohammad Hatta melahirkan Yayasan Hatta di Yogyakarta pada 1950, yang bergerak di bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan. Beliau percaya bahwa bangsa yang merdeka harus dicerdaskan, agar bangsa lebih meningkat mutunya dalam pembangunan.
Berbagai kajian dan penelitian mutakhir, termasuk yang dilakukan oleh Sygma Research and Consulting, semakin memperjelas bahwa peran R.M. Margono Djojohadikusumo tidak dapat ditempatkan sebagai catatan kecil dalam sejarah bangsa.
Kajian tersebut mengungkap secara lebih utuh jejak pengabdian Margono dalam bidang ekonomi, sosial, politik, kelembagaan negara, perbankan nasional, diplomasi, hingga perjuangan mempertahankan kedaulatan Republik.
Dari pendirian Bank Negara Indonesia, penyelamatan aset negara, keterlibatan dalam Konferensi Meja Bundar, sampai perannya dalam pengawasan devisa melalui parlemen, Margono menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga dalam pembangunan fondasi ekonomi dan institusi negara.
Karena itu, berdasarkan keluasan jasa, integritas, keteladanan, dan dampak nasional dari pengabdiannya, R.M. Margono Djojohadikusumo sudah selayaknya diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Pengakuan negara terhadap Margono bukan semata penghargaan kepada satu tokoh, tetapi juga pengakuan bahwa perjuangan ekonomi, perjuangan kelembagaan, dan perjuangan membangun kemandirian bangsa adalah bagian sah dari kepahlawanan Indonesia.
Margono telah membuktikan bahwa bangsa yang merdeka tidak cukup hanya memiliki keberanian politik, tetapi juga harus memiliki kedaulatan ekonomi, tata kelola keuangan, dan institusi nasional yang kuat.
Maka, jika tulisan pertama dan kedua menempatkan Margono sebagai tokoh koperasi dan ekonomi rakyat, tulisan ketiga ini memperlihatkan sisi lain yang lebih luas.
Sosok dan profil Margono adalah birokrat cerdas, pengelola pangan, Ketua DPA pertama, pendiri bank negara, penyelamat aset perjuangan, diplomat ekonomi, pelopor pengawasan parlemen, dan pendukung pendidikan bangsa.
Beliau bekerja tanpa banyak slogan. Tetapi dari tangannya, negara memperoleh sebagian fondasi pentingnya. Margono adalah bukti bahwa kemerdekaan tidak hanya dipertahankan di medan perang, tetapi juga di meja rapat, ruang arsip, lembaga keuangan, gudang pangan, dan ruang-ruang sunyi tempat nasib bangsa dirumuskan.
Mengangkat R.M. Margono Djojohadikusumo sebagai Pahlawan Nasional adalah cara bangsa ini membayar sebagian utang sejarah kepada seorang pejuang sunyi. Beliau tidak banyak bersorak, tetapi bekerja. Beliau tidak mencari panggung, tetapi membangun fondasi. Dari tangan dan pikirannya, Republik memperoleh salah satu tiang penting yaitu kedaulatan ekonomi.
Pada Hari ini 16 Mei 2026, disaa publik Indonesia bersama-sama meresmikan 1.061 unit Gerai Koperasi Desa Merah Putih, seharusnya dengan khidmat merayakan hari kelahiran tokoh yang berselimut misteri bekerja dengan sangat senyap terhadap fondasi dan perekonomian RI sejak Era Hindia Belanda itu, dan Eyang RM Margono Djojohadikusumo terlahir pada 16 Mei 1894 lalu sangat berhak mendapatkan penghormatannya secara layak terkait torehan pengabdian atas sejarah bangsa.
SELAMAT Hari Lahir Eyang RM Margono Djojohadikusumo, Doa kami dari Rakyat Indonesia Untuk selalu mengenang moe. ( tamat)
Editor : Redaksi