catatan tangan kanan _*wiedmust-210526*_

Rupiah Lemah, Indonesia Bisa Maju?

Reporter : Redaksi
Ilustrasi

Oleh widodo, p.hd.,

pengamat keruwetan sosial

Baca juga: Ketika Presiden Meremehkan Kurs Dolar: Zimbabwe dan Venezuela Jadi Contoh

 

 

Surabaya, JatimUPdate.id - Bagi sebagian orang, mata uang lemah terdengar seperti tanda negara sedang bermasalah.
Padahal dalam dunia ekonomi, ceritanya tidak sesederhana itu.

Beberapa negara justru sengaja menjaga mata uangnya tetap “murah” agar produk mereka lebih laku di pasar dunia. China melakukan itu selama bertahun-tahun. Vietnam juga menjaga mata uangnya tetap kompetitif demi menarik industri dan investasi.

Bahkan Presiden Donald Trump pernah beberapa kali mengeluhkan dolar Amerika yang terlalu kuat karena membuat barang produksi Amerika menjadi mahal di pasar internasional.

Ekonom besar dunia seperti John Maynard Keynes sejak lama percaya bahwa ekspor adalah salah satu mesin pertumbuhan ekonomi. Dalam praktiknya, mata uang yang tidak terlalu mahal sering dianggap membantu industri ekspor tetap hidup.

Namun ada satu hal penting yang sering dilupakan: mata uang lemah hanya efektif kalau negara itu memang punya industri kuat.

Paul Krugman pernah menjelaskan bahwa keberhasilan negara-negara Asia Timur bukan semata karena kurs mata uangnya, tetapi karena mereka memiliki produktivitas, manufaktur, teknologi, dan kapasitas produksi besar.

Artinya, pelemahan mata uang tanpa industri yang kuat hanya akan membuat barang impor makin mahal.

Dan di sinilah posisi Indonesia menjadi unik.

Indonesia memang kaya sumber daya alam. Tapi di saat yang sama, Indonesia masih bergantung pada impor: gandum, kedelai, BBM, LPG, mesin industri, hingga bahan baku pabrik.

Akibatnya, ketika rupiah melemah:

Baca juga: Ujian Kepercayaan Rupiah

- harga kebutuhan ikut naik,

- biaya produksi meningkat,

- daya beli masyarakat melemah.

Ekonom Indonesia Chatib Basri berkali-kali mengingatkan bahwa Indonesia tidak bisa begitu saja meniru strategi China karena struktur ekonominya berbeda.

Karena itu, tujuan Indonesia seharusnya bukan sekadar mengejar rupiah kuat atau rupiah lemah.

Yang lebih penting adalah:

- membangun industri,

Baca juga: BI Jatim Bersama TNI AL Lepas Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2023 Di Bawean, Kangean, Dan Sapeken

- mengurangi ketergantungan impor,

- memperkuat ekspor bernilai tambah,

- dan menjaga stabilitas ekonomi.

Sebab pada akhirnya, kurs hanyalah alat.
Yang menentukan maju atau tidaknya sebuah negara adalah kemampuan rakyatnya memproduksi sesuatu yang dibutuhkan dunia.

China tidak kuat hanya karena yuan.
Amerika tidak besar hanya karena dolar.
Dan Indonesia tidak akan maju hanya karena rupiah naik atau turun.

Negara maju lahir dari industri yang hidup, produktivitas yang tumbuh, dan keberanian membangun kekuatan ekonominya sendiri.

 

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru