UI Cordoba Hadirkan Kepala LAN RI, Dorong Lahirnya Pemimpin Adaptif untuk Indonesia di Era Digital

avatar M Aris Effendi
  • URL berhasil dicopy
UI Cordoba Banyuwangi gelar kuliah Umum, hadirkan Kepala LAN Dr. Muhammad Taufiq, (tengah) didampingi Rektor UI Cordoba Prof Agustri  (kanan) dan Ketua Yayasan UI Cordoba, Abdullah Azwar Anas (kiri)
UI Cordoba Banyuwangi gelar kuliah Umum, hadirkan Kepala LAN Dr. Muhammad Taufiq, (tengah) didampingi Rektor UI Cordoba Prof Agustri (kanan) dan Ketua Yayasan UI Cordoba, Abdullah Azwar Anas (kiri)

Banyuwangi, JatimUPdate.id – Universitas Islam Cordoba (UI Cordoba) Banyuwangi kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan ruang dialog intelektual bagi generasi muda melalui Kuliah Umum Nasional bertajuk "Menjadi Generasi Pembelajar Sepanjang Hayat: Kepemimpinan, Pelayanan Publik, dan Masa Depan Indonesia di Era Digital" yang diselenggarakan pada Jumat (3/7/2026) di Auditorium Universitas Islam Cordoba.

Kuliah umum tersebut menghadirkan Kepala Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN RI), Dr. Muhammad Taufiq, DEA, sebagai narasumber utama.

Kegiatan berlangsung penuh antusias dengan dihadiri Pembina Yayasan UI Cordoba sekaligus Menteri PANRB periode 2022–2024 Abdullah Azwar Anas, Ketua Yayasan UI Cordoba, Pengasuh Yayasan Mabadiul Ihsan dan Daar Al Ihsan, jajaran pimpinan universitas mulai dari wakil rektor, dekan, ketua program studi, dosen, mahasiswa, Ketua Lakpesdam PCNU Banyuwangi, hingga para perwakilan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Banyuwangi.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Islam Cordoba, Prof. Dr. Agus Trihartono, S.Sos., M.A., Ph.D., menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap menghadapi dinamika perubahan global dengan karakter kepemimpinan yang kuat.

"Kampus harus menjadi ruang lahirnya pemimpin masa depan yang mampu berpikir kritis, adaptif terhadap perubahan, dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat. Kehadiran para pemimpin nasional di lingkungan kampus merupakan bagian dari ikhtiar kami untuk memperluas wawasan mahasiswa sekaligus menghubungkan dunia akademik dengan realitas kebijakan publik," dawuh beliau dalam sambutannya.

Pada sesi kuliah umum, Dr. Muhammad Taufiq mengajak seluruh peserta untuk menumbuhkan budaya belajar yang tidak pernah berhenti.

Menurutnya, laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini berlangsung begitu cepat sehingga setiap individu dituntut untuk terus memperbarui kompetensi dan memperdalam bidang keahliannya.

Ia menegaskan bahwa di tengah derasnya arus informasi, kedalaman ilmu dan kemampuan berpikir analitis menjadi pembeda utama antara mereka yang sekadar mengetahui dan mereka yang benar-benar menguasai suatu bidang.

"Perubahan hari ini bergerak sangat cepat. Karena itu, semangat belajar tidak boleh berhenti ketika seseorang lulus dari bangku kuliah. Justru di situlah proses belajar yang sesungguhnya dimulai. Teruslah memperdalam ilmu, menguatkan daya analisis, dan jangan pernah merasa cukup dengan pengetahuan yang dimiliki," tegas Dr. Muhammad Taufiq.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap profesi memiliki otoritas keilmuan yang harus dihormati. Dalam dunia pendidikan, guru merupakan pihak yang paling memahami proses pembelajaran, sebagaimana dokter memiliki kompetensi dalam bidang kesehatan.

Oleh karena itu, masyarakat perlu membangun budaya yang menghargai keahlian, ilmu pengetahuan, dan profesionalisme sebagai fondasi pengambilan keputusan agar tidak ada monopoli keilmuan.

"Tidak ada yang lebih memahami pendidikan selain guru, sebagaimana tidak ada yang lebih memahami kesehatan selain dokter. Maka, setiap profesi harus terus memperkuat kompetensinya agar mampu memberikan manfaat terbaik bagi masyarakat," ungkapnya.

Dr. Muhammad Taufiq juga menyoroti perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang kini mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari dunia pendidikan, pemerintahan, hingga pelayanan publik.

Menurutnya, AI bukanlah ancaman yang harus ditakuti, melainkan instrumen yang perlu dimanfaatkan secara bijaksana untuk meningkatkan kualitas kerja dan pelayanan kepada masyarakat.

Namun demikian, ia menekankan bahwa secanggih apa pun teknologi, AI tidak akan mampu menggantikan nilai-nilai kemanusiaan, integritas, empati, serta kemampuan berpikir kritis yang menjadi karakter utama seorang pemimpin.

"Artificial Intelligence mampu membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi AI tidak dapat menggantikan integritas, kebijaksanaan, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, jangan hanya belajar menggunakan teknologi, tetapi juga bangun karakter yang membuat teknologi digunakan untuk kemaslahatan," pesannya.

Paparan tersebut mendapat respons positif dari peserta. Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan kritis dari mahasiswa mengenai transformasi birokrasi, pemanfaatan AI dalam pelayanan publik, tantangan kepemimpinan di era digital, hingga kompetensi yang harus dipersiapkan generasi muda agar mampu bersaing pada tingkat global.

Antusiasme peserta terlihat sejak awal hingga akhir kegiatan. Dialog yang hangat antara narasumber dan mahasiswa mencerminkan tingginya semangat generasi muda untuk memahami perubahan zaman sekaligus mengambil peran dalam pembangunan bangsa.

Melalui kuliah umum ini, Universitas Islam Cordoba kembali menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang bertemunya gagasan, kepemimpinan, dan kolaborasi.

Diharapkan, kegiatan ini mampu melahirkan generasi yang adaptif, berintegritas, memiliki daya analisis yang kuat, serta siap menjadi pemimpin yang membawa Indonesia menghadapi tantangan masa depan dengan optimisme dan inovasi. (rilis/ries/yh)