Menyongsong Badai Reformasi Jilid Baru

avatar Yuris. T. Hidayat
  • URL berhasil dicopy
Hadi Prasetyo  Pengamat Sosial Politik
Hadi Prasetyo Pengamat Sosial Politik

Oleh: Hadipras 

JatimUPdate.id - Lanskap Teater Politik yang Vulgar Hari-hari ini, kita dipaksa menyaksikan sebuah teater politik yang vulgar. Ruang publik kita disesaki oleh benturan logika yang waras melawan kebebalan struktural yang kian hari kian pongah. Skandal mega korupsi tidak lagi disembunyikan di bawah karpet birokrasi, melainkan dipertontonkan sebagai bagian dari posisi tawar antarelite. 

Kita berada dalam jerat sistem yang di dalam literatur politik global disebut sebagai 'State Capture'—pembajakan negara secara paripurna. Hukum bukan lagi panglima untuk mengadili kejahatan, melainkan perkakas mekanis yang dikooptasi demi melegalkan syahwat kekuasaan, melanggengkan dinasti, dan melindungi lingkaran kroni.

Logika publik sebenarnya telah lama mengambil kesimpulan yang tuntas tanpa perlu menunggu ketukan palu pengadilan formal. Mengapa? Karena polanya terlalu konsisten untuk disebut sebagai kebetulan: regulasi diubah di tengah malam, karpet merah investasi dijahit khusus untuk kepentingan kelompok tertentu, dan kehormatan akademik digadaikan lewat selembar kertas ijazah manipulatif. 

Berkas kasus hukum para elite sengaja disimpan rapi di laci penegak hukum—bukan untuk diadili demi keadilan, melainkan sebagai 'kompromat', kartu truf untuk saling menyandera. Ini adalah arsitektur tata kelola kekuasaan yang rapuh, yang digerakkan oleh rasa takut antarsesama pencuri, bukan oleh komitmen terhadap konstitusi.

Cermin Sejarah Dunia: Ketika Titik Jenuh Menemukan Akhirnya
Kegelapan institusional yang kita rasakan hari ini tidaklah unik. Sejarah komparatif mencatat bahwa model pembajakan negara dan sistem saling sandera yang serupa pernah—dan sedang—mencapai titik nadirnya di berbagai belahan dunia lain, membawa pelajaran berharga tentang bagaimana akhir dari sebuah kepongahan struktural.

Kita dapat berkaca pada Malaysia di era mega skandal 1MDB. Kala itu, kekuasaan begitu pekat membajak institusi hukum demi melindungi individu di puncak menara. Jaksa Agung yang mencoba menyelidiki dipecat tanpa ampun, badan antikorupsi dikooptasi, dan regulasi ditekuk sedemikian rupa seolah-olah hukum formal bisa menghapus kenyataan empiris. 

Publik Malaysia yang sudah sangat terinformasi melalui investigasi global terpaksa menelan pil pahit "pengadilan teater" selama bertahun-tahun. Namun, kebebalan hukum itu menemui batas absolutnya ketika kejenuhan massa berakumulasi menjadi gelombang koreksi politik publik secara masif melalui pemilu bersejarah, mematahkan hegemoni rezim yang telah berakar puluhan tahun dan menyeret sang penguasa ke balik jeruji besi.

Di sisi lain, Rusia menjadi laboratorium paling sempurna untuk melihat bagaimana siste'kompromat' bekerja sebagai instrumen tata kelola. Di sana, dinas keamanan dan lembaga penegak hukum secara sistematis mengumpulkan dosa-dosa para elite—mulai dari korupsi, skandal moral, hingga pemalsuan gelar akademik dan ijazah yang marak di kalangan birokrat. Selama para elite loyal pada lingkaran oligarki, berkas tersebut tetap terkunci. 

Hukum menjadi ambigu dan penegakan hukum sepenuhnya berada di bawah kooptasi politik. Namun, akhir dari sistem saling sandera ini adalah kerapuhan absolut: kestabilan palsu yang dijaga oleh rasa takut, di mana penguasa harus terus-menerus meningkatkan dosis represi untuk mencegah ledakan sosial karena nalar kritis publik tidak pernah benar-benar bisa dibunuh.

Gelombang Mahasiswa dan Runtuhnya Menara Gading
Sejarah selalu mengajarkan satu hal: ada batas akhir bagi sebuah kepongahan. Ketika manipulasi telah menyentuh ranah eksistensial—menyangkut hajat hidup orang banyak dan merendahkan akal sehat komunal secara demonstratif—masyarakat sipil akan sampai pada apa yang disebut 'moral outrage', kemarahan moral yang melampaui batas kalkulasi material. Indonesia hari ini nampaknya telah tiba pada titik jenuh tersebut. 

Retorika penenang dari juru bicara kekuasaan tidak lagi memiliki daya sihir; ia luruh menjadi lelucon garing di warung-warung kopi yang dihuni oleh publik yang terinformasi dengan baik.
Babak baru yang mulai mengerucut di jalanan kini digerakkan oleh gelombang mahasiswa. 

Kehadiran mereka di garda depan bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan keniscayaan sosiologis. Di tengah lanskap elite yang lumpuh total akibat saling kunci kartu kompromat, kampus adalah satu-satunya oase yang tersisa yang tidak memiliki beban masa lalu. Mahasiswa bergerak tanpa beban sandera politik, menjadikannya pemilik legitimasi moral tertinggi untuk merobek tirai teater kekuasaan yang korup.

Ketika gerakan mahasiswa mulai bersenyawa dengan rasa muak kelompok kelas pekerja, kaum profesional yang kehilangan masa depan akibat salah urus struktural, dan para akademisi yang jengah melihat institusi pendidikan dimanipulasi, maka arsitektur saling sandera di tingkat elite akan mulai retak. 

Sistem 'kompromat' hanya efektif bekerja dalam kondisi normal yang tenang. Begitu jalanan bergetar oleh tuntutan reformasi yang fundamental, faksi-faksi di dalam lingkar kekuasaan akan mulai berhitung ulang demi keselamatan diri mereka masing-masing. Aliansi elit pencuri selalu bersifat sementara; mereka akan saling meninggalkan begitu kapal kekuasaan mulai karam dihantam badai kesadaran publik.

Kita tidak sedang menghadapi sekedar krisis regulasi, melainkan sebuah krisis legitimasi yang akut. Menghadapi babak baru ini, taruhannya adalah apakah kita sanggup merumuskan kembali arah bangsa ini secara jernih, ataukah kita membiarkan kegelapan ini melembaga menjadi normalitas baru. Gerakan yang mengerucut hari ini adalah pengadilan moral yang sesungguhnya—sebuah momentum di mana nalar kritis publik menolak untuk tunduk pada legalisme otokratis yang mematikan rasa keadilan. (*)