Surabaya Terlalu Besar untuk Dipersempit Menjadi Satu Tokoh
Catatan Redaksi - Rencana Pemerintah Kota Surabaya menjadikan buku Bung Karno: Aku Arek Suroboyo sebagai materi ajar bagi siswa SD dan SMP patut diapresiasi.
Bung Karno putra bangsa yang memiliki jejak sejarah besar, dan Surabaya memang menjadi salah satu ruang penting yang membentuk karakter serta pemikirannya.
Namun, muncul satu pertanyaan apakah semangat Arek Suroboyo cukup diwakili oleh satu tokoh?
Pandangan yang disampaikan warga Surabaya, Achmad Hidayat, layak menjadi bahan pertimbangan.
Menurutnya, Surabaya bukan hanya kota kelahiran atau tempat tumbuhnya tokoh besar, melainkan sebuah ruang sejarah yang melahirkan nilai-nilai perjuangan, nasionalisme, keberanian, egalitarianisme, dan semangat kebangsaan yang diwariskan lintas generasi.
Sejarah Surabaya terlalu kaya jika hanya dipusatkan pada satu figur. Kota ini menyimpan jejak HOS Tjokroaminoto, Adipati Jayangrono, Adipati Jayalengkara, Pangeran Pekik, hingga Raden Wijaya yang berhasil mengalahkan pasukan Tartar.
Di masa revolusi, Surabaya juga menjadi panggung lahirnya berbagai laskar rakyat, pejuang pelajar, hingga sosok-sosok sederhana yang mengorbankan segalanya demi kemerdekaan. Di sanalah nilai pendidikan sesungguhnya berada.
Anak-anak tidak hanya perlu mengenal siapa Bung Karno, tetapi juga memahami perjuangan bangsa dibangun oleh banyak orang. Ada pejuang tanpa pangkat, tanpa jabatan, bahkan tanpa nama yang tercatat dalam buku sejarah.
Mereka berasal dari berbagai latar belakang, tetapi memiliki tujuan yang sama, Indonesia merdeka.
Kisah Laskar Penggempur Dalam, perjuangan Tentara Republik Indonesia Pelajar, pembentukan Komite Nasional Indonesia di Gedung Nasional Indonesia, hingga pengorbanan Mbok Dar Mortir merupakan bagian dari mozaik sejarah Surabaya yang layak dikenalkan kepada generasi muda.
Pendekatan seperti ini akan membuat pelajaran sejarah lebih utuh. Anak didik tidak hanya belajar mengagumi seorang tokoh, tetapi juga memahami bahwa perubahan besar selalu lahir dari gotong royong banyak orang.
Surabaya sejak lama dikenal sebagai kota yang heterogen. Semangat Bhinneka Tunggal Ika tumbuh dalam denyut kehidupan warganya.
Maka dari itu, materi pendidikan sebaiknya tidak hanya menonjolkan ketokohan, tetapi juga menanamkan nilai keberanian, solidaritas, pengorbanan, persatuan, dan kecintaan terhadap tanah air yang menjadi ciri khas Arek Suroboyo.
Buku tentang Bung Karno tetap penting. Akan tetapi, akan jauh lebih kaya apabila ditempatkan sebagai bagian dari sejarah besar Surabaya, bukan sebagai satu-satunya wajah semangat Arek Suroboyo.
Sebab sejarah Kota Pahlawan dibangun oleh banyak tokoh, dan lebih dari itu oleh rakyat biasa yang memilih berjuang ketika negaranya membutuhkan.
Editor : Redaksi