Surabaya,JatimUPdate.id - Komisi D DPRD Kota Surabaya menyoroti peningkatan temuan kasus Tuberkulosis (TBC) di Kota Pahlawan. Hingga pertengahan 2026, jumlah kasus terdeteksi mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Zuhrotul Mar'ah, mendorong angka kenaikan tersebut dilakukan deteksi dini melalui penguatan tracing dan skrining yang dilakukan pemerintah.
Baca juga: Ketua DPRD Surabaya Ajak Pemimpin Rumuskan Kebijakan Berbasis Kebutuhan Rakyat
"Target estimasi kasus TBC di Surabaya tahun 2026 sebanyak 11.412 kasus. Saat ini yang sudah ditemukan sebanyak 4.191 kasus, terdiri dari 4.078 kasus sensitif obat dan 113 kasus resisten obat," kata Zuhro, Senin (22/6).
"Memang meningkat dibanding tahun lalu, tetapi kalau disikapi secara positif, ini menunjukkan semakin banyak kasus yang berhasil ditemukan," tambah Zuhro.
Zuhro menjelaskan, penanggulangan TBC tidak lepas dari dua strategi utama, pelacakan terhadap orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC.
Pun skrining terhadap kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi tertular.
"Tracing menyasar orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC. Sedangkan skrining dilakukan kepada masyarakat yang belum bergejala, namun memiliki risiko tertular, termasuk penderita diabetes melitus yang wajib menjalani pemeriksaan TBC," jelasnya.
Baca juga: Khofifah Pastikan Dua Prodi Baru KCL Digital Law dan Advance Cyber Security Dimulai September 2027
Ia menyebut, target penemuan suspek TBC di Surabaya tahun ini mencapai 61.624 orang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 44.088 suspek telah ditemukan atau sekitar 71,54 persen dari target.
"Artinya upaya tracing dan skrining yang dilakukan sudah berjalan cukup baik," tambahnya.
Baca juga: Anas Karno Dorong Kecamatan dan Kelurahan Ikut Andil Sukseskan Sensus Ekonomi 2026
Zuhro mengatakan kasus TBC dapat menyerang seluruh kelompok usia, mulai dari bayi hingga lanjut usia.
Namun, berdasarkan temuan yang ada, kelompok usia produktif menjadi yang paling banyak terdampak.
"TBC bisa menyerang semua rentang usia, tetapi yang paling banyak ditemukan berada pada usia produktif, yakni 15 hingga 55 tahun," ungkapnya. (Roy)Mr)
Editor : Miftahul Rachman