Surabaya,JatimUPdate.id - Cucu Presiden pertama RI Soekarno, Puti Guntur Soekarno, menghadiri peringatan 30 tahun Peristiwa 27 Juli 1996 atau Kudatuli di Posko Pandegiling, Surabaya, Jumat (24/7) malam.
Puti mengingatkan tragedi yang terjadi pada 27 Juli 1996 bukti demokrasi pernah dibungkam melalui penggunaan kekuasaan negara.
Baca juga: PDIP Rungkut Matangkan Pembentukan Ranting Gen Z Perkuat Struktur Partai
“Peristiwa Kudatuli adalah bagian dari torehan sejarah demokrasi Indonesia ketika demokrasi dibungkam menggunakan alat kekuasaan. Ini juga menjadi salah satu bentuk pelanggaran hak asasi manusia yang berat dalam sejarah Indonesia,” kata Puti.
Ia menjelaskan, peristiwa Kudatuli tidak hanya menjadi pemicu lahirnya gerakan reformasi. Namun mengubah arah perjalanan bangsa.
Puti juga menyebut, dalam konteks Jawa Timur dan Surabaya, Posko Pandegiling memiliki posisi strategis.
Sebab menjadi pusat konsolidasi para pendukung Megawati Soekarnoputri dan pejuang demokrasi saat itu.
Baca juga: Kader PDIP Dilarang Kelola Dapur MBG, Ini Respons Saleh Ismail Mukadar
“Pandegiling menjadi bagian dari konsolidasi para pejuang demokrasi dan pendukung Pro Mega. Dari sinilah arus perlawanan terhadap rezim saat itu tumbuh dan menjadi bagian dari rangkaian sejarah menuju reformasi,” ujarnya.
Kepala Badan Sejarah Indonesia DPP PDI Perjuangan Bonnie Triyana menyebut Kudatuli salah satu peristiwa penting yang menjadi titik awal lahirnya gelombang reformasi 1998
Ia juga mengajak generasi Z untuk memahami sejarah perjuangan demokrasi dan menjadikan politik sebagai sarana membangun peradaban.
Baca juga: Ketua DPRD Surabaya Ajak Pemimpin Rumuskan Kebijakan Berbasis Kebutuhan Rakyat
“Berpolitik itu membangun kualitas kemanusiaan. Ketika nanti dipercaya memimpin, jangan mengulangi apa yang dulu pernah dilakukan penguasa terhadap rakyat yang menyampaikan kritik,” katanya.
Panitia nasional peringatan 30 tahun Kudatuli, Setiawan, menyebut Surabaya dipilih karena memiliki posisi historis yang sangat kuat dalam perjalanan perjuangan PDI dan gerakan reformasi.
“Kudatuli bukan hanya milik PDI Perjuangan. Ini adalah kick-off demokrasi Indonesia. Reformasi 1998 tidak bisa dilepaskan dari rangkaian peristiwa yang dimulai dari Kudatuli,” ujarnya. (*)
Editor : Yuris. T. Hidayat