Semarang, JatimUPdate.id – Tantangan sosial ekonomi yang dihadapi perempuan di wilayah pesisir akibat perubahan iklim dan degradasi lingkungan menjadi salah satu isu yang dibahas dalam Konferensi Internasional ke-11 tentang Energi, Lingkungan, dan Sistem Informasi (ICENIS 2026) di Semarang.
Isu tersebut disampaikan oleh Jihan Marsya Azahra, peneliti Sygma Research and Consulting sekaligus dosen Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah, melalui kajian berjudul “Socio-Economic Challenges for Women in Coastal Areas: Climate Change and Environmental Degradation in Central Java, Indonesia.”
Baca juga: Komunikasi Politik Santun ala SBY di Era Kebisingan Digital : Pelajaran bagi Demokrasi Indonesia
Dalam paparannya, Jihan menjelaskan bahwa perubahan iklim dan degradasi lingkungan tidak hanya berdampak terhadap ekosistem pesisir, tetapi juga memberikan tekanan sosial dan ekonomi kepada masyarakat, khususnya perempuan yang memiliki peran penting dalam menopang kehidupan keluarga.
“Perubahan iklim dan degradasi lingkungan tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga memberikan tekanan sosial dan ekonomi terhadap masyarakat pesisir, khususnya perempuan. Karena itu, kebijakan adaptasi perubahan iklim perlu melibatkan perempuan secara aktif dan memperkuat kapasitas ekonomi mereka,” ujar Jihan di Gumaya Hotel Semarang, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026).
Jihan menambahkan, perempuan pesisir perlu ditempatkan bukan hanya sebagai kelompok yang terdampak, tetapi juga sebagai bagian penting dalam proses pengambilan keputusan dan perumusan strategi adaptasi perubahan iklim.
Baca juga: Andi Sukmono Kumba Terpilih Jadi Komisioner KPI Pusat 2026-2029, CEO Sygma Research Beri Selamat
“Perempuan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang sangat dekat dengan dinamika kehidupan masyarakat pesisir. Ketika mereka diberikan ruang untuk berpartisipasi dan memiliki akses terhadap sumber daya, pendidikan, serta peluang ekonomi, maka kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko perubahan iklim juga akan semakin kuat,” katanya.
Menurutnya, persoalan perempuan di kawasan pesisir perlu mendapatkan perhatian dalam agenda pembangunan berkelanjutan. Kebijakan lingkungan, kata dia, harus mempertimbangkan dimensi sosial dan gender agar upaya menghadapi perubahan iklim dapat memberikan dampak yang lebih inklusif.
“Pendekatan terhadap perubahan iklim tidak cukup hanya berbicara tentang lingkungan dan ekosistem. Kita juga perlu melihat siapa yang paling rentan terdampak dan bagaimana kebijakan dapat memastikan tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal, termasuk perempuan di wilayah pesisir,” tegas Jihan.
Baca juga: Sygma Research: Polemik Menteri PU Harus Dijawab dengan Transparansi, Bukan Intimidasi
Keikutsertaan Jihan dalam ICENIS 2026 sekaligus memperkuat kontribusi Sygma Research and Consulting dalam pengembangan kajian akademik terkait isu lingkungan, perubahan iklim, dan ketahanan masyarakat.
Konferensi ICENIS 2026 menjadi forum akademik yang mempertemukan para peneliti dan akademisi untuk membahas berbagai isu strategis terkait energi, lingkungan, dan sistem informasi serta mencari solusi berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan. (wb/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat