FISIP UNDIP dan DP3AKB Jateng Jalin Kerja Sama Cegah Kekerasan Seksual di Kampus
Semarang, JatimUPdate.id — FISIP Universitas Diponegoro (UNDIP) bersama DP3AKB Jawa Tengah memperkuat komitmen menciptakan lingkungan kampus yang aman melalui Talkshow Kampus Bebas Kekerasan: Edukasi Kesadaran Relasi dan Pencegahan Kekerasan Seksual, Rabu (9/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Teater Gedung C Lantai 1 FISIP UNDIP tersebut diawali dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara FISIP UNDIP dan DP3AKB Jawa Tengah.
Dalam sambutannya, Dekan FISIP UNDIP Prof. Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin., menegaskan bahwa kampus harus menerapkan zero tolerance terhadap segala bentuk kekerasan.
“FISIP UNDIP berkomitmen membangun lingkungan kampus yang inklusif dan bebas dari kekerasan, baik kekerasan verbal, psikis, fisik maupun seksual,” tegasnya.
Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP UNDIP sekaligus moderator kegiatan, Jihan Marsya Azahra, S.I.P., M.I.P., mengatakan ruang aman di kampus harus dibangun melalui kesadaran bersama, termasuk keberanian untuk mengenali dan melaporkan kekerasan.
“Ruang aman di kampus bukan sekadar slogan. Mahasiswa perlu memahami kekerasan, consent, dan memiliki keberanian untuk melapor. Hal ini tentu tidak mudah karena sering dibayangi stigma dan victim blaming. Terlebih, AI dan deepfake menghadirkan bentuk kekerasan baru yang perlu kita antisipasi,” ujarnya.
Sementara itu, Lusia Astrika, S.IP., M.Si., dari FISIP Wellness Unit, menegaskan bahwa kekerasan tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga dapat hadir secara verbal maupun dalam relasi personal.
“Dalam lingkungan mahasiswa, kekerasan kerap muncul dalam hubungan asmara. Berawal dari rasa sayang, hubungan tersebut dapat berkembang menjadi kontrol terhadap pasangan. Karena itu, penting bagi mahasiswa mengenali batas antara relasi yang sehat dan perilaku kekerasan,” katanya.
Dari DP3AKB Jawa Tengah, Faisa Mukti Septyani, S.Sos., M.Si., mengatakan tingginya angka kekerasan seksual perlu dibaca secara komprehensif.
“Tingginya angka kekerasan seksual tidak hanya menunjukkan masih adanya persoalan kekerasan, tetapi juga dapat mencerminkan meningkatnya kesadaran korban untuk melapor serta semakin terbukanya akses terhadap mekanisme pelaporan. Pemerintah juga terus melakukan upaya pencegahan, termasuk melalui penguatan satgas dan berbagai layanan perlindungan,” jelasnya.
Dalam sesi diskusi, mahasiswa Ilmu Pemerintahan FISIP UNDIP, Randy Pranata Ginting, turut menyoroti potensi penyalahgunaan teknologi deepfake untuk memanipulasi gambar seseorang. Menurutnya, perkembangan teknologi perlu diikuti dengan mekanisme perlindungan yang mampu menjaga privasi mahasiswa.
“Perkembangan AI seperti deepfake menghadirkan tantangan baru dalam kasus kekerasan seksual. Kita perlu memikirkan mekanisme penanganannya sekaligus memastikan perlindungan terhadap privasi mahasiswa,” ujarnya.
Melalui kerja sama tersebut, FISIP UNDIP dan DP3AKB Jawa Tengah mendorong penguatan edukasi, mekanisme pelaporan, serta kesadaran sivitas akademika untuk bersama-sama mencegah kekerasan dan membangun ruang aman di lingkungan kampus. (rio/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat