catatan tangan kanan wiedmust-070826

Selamat Jalan, Cak Sholeh

Reporter : Redaksi

 

Oleh :  widodo, p.hd

Baca juga: Penjaga Pohon Pisang Itu Telah Pergi

pengamat keruwetan sosial

 

Surabaya, JatimUPdate.id -

Suara Lantang yang Kini Tinggal Kenangan

Ada orang yang ketika pergi hanya meninggalkan nama. Ada pula yang meninggalkan jejak.

Cak Sholeh adalah yang kedua.

Kabar wafatnya Muhammad Sholeh, atau yang akrab disapa Cak Sholeh, Jumat, 7 Agustus 2026, terasa seperti kehilangan seorang kawan lama.

Bukan hanya bagi keluarga dan sahabat, tetapi juga bagi mereka yang pernah mendengar suaranya membela orang kecil, mengkritik ketidakadilan, atau melihat gayanya yang khas Arek Suroboyo: lugas, ceplas-ceplos dan apa adanya.

Beberapa minggu sebelumnya, ia masih sempat bercanda tentang pipinya yang terlihat semakin tembem.

> “Kenapa Cak Sholeh kok tambah pipine tembem? Iki gak tambah lemu rek, tapi iki efek obat. Mohon doanya ya.”


Kalimat sederhana itu kini terasa begitu dalam.

Saat itu mungkin kita mengira doa masih punya banyak waktu untuk dikirimkan. Ternyata waktu tidak pernah mau berjanji.

Belum genap sebulan, doa berubah menjadi belasungkawa.

Cak Sholeh pergi.

Dan kita baru sadar, ada suara yang selama ini kita anggap akan selalu ada.

Perjalanan Cak Sholeh tidak dimulai dari ruang sidang yang nyaman.

Ia pernah berada di jalanan, berteriak bersama gerakan mahasiswa menjelang runtuhnya Orde Baru. Tahun 1996, ia divonis empat tahun penjara atas tuduhan subversif dan sempat mendekam sekitar satu setengah tahun di Penjara Kalisosok, Surabaya.

Kalisosok mungkin bagi banyak orang hanya nama sebuah penjara tua. Bagi Cak Sholeh, tempat itu adalah bagian dari hidupnya.

Di balik temboknya, ia membaca, berdiskusi, berolahraga dan menonton televisi bersama narapidana lain. Barangkali di sanalah ia belajar bahwa kebebasan bukan sesuatu yang boleh dianggap biasa.

Ketika keluar, ia tidak memilih diam.

Medannya saja yang berubah.

Dari jalanan menuju ruang sidang. Dari demonstrasi menuju dunia advokasi. Dari pengeras suara menuju berkas perkara, televisi, YouTube dan media sosial.

Cak Sholeh kemudian dikenal sebagai advokat yang berani.

Blak-blakan. Lugas. Kadang membuat orang tersenyum, tetapi sering pula membuat pihak yang dikritiknya tidak nyaman.

Ia mendampingi mereka yang merasa hukum terlalu jauh untuk dijangkau.

Lalu melekatlah kalimat:

“No Viral No Justice.”

Bagi sebagian orang mungkin hanya slogan. Bagi Cak Sholeh, barangkali itu adalah kegelisahan: hukum jangan baru bergerak ketika kamera datang, ketika masyarakat ramai berbicara, ketika perkara menjadi viral.

Baca juga: Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Meninggal Dunia akibat Serangan Jantung

Ia ingin hukum bekerja bukan karena seseorang terkenal.

Bukan karena perkara itu ramai.

Tetapi karena memang ada manusia yang membutuhkan keadilan.

Ada jejak Cak Sholeh yang mungkin tidak banyak diingat.

Pada 2008, ia mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi terkait sistem pemilu legislatif. Gugatan itu dikabulkan dan kemudian menjadi bagian dari lahirnya sistem proporsional terbuka pada Pemilu 2009.

Bagi Cak Sholeh, demokrasi bukan sekadar kata indah di podium. Demokrasi harus terasa sampai ke tangan rakyat biasa.

Kini semuanya berhenti.

Tidak ada lagi suara Cak Sholeh di jalan.

Tidak ada lagi argumentasinya yang tajam di ruang sidang.

Tidak ada lagi video yang tiba-tiba muncul di media sosial, dengan gaya khasnya, membicarakan hukum dengan bahasa yang mudah dipahami orang awam.

Kita mungkin kehilangan satu video. Lalu video berikutnya.

Sampai suatu hari kita sadar:

Tidak akan ada video berikutnya.

Di situlah kehilangan terasa paling sakit.

Sebab kematian bukan hanya tentang seseorang yang tidak lagi bernapas. Kematian adalah ketika foto dan videonya masih ada, nomor teleponnya masih tersimpan, tetapi orangnya tidak akan pernah lagi menjawab ketika kita memanggil.

Baca juga: Pemerintah Tetapkan Berkabung Nasional, Bendera Setengah Tiang untuk Hormati Try Sutrisno

Cak Sholeh telah pergi.

Namun ia meninggalkan sesuatu yang lebih besar daripada namanya: keberanian untuk bersuara ketika yang lain memilih diam, keberanian membela yang lemah, dan keyakinan bahwa hukum seharusnya berdiri di sisi keadilan.

Selamat jalan, Cak Sholeh.

Dulu suaramu lantang membelah jalanan Surabaya.

Kini suara itu telah berhenti.

Tetapi mungkin, justru setelah kepergianmu, suara itu akan hidup di kepala banyak orang.

Suara yang mengingatkan:

Jangan biarkan orang kecil berjuang sendirian.

Jangan biarkan keadilan hanya datang kepada mereka yang punya kuasa.

Dan jangan pernah berhenti bersuara hanya karena suara kita kecil.

Selamat jalan, Cak Sholeh.

Istirahatlah dengan tenang.

Perjuanganmu telah selesai.

Sekarang giliran kami yang meneruskannya.

 

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru