Oleh Dr. Agus Andi Subroto, S.T.P., M.M.
Baca juga: Pokja Bunda PAUD Bondowoso Dorong Guru Manfaatkan AI, Bukan Gantikan Peran Pendidik
Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan, Ketua Umum DPD AFEBSI Jawa Timur, Wasekjen IDEI (Insan Doktor Ekonomi Indonesia)
Surabaya, JatimUPdate.id - Rabu pagi, 12 Agustus 2026. Seperti biasa, hari saya dimulai dengan ritme yang sangat manusiawi: mengantar sang belahan jiwa ke gerbang baktinya di RSUD Dr. Soetomo.
Di atas "kuda terbang" tua, sembari membelah udara pagi Surabaya yang mulai hangat, pikiran saya tiba-tiba ditarik oleh memori tentang sosok agung, *Ki Hadjar Dewantaro*.
Agustus memang bulan kemerdekaan, namun pagi ini ingatan saya tentang beliau melampaui seremoni bendera. Saya teringat akan perjuangan organik beliau di Taman Siswa Yogyakarta—sebuah gerakan ideologis yang misi utamanya bukan sekadar mencerdaskan otak, melainkan Memerdekakan Jiwa.
Kini, kita berada di era mesin kecerdasan (AI) dan kelimpahan data. Muncul sebuah kegelisahan di batin saya sebagai pendidik: Adakah pendidikan kita hari ini masih di-drive oleh spirit yang sama dengan sang Begawan tersebut? Ataukah kita sedang terjebak dalam otomasi yang tanpa nyawa?
Baca juga: Dedikasi Tanpa Batas Esensi Etika Seorang Pendidik
Dalam kacamata manajemen modern, ajaran Ki Hadjar Dewantara— Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani —adalah manifestasi tertinggi dari Humanistic Management.
Di era di mana algoritma bisa mengerjakan logika, tugas pendidik adalah mengembalikan "Ruh" ke dalam ruang kelas. Kita butuh konversi ulang nilai-nilai lama ini agar tetap relevan dengan zaman.
Pendidikan masa depan tidak boleh hanya mengejar kompetensi teknis, tetapi harus melahirkan manusia yang "Selesai dengan Dirinya".
Manusia yang merdeka adalah mereka yang tidak lagi mencari validasi dari atribut lahiriah, melainkan mereka yang merasa Berlimpah karena mampu memberi manfaat.
Baca juga: Go International! IBS PKMKK Pamekasan Gandeng Investor Yordania Kembangkan Wisata Edukasi
Inilah tantangan besar bagi kita, para pengukir SDM Nusantara. Kita harus mendidik mahasiswa agar mereka memiliki ketangkasan teknologi, namun tetap memiliki adab untuk "ngemong" sesama. Kita butuh sarjana yang tidak minder meski lahir dari kampus daerah, karena mereka dididik untuk menjadi subjek yang memerintah realitas, bukan objek yang diperintah oleh algoritma.
Bagi saya, pengabdian di ruang kelas—apakah itu saat membedah teori kepemimpinan atau saat berbagi cerita dari aspal jalanan—adalah ibadah untuk merawat akar tradisi. Kita tidak perlu membuang modernitas, kita hanya perlu memastikan bahwa di balik kecanggihan mesin, ada hati manusia Nusantara yang tetap bergetar oleh cinta pada Ibu Pertiwi.
Jeda pagi ini menyadarkan saya, bahwa menjadi pendidik adalah menjadi "Soko Guru" (Tiang Penyangga). Tugas kita adalah memastikan gedung peradaban bangsa ini tetap kokoh, meski badai disrupsi datang silih berganti. Mari kita merdekakan pikiran anak didik kita, agar kelak mereka tumbuh menjadi pohon rimbun yang menaungi masa depan Nusantara.
Editor : Redaksi