Oleh: Tri Prakoso, SH., M.HP (Wakil Ketua Umum Bidang Migas Kadin Jatim)
Sunyi yang Bergerak: Mengurai Hikmah di Balik Bilik Santri
Baca juga: KH Thoha Zakariya: Kesehatan Santri, Ustadz, dan Dosen Jadi Prioritas
JatimUPdate.id - DI tengah riuh rendah deru modernisasi dan kepungan sistem kapitalisme global yang kian mencengkeram, ada sebuah keheningan yang senantiasa berdenyut secara konsisten di dalam surau-surau dan pondok pesantren Nusantara. Keheningan itu bukanlah sebuah bentuk kepasrahan yang pasif atau keterasingan dari realitas sosial yang bising. Sebaliknya, keheningan pesantren adalah manifestasi dari tirakat panjang, sebuah wahana kontemplasi di mana nilai-nilai ketuhanan dialirkan ke dalam denyut nadi kehidupan nyata.
Sejak berabad-abad silam, pesantren di tanah Jawa tidak sekadar berdiri sebagai benteng pertahanan keagamaan atau kawah candradimuka persemaian ilmu-ilmu syariat. Lebih jauh dari sekadar lembaga pendidikan formal, pesantren adalah episode peradaban tentang bagaimana spiritualitas dianyam secara sangat halus bersama perjuangan hidup sehari-hari. Agama tidak pernah dipahami secara sekat-sekat dogmatis yang mandul, melainkan sebagai ruhmah—kasih sayang yang menjelma dalam tindakan nyata untuk mengangkat harkat martabat kemanusiaan.
Dalam kacamata keilmuan tasawuf, setiap gerak kehidupan seorang hamba idealnya merupakan pembuktian dari konsep maqam (stasiun spiritual) yang berhasil dilalui. Seorang penempuh jalan spiritual (salik) tidak diajarkan untuk menarik diri dari pasar, ladang, atau pusat-pusat perdagangan. Dunia tidak untuk dibenci, melainkan untuk ditaklukkan di dalam genggaman, tanpa pernah dibiarkan masuk dan bersemayam di dalam hati. Di sinilah letak dialektika sufistik yang amat anggun: bekerja, bertani, dan berdagang bukan sekadar urusan mencari sesuap nasi atau mengejar akumulasi modal, melainkan bagian dari ritus peribadatan yang luhur.
Fenomena inilah yang hari ini kembali mengemuka dengan narasi yang lebih segar di kawasan Jawa Timur. Ranah yang dikenal sebagai jantung tradisi keislaman Nusantara ini kembali menyaksikan pertautan yang sangat intim antara nilai-nilai keimanan yang sublim dan kejelian membaca arah ekonomi modern. Di tengah dinamika tersebut, muncul sosok-sosok pemikir dan praktisi lapangan yang mampu menjembatani dua dunia yang kerap dianggap berseberangan oleh cara pandang Barat: dunia mistisisme ruang gelap pesantren dan dunia rasionalitas ruang terang korporasi.
Salah satu figur yang menarik perhatian dalam konstelasi ini adalah H. Gudfan Arif Ghofur, atau yang secara akrab dan penuh takzim disapa masyarakat sebagai Gus Gudfan. Sebagai seorang putra ulama kharismatik dari Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan, KH. Abdul Ghofur, Gus Gudfan tumbuh dalam tradisi keilmuan yang tidak hanya menekankan penghafalan kitab-kitab kuning, tetapi juga penghayatan atas kemandirian hidup. Di tubuhnya mengalir darah para pemakmur bumi yang memandang bahwa kemiskinan materiil adalah pintu masuk menuju kemiskinan spiritual.
Kehadiran sosok seperti Gus Gudfan dalam lanskap perekonomian regional membawa kita pada refleksi yang mendalam tentang makna sejati dari keterlibatan umat Islam dalam ranah ekonomi makro. Ketika seorang tokoh yang lahir dan dibesarkan dalam rahim pesantren memegang posisi strategis di Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, interaksi yang terjadi bukanlah sekadar transaksi komersial biasa. Di sana terjadi perjumpaan takdir antara etika keagamaan yang luhur dan profesionalisme yang presisi.
Sebagaimana telah kita kaji dalam tulisan-tulisan sebelumnya—dari "Jalan Sunyi Gus Gudfan" hingga "Dari Hasan Gipo ke Gus Gudfan: Saudagar-Santri untuk Abad Kedua NU"—pesantren bukanlah ruang yang asing bagi logika ekonomi. Sejarah panjang Islam Nusantara justru dibangun di atas fondasi Nahdlatut Tujjar—kebangkitan para pedagang—yang menjadi salah satu pilar kelahiran NU. Gus Gudfan adalah pewaris sah dari fondasi itu: seorang saudagar-santri yang memikul dua amanah sekaligus: amanah langit dan amanah bumi.
*Menatap Siluet Sunan Drajat: Warisan Kedermawanan dan Filosofi Pitu*
Untuk memahami jejak pemikiran dan langkah nyata Gus Gudfan Arif Ghofur, mata sejarah kita harus ditarik mundur menuju pesisir utara Lamongan, tempat Sunan Drajat—salah satu dari Wali Songo—menancapkan pilar-pilar dakwah Islamiyah pada abad ke-15. Raden Qasim, yang kemudian bergelar Sunan Drajat, meninggalkan sebuah warisan kearifan lokal yang teramat monumental dalam bentuk Filosofi Catur Pitutur atau ajaran-ajaran utama tentang kemanusiaan dan kepedulian sosial.
Pesan-pesan Sunan Drajat yang diabadikan dalam relief bambu dan batu di kompleks makamnya tidak berbicara tentang rumitnya tekstualitas teologi metafisika, melainkan tentang instruksi sosial yang sangat konkret:
_”Wenehana tekan marang wong kang wuta, wenehana mangan marang wong kang luwe, wenehana pakaian marang wong kang wuda, wenehana payung marang wong kang kodanan."_
(Berikan tongkat kepada orang yang buta, berikan makan kepada orang yang lapar, berikan pakaian kepada orang yang telanjang, berikan payung kepada orang yang kehujanan).
Secara teologis, ajaran Sunan Drajat ini adalah pembacaan sufistik yang sangat membumi atas ajaran Islam. Dakwah tidak akan pernah bisa menyentuh kedalaman jiwa seseorang apabila perut mereka masih merintih kesakitan karena kelaparan. Kesejahteraan ekonomi adalah syarat mutlak bagi lahirnya ketenangan batin dalam beribadah. Konsep ini kemudian diterjemahkan secara konsisten oleh pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat modern, KH. Abdul Ghofur, dan diteruskan oleh putranya, Gus Gudfan.
Dalam kajian-kajian sebelumnya—khususnya "Garis Keberuntunganmu, Mewarisi Kebaikan Pendahulumu"—kita telah menelusuri bagaimana Kiai Ghofur mengubah pesantrennya menjadi imperium ekonomi yang mandiri. Di bawah naungan Pesantren Sunan Drajat, kemandirian ekonomi bukan sekadar wacana di atas kertas seminar. Pesantren ini berdiri sebagai sebuah imperium bisnis sosial yang mengelola puluhan unit usaha, mulai dari perkebunan, peternakan, pengolahan hasil laut, hingga galangan kapal dan tambang dolomit. Pesantren tidak lagi menjadi pemohon sumbangan yang menggantungkan hidup pada belas kasihan para dermawan atau proposal pemerintah, melainkan menjadi subjek ekonomi yang memberi penghidupan bagi ribuan santri dan warga sekitar.
Gus Gudfan tumbuh dalam ekosistem unik ini. Ia menyaksikan sendiri bagaimana sang ayah, Kiai Ghofur, tidak hanya mengajar santri membaca kitab Fathul Qarib atau Ihya' Ulumuddin di waktu subuh, tetapi juga langsung turun ke lapangan untuk memeriksa mesin pabrik minyak kayu putih atau mengawasi panen ikan di tambak. Proses pendidikan informal ini membentuk pola pikir (mindset) Gus Gudfan bahwa antara sajadah dan mesin produksi tidak ada jarak pemisah. Keduanya adalah instrumen untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam pandangan dunia sufistik Gus Gudfan, kemandirian pesantren secara ekonomi adalah manifestasi dari Izzah—keluhuran dan harga diri umat Islam. Ketika sebuah pesantren mandiri secara finansial, maka dakwah yang disampaikannya akan merdeka dari benturan kepentingan politik transaksional maupun dikte kekuatan pemilik modal. Pesantren bisa secara lantang menyuarakan kebenaran dan kebajikan tanpa takut diancam dibendung sumber pendanaannya.
Tirakat ekonomi ini kemudian dibawa oleh Gus Gudfan ketika ia melangkah keluar dari batas-batas geografis pesantren menuju arena yang lebih luas. Ia tidak membatasi diri hanya pada ranah tradisional, melainkan memberanikan diri masuk ke dalam sektor-sektor ekonomi yang highly regulated dan membutuhkan kapasitas teknis tinggi, seperti industri hulu minyak dan gas bumi (Migas). Ini adalah wujud dari konsep khalwat dar anjuman yang telah kita kaji—menyepi di tengah keramaian, berdzikir di dalam gemuruh mesin, menjaga hati tetap suci di tengah hiruk-pikuk transaksi.
*Jembatan Dua Dunia: Perjumpaan Kadin Jatim dan Spiritualitas Pesantren*
Keterlibatan Gus Gudfan Arif Ghofur dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur selama dua periode sebagai Ketua Komite Tetap Hulu Migas bukanlah sebuah kebetulan sejarah. Ini adalah buah dari proses dialog panjang antara dunia usaha profesional dan dunia pesantren yang berlangsung secara intensif di Jawa Timur.
Secara historis, hubungan antara Kadin Jatim dan jajaran pengasuh pesantren serta institusi Nahdlatul Ulama (NU) di Jawa Timur telah terjalin sangat erat. Kadin Jatim di bawah kepemimpinan para tokohnya menyadari betul bahwa perekonomian Jawa Timur tidak akan pernah bisa tumbuh secara inklusif dan berkelanjutan tanpa melibatkan ekosistem pesantren. Dengan jutaan santri, puluhan ribu pesantren, dan basis massa akar rumput yang sangat solid, pesantren adalah raksasa ekonomi yang selama ini masih tertidur (sleeping giant).
Masuknya figur-figur NU dan putra kiai seperti Gus Gudfan ke dalam struktur pengurus pleno Kadin Jatim memberikan warna baru dalam perumusan kebijakan ekonomi daerah. Kehadiran Gus Gudfan menjadi jembatan kultural dan profesional yang menghubungkan bahasa-bahasa korporat seperti return on investment (ROI), efficiency, dan supply chain management dengan bahasa-bahasa pesantren seperti keberkahan, maslahat, dan kemandirian umat.
Sebagai Ketua Komite Tetap Hulu Migas Kadin Jatim, Gus Gudfan membuktikan bahwa nilai-nilai keislaman dan ke-NU-an tidak menghambat seseorang untuk bersaing secara profesional di sektor industri paling berat dan kompleks. Industri hulu migas, yang sarat dengan modal besar, teknologi tinggi, dan risiko tinggi, dihadapi Gus Gudfan dengan ketenangan khas seorang penempuh spiritual.
Bagi Gus Gudfan, mengelola urusan hulu migas bukan sekadar mengeksplorasi kandungan minyak dan gas yang tersembunyi di dalam perut bumi Nusantara. Dalam perspektif tasawuf ekologis (ecotheology), sumber daya alam adalah amanah (wadi'ah) dari Sang Pencipta yang dititipkan kepada manusia untuk dikelola demi kemakmuran bersama. Eksplorasi tidak boleh merusak keseimbangan alam, dan hasilnya harus mampu dirasakan kemanfaatannya oleh masyarakat lokal di sekitar wilayah operasi, termasuk komunitas pesantren.
Melalui posisi strategisnya di Kadin Jatim, Gus Gudfan secara konsisten mendorong agar korporasi-korporasi besar di Jawa Timur membuka pintu kemitraan yang adil dengan unit-unit usaha milik pesantren. Ini bukan sebuah bentuk karitas atau belas kasihan (charity), melainkan sebuah bentuk kemitraan bisnis yang saling menguntungkan (business-to-business). Pesantren dituntut untuk meningkatkan standar kualitas produksi dan manajemen keuangannya, sementara dunia usaha memberikan akses pasar dan transfer teknologi.
Kerja sama ini secara pelan tapi pasti mulai mengubah lanskap perekonomian Jawa Timur. Pesantren tidak lagi dipandang sebagai entitas penerima dana bantuan sosial (social grant), melainkan sebagai mitra bisnis yang tangguh, tepercaya, dan memiliki integritas moral yang tinggi. Inilah perwujudan dari arketipe saudagar-santri yang telah kita kaji dalam tulisan "Dari Hasan Gipo ke Gus Gudfan"—sebuah siklus sejarah yang berulang setelah seratus tahun, di mana seorang saudagar keturunan wali kembali memegang kendali ekonomi umat.
*HalaMart: Manifestasi Sufistik Ekonomi Kerakyatan*
Salah satu terobosan paling konkret yang digagas oleh Gus Gudfan Arif Ghofur dalam rangka mendorong kemandirian ekonomi pesantren dan warga NU adalah pendirian jaringan minimarket HalaMart. Langkah ini merupakan bentuk pemikiran kritis terhadap dominasi ritel modern yang selama ini kerap mematikan warung-warung kecil milik warga lokal dan menguras potensi ekonomi lokal ke luar daerah.
Secara kasat mata, HalaMart tampak seperti minimarket modern pada umumnya yang bersih, nyaman, dan menggunakan sistem kasir terintegrasi. Namun, di balik tampilan fisiknya yang modern, HalaMart membawa filosofi spiritual dan keumatan yang sangat mendalam.
Kata "Hala" tidak sekadar merujuk pada prinsip halal dalam konteks hukum fikih makanan dan minuman, tetapi juga mengandung makna thayyib (baik, sehat, dan beretika). HalaMart didesain sebagai sebuah ekosistem ekonomi berbasis komunitas (community-based economy) di mana kepemilikan saham, rantai pasok (supply chain), dan penyerapan produk lokal diprioritaskan untuk warga dan pesantren setempat.
Dalam perspektif sufistik yang dihayati Gus Gudfan, perputaran uang di dalam jaringan HalaMart adalah upaya untuk menjaga kesucian transaksi (thaharatul mu'amalah). Ketika seorang konsumen berbelanja di HalaMart, setiap rupiah yang dibayarkannya tidak mengalir ke kantong pemilik modal tunggal yang berada jauh di ibu kota atau luar negeri. Sebagian dari keuntungan (margin) itu kembali ke pesantren untuk membiayai pendidikan santri yatim, memperbaiki sarana ibadah, dan menggerakkan roda ekonomi masyarakat sekitar.
Gus Gudfan memahami betul konsep barakah dalam perdagangan. Dalam tradisi Islam, keberkahan bukanlah sebuah konsep mistis yang tidak dapat diukur, melainkan sebuah kondisi di mana harta yang sedikit mampu mencukupi kebutuhan banyak orang, dan harta yang banyak memberikan kebaikan yang terus meluas (ziyadatul khair). HalaMart diciptakan sebagai wadah untuk menyemaikan keberkahan tersebut dalam skala yang terukur dan profesional.
Dalam perspektif Catur Piwulang Sunan Drajat, HalaMart adalah "tongkat" bagi yang buta—karena ia memberikan akses kepada warga pesantren terhadap kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Ia adalah "makanan" bagi yang lapar—karena ia membuka lapangan kerja bagi santri dan alumni pesantren. Ia adalah "pakaian" bagi yang telanjang—karena ia membangun martabat ekonomi komunitas. Dan ia adalah "payung" bagi yang kehujanan—karena ia adalah ekosistem ekonomi yang berpihak kepada umat.
Kehadiran HalaMart juga menjadi jawaban atas kerinduan warga Nahdhiyyin akan adanya jaringan ritel milik sendiri yang mampu bersaing dalam hal kualitas pelayanan tanpa harus mengorbankan nilai-nilai keislaman. Di dalam HalaMart, produk-produk hasil karya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) milik warga dan pesantren diberikan ruang khusus untuk dipasarkan di rak-rak terdepan. Ini adalah bentuk nyata dari keberpihakan politik ekonomi yang diusung oleh Gus Gudfan.
Baca juga: Khofifah: Santri Harus Jadi Kekuatan Intelektual dan Moral Menuju Indonesia Emas 2045
Langkah ini membuktikan bahwa modernisasi tidak harus mengubur nilai-nilai tradisi. Sebaliknya, teknologi dan manajemen modern justru digunakan sebagai alat untuk memperkuat tradisi kemandirian yang telah lama hidup di dalam pesantren. Dalam kerangka sufistik, HalaMart adalah Baitul Mal al-Asghar—bendahara kecil umat yang menjaga sirkulasi rezeki di dalam komunitas, memastikan bahwa uang tidak hanya berputar di tangan para pemodal besar, tetapi juga mengalir ke tangan para santri, ibu rumah tangga, dan petani lokal.
*Menatap Muktamar NU ke-35 di Tambakberas: Momentum Kedaulatan Ekonomi*
Langkah dan pemikiran Gus Gudfan Arif Ghofur kini berada di persimpangan jalan sejarah yang amat penting. Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang diproyeksikan akan berlangsung di bumi pergerakan Tambakberas, Jombang, harapan dan aspirasi agar NU kembali menempatkan agenda kemandirian ekonomi sebagai panglima gerakan kian menguat dari berbagai penjuru.
Tambakberas Jombang bukan sekadar lokasi geografis. Ia adalah tempat yang sarat dengan nilai-nilai sejarah pergerakan Islam Nusantara. Di sinilah para pendiri NU, seperti KH. Wahab Chasbullah, merumuskan gagasan-gagasan besar tentang kebangsaan dan keumatan. Sebelum mendirikan Nahdlatul Ulama pada tahun 1926, Kiai Wahab Chasbullah terlebih dahulu mendirikan Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Para Pedagang) pada tahun 1918.
Fakta sejarah ini sering kali terlupakan dalam diskursus ke-NU-an modern. Nahdlatut Tujjar adalah bukti otentik bahwa sejak awal mulanya, pendirian NU tidak bisa dilepaskan dari akar gerakan ekonomi. Para kiai pendiri NU adalah para pengusaha dan pedagang yang mandiri secara finansial. Karena kemandirian itulah, mereka memiliki kemerdekaan berpikir dan bertindak dalam melawan penjajahan kolonial Belanda. Sebagaimana telah kita kaji dalam tulisan "Misteri Angka 27 dan Jejak Trah Ampel Denta", Tambakberas adalah titik di mana masa lalu dan masa depan bertemu—di mana arketipe saudagar-santri Hasan Gipo bergema kembali dalam sosok Gus Gudfan.
Muktamar NU ke-35 di Tambakberas dipandang oleh banyak pihak, khususnya Kadin Jatim dan kalangan pengusaha muda NU, sebagai momen krusial untuk melakukan ijtihad ekonomi secara komprehensif. NU tidak boleh lagi hanya terjebak dalam pusaran politik praktis yang melelahkan dan sering kali memecah belah keutuhan jam'iyah. NU harus kembali ke jamrah pergerakannya: membangun kedaulatan ekonomi warga (izzatul ishlah).
Dalam konteks inilah, nama Gus Gudfan Arif Ghofur mencuat sebagai salah satu figur pencerah. Pengalaman panjangnya yang memadukan kepemimpinan kultural pesantren dan kepemimpinan profesional di Kadin Jatim dinilai sebagai modal yang sangat berharga untuk membawa Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menuju era baru kepemimpinan yang berorientasi pada kemandirian ekonomi.
Bagi Kadin Jatim, terbentuknya kepemimpinan PBNU yang memiliki visi ekonomi yang kuat dan teruji di lapangan adalah sebuah keharusan sejarah. Sinergi antara Kadin dan PBNU di masa depan diharapkan tidak lagi sekadar berwujud penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di atas panggung seremoni, melainkan menjelma menjadi aksi-aksi nyata dalam bentuk pembentukan holding bisnis NU, konsolidasi lembaga keuangan syariah berbasis pesantren, dan penetrasi produk-produk warga NU ke pasar internasional.
Apabila Gus Gudfan bersedia melangkah dan menerima amanah untuk menjadi bagian dari jajaran Pemimpin PBNU—sebuah panggilan yang oleh banyak pihak dipandang sebagai panggilan dan perintah semesta—proses transformasi ekonomi Nahdlatul Ulama diyakini akan berjalan jauh lebih cepat dan terarah. Gus Gudfan tidak hanya membawa ide, tetapi juga membawa rekam jejak (track record) yang sudah teruji dalam mengelola industri berskala nasional.
*Perintah Semesta dan Kepemimpinan Spiritual yang Melayani*
Dalam kosmologi sufi, kepemimpinan bukanlah sesuatu yang dicari dengan ambisi yang meletup-letup (thalab ar-riyasah). Kepemimpinan adalah sebuah beban amanah (taklif) yang sangat berat, yang sering kali mendatangi seseorang melalui mekanisme yang tak terduga—sebuah konspirasi kebaikan yang dirancang oleh semesta (amr al-kaun).
Ketika ungkapan "perintah semesta" disematkan pada dorongan agar Gus Gudfan bersedia memimpin PBNU, ungkapan itu tidak boleh dipahami secara dangkal sebagai narasi politik belaka. Dalam perspektif tasawuf, perintah semesta adalah keselarasan antara kebutuhan zaman, kesiapan mental sang individu, dan ridha Ilahi yang mewujud melalui dukungan dari para ulama, santri, dan masyarakat luas.
Seorang pemimpin sufi tidak pernah memandang jabatan sebagai alat untuk menumpuk kekuasaan atau mencari penghormatan publik. Jabatan adalah sarana untuk memberikan pelayanan yang lebih luas (khidmah). Sebagaimana kaidah fikih yang sangat terkenal: Tasharruful imam 'alar ra'iyyah manutun bil maslahah—kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyatnya harus didasarkan pada kemaslahatan.
Dalam konteks Gus Gudfan, kepemimpinan di PBNU kelak adalah bentuk khidmah tertinggi untuk memastikan bahwa tidak ada lagi santri yang terhenti cita-citanya karena tidak mampu membayar biaya pendidikan, tidak ada lagi petani dan nelayan Nahdhiyyin yang terjerat tengkulak karena tidak memiliki akses modal, dan tidak ada lagi pesantren yang terpaksa menggadaikan idealismenya karena kesulitan finansial.
Sebagaimana telah kita kaji dalam "Sasmita Penolakan dan Rahasia Trah Para Pendiri", penolakan Gus Gudfan untuk dicalonkan—"Tak ngancani para santri ngaji ae aku ya"—adalah jawaban yang tuntas. Ia tidak mengejar kuasa; kuasa itu yang mendatanginya. Ia tidak membangun koalisi agresif; koalisi itu yang terbentuk di sekelilingnya. Dalam kerangka The Surrender yang telah kita ulas, penolakan itu adalah taslim—kepasrahan total yang justru membuka pintu pertolongan Ilahi.
Gus Gudfan dipandang memiliki kualitas kepemimpinan sufistik yang langka: ia fleksibel dalam berinteraksi dengan berbagai kalangan (luwes), namun tetap kokoh dalam memegang prinsip-prinsip dasar syariat dan etika (regep). Ia bisa duduk dengan nyaman bersama para menteri dan CEO korporasi multinasional di gedung-gedung pencakar langit, namun di saat yang sama bisa duduk bersila dengan penuh khidmat di atas tikar pandan bersama para santri dan petani di pelosok desa.
Kemampuan untuk memadukan dua dimensi ini—dimensi langit yang teduh dan dimensi bumi yang nyata—adalah kualifikasi utama yang dibutuhkan oleh kepemimpinan NU di era disrupsi teknologi dan ketidakpastian ekonomi global.
Baca juga: Hari Santri Nasional, Muhammad Saifuddin: Santri Harus Melek Digital Tapi Tetap Berakhlak
*Rekonsiliasi Zikir dan Pikir: Menuju Peradaban Pesantren Modern*
Upaya menggerakkan kemandirian ekonomi pesantren yang diusung oleh Gus Gudfan Arif Ghofur pada hakikatnya adalah sebuah usaha untuk melakukan rekonsiliasi antara zikir (pembinaan spiritual) dan pikir (pengembangan intelektual dan rasionalitas ekonomi).
Selama ini, terdapat dikotomi yang keliru dalam sebagian masyarakat Islam yang mempertentangkan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. Mencari harta sering kali dituduh sebagai bentuk hubbud dunya (cinta dunia) yang dapat merusak kesucian hati. Pandangan fatamorgana ini telah menyebabkan sebagian umat Islam tertinggal jauh dalam penguasaan sumber-sumber daya ekonomi strategis.
Melalui pendekatan sufistik yang integratif, Gus Gudfan mengikis pemahaman keliru tersebut. Harta benda di tangan orang yang beriman dan bertakwa tidak akan pernah menjadi racun, melainkan menjadi obat (dawa') bagi berbagai penyakit sosial. Harta di tangan seorang sufi adalah instrumen untuk menegakkan keadilan, membantu yang lemah, dan membiayai perjuangan syiar Islam yang damai dan menyejukkan.
Dalam pandangan ini, mendirikan pabrik, membangun jaringan minimarket seperti HalaMart, mengelola sumur migas, dan mengorganisasi UMKM pesantren adalah bentuk zikir yang nyata. Ia adalah zikir fi'li (zikir melalui perbuatan) yang derajatnya tidak kalah mulia dibandingkan dengan zikir lisan yang diucapkan ribuan kali di dalam iktikaf.
Ketika sebuah pesantren mampu memproduksi kebutuhan pokoknya sendiri, mengolah limbahnya menjadi energi terbarukan, dan memiliki jaringan distribusi produknya sendiri, maka pesantren tersebut telah mencapai tingkat ketakwaan sosial yang tinggi. Pesantren tersebut tidak lagi menjadi beban bagi sistem sosial di sekitarnya, melainkan menjadi pilar penyangga stabilitas nasional.
Model kemandirian berbasis spiritualitas inilah yang kini terus disemai oleh Gus Gudfan bersama Kadin Jatim dan jaringan pesantren di Jawa Timur. Sebuah model yang tidak hanya mengandalkan rasionalitas angka-angka statistik, tetapi juga melibatkan kekuatan doa, keberkahan guru, dan ketulusan niat untuk melayani sesama.
Sebagaimana telah kita kaji dalam "Bunga Rampai Sufisme Politik", kemandirian ekonomi adalah jangkar tauhid sosial—sebuah pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya tempat bergantung, dan karena itu manusia harus membangun kemandirian agar tidak menyekutukan Allah dengan ketergantungan pada makhluk. Inilah yang oleh Sunan Drajat diwariskan melalui Catur Piwulang-nya, dan inilah yang kini dihidupkan kembali oleh keturunannya yang ke-16.
*Penutup: Menyongsong Fajar Baru Kemandirian Umat*
Perjalanan panjang yang ditempuh oleh Gus Gudfan Arif Ghofur—dari bilik-bilik pesantren Sunan Drajat hingga ke panggung ekonomi makro bersama Kadin Jatim—memberikan kita pelajaran berharga tentang arti penting sebuah keteguhan niat dan kejelasan visi.
Kemandirian ekonomi pesantren bukanlah sebuah impian utopia yang mustahil untuk diwujudkan. Ia adalah realitas yang sedang merayap bangun, sebuah fajar baru yang mulai menyingsing di ufuk timur Jawa. Dengan fondasi spiritualitas yang kokoh, warisan ajaran kedermawanan para wali, serta keterbukaan terhadap manajemen dan teknologi modern, pesantren siap mengambil alih peran kepemimpinan ekonomi umat.
Menjelang Muktamar NU ke-35 di Tambakberas Jombang, panggilan sejarah itu kian nyaring terdengar. Langkah-langkah strategis yang telah diayunkan oleh Gus Gudfan, mulai dari pengelolaan sektor hulu migas hingga inisiatif riil seperti HalaMart, menjadi bukti bahwa generasi muda pesantren memiliki kapasitas yang lebih dari cukup untuk mengakhiri era ketergantungan ekonomi.
Jika semesta akhirnya memanggil Gus Gudfan Arif Ghofur untuk mengemban amanah yang lebih besar di puncak kepemimpinan PBNU, maka itu bukanlah sekadar kemenangan seorang individu. Itu adalah kemenangan dari sebuah gagasan besar: gagasan tentang Islam yang menyejahterakan, Islam yang mandiri, dan Islam yang menghadirkan keberkahan nyata bagi seluruh alam (Rahmatan lil 'Alamin).
Di balik kesederhanaan pakaian dan kesejukan tutur katanya, Gus Gudfan mengajarkan kepada kita bahwa sains, ekonomi, dan tasawuf dapat berpadu secara harmonis dalam satu tarikan napas. Dan dari Jawa Timur, pesan kemandirian itu kini bergema ke seluruh penjuru Nusantara, memanggil setiap anak bangsa untuk bangkit, berdiri di atas kaki sendiri, dan menatap masa depan dengan penuh rasa percaya diri dan martabat yang luhur.
Di bawah sorban malam yang mengayomi bumi Jombang, di pelataran makam para wali, doa-doa terus dipanjatkan. Dan doa-doa itu—bukan lobi-lobi politik, bukan mesin-mesin pencitraan—yang pada akhirnya akan menentukan masa depan Nahdlatul Ulama. Sebagaimana kata para leluhur: "Wong kang wis ditandhani langit, ora bakal bisa mlayu saka takdire"—orang yang telah ditandai langit tidak akan bisa lari dari takdirnya.
Wallāhu a'lam bi al-shawāb.
Tri Prakoso, SH., M.HP adalah Wakil Ketua Umum Bidang Migas Kadin Jatim, pemerhati tasawuf dan ekonomi pesantren, serta praktisi kemandirian ekonomi umat di Jawa Timur. Tulisan ini merupakan refleksi pribadi yang menggabungkan perspektif sufistik, ekonomi, dan dinamika kepemimpinan Nahdlatul Ulama kontemporer.
Editor : Yuris. T. Hidayat