Ansor Jatim Apresiasi Pengungkapan 2,6 Ton Sabu Cair di Kepri

Reporter : Ibrahim
Konferensi pers terkait pengungkapan 2,6 Ton Sabu Cair di Kepri, dok istimewa

Surabaya,JatimUPdate.id - Ketua PW GP Ansor Jawa Timur Musaffa Safril mengapresiasi operasi gabungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, dan Kepolisian Daerah Kepulauan Riau yang menggagalkan penyelundupan sekitar 2,6 ton methamphetamine atau sabu cair di perairan Kepulauan Riau.

Dalam operasi itu, petugas juga mengamankan 1.570.000 batang rokok tanpa pita cukai.

Baca juga: Musancab Serentak, PKB Surabaya Perkuat Struktur hingga Tingkat Kecamatan

Musaffa mengatakan pengungkapan tersebut menunjukkan pentingnya kerja sama antarlembaga dalam menghadapi jaringan narkotika yang beroperasi lintas negara.

“Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bea Cukai, BNN, dan Polri atas keberhasilan menggagalkan penyelundupan 2,6 ton sabu cair. Ini tentang keberhasilan menyelamatkan jutaan masa depan anak bangsa,” kata Musaffa, melalui keterangannya yang diterima Minggu (23/8).

Menurut dia, besarnya barang bukti menunjukkan jaringan narkotika terus mencari jalur baru untuk memasukkan narkoba ke Indonesia. 

Pengawasan wilayah perairan, kata Musaffa, perlu diperkuat dengan dukungan intelijen, teknologi, serta pertukaran informasi antarlembaga.

“Jaringan narkotika bekerja secara terorganisasi dan lintas negara, maka jawabannya juga harus berupa sinergi, intelijen yang kuat, teknologi yang memadai, dan keberanian aparat dalam bertindak,” katanya.

Menurut dia, pemberantasan narkotika tidak cukup dilakukan setelah barang masuk ke daratan. Pemetaan jaringan, pengawasan kapal, pertukaran informasi, dan koordinasi antarinstansi dianggap penting untuk mencegah narkotika mencapai pasar.

“Yang paling penting dari operasi ini adalah negara berhasil bergerak sebelum narkotika itu beredar di tengah masyarakat. Inilah wajah penegakan hukum yang kita harapkan: bekerja dengan intelijen, presisi, terukur, dan berpihak pada keselamatan rakyat,” tutur Musaffa.

Ia menyebut estimasi 14,15 juta jiwa yang berpotensi diselamatkan dari penyalahgunaan narkotika memperlihatkan skala ancaman yang berhasil dicegah aparat.

“Kalau kita berbicara 14 juta lebih jiwa yang berpotensi diselamatkan, maka sesungguhnya yang dilakukan aparat bukan hanya menyita barang bukti. Mereka sedang menyelamatkan keluarga, menyelamatkan generasi, dan menjaga masa depan bangsa,” tuturnya.

Baca juga: Lomba Rakyat Digelar Serentak di 38 Daerah, Demokrat Jatim Buka Ruang Aspirasi Warga

Musaffa mengatakan pemberantasan narkotika membutuhkan keterlibatan masyarakat. 

Penindakan hukum, menurut dia, perlu berjalan bersama edukasi, pencegahan, rehabilitasi, serta penguatan peran keluarga dan komunitas.

“Perang melawan narkotika tidak mungkin dimenangkan oleh aparat sendirian. Masyarakat, organisasi kepemudaan, pesantren, sekolah, keluarga, dan seluruh elemen bangsa harus menjadi bagian dari gerakan bersama ini,” katanya.

Selain sabu, petugas mengamankan 1,57 juta batang rokok tanpa pita cukai. Barang tersebut diperkirakan bernilai sekitar Rp3,9 miliar dengan potensi kerugian negara sekitar Rp4,46 miliar.

Musaffa menganggal temuan itu menunjukkan beragamnya modus perdagangan ilegal melalui jalur laut.

Baca juga: HUT ke-28 PAN, DPD Surabaya Ajak 28 Anak Yatim Rayakan Ulang Tahun Partai

“Penemuan rokok ilegal dalam kapal yang sama menunjukkan bahwa modus penyelundupan semakin beragam. Karena itu, pengawasan harus dilakukan secara komprehensif,” ujarnya.

Ia meminta aparat mengembangkan penyidikan hingga ke jaringan di belakang penyelundupan. Sepuluh anak buah kapal berkewarganegaraan Myanmar telah diamankan dalam perkara tersebut.

“Kami berharap kasus ini dikembangkan sampai ke akar. Jangan berhenti pada orang yang membawa barang. Bongkar siapa yang memesan, siapa yang membiayai, siapa yang mengendalikan, dan ke mana barang itu akan didistribusikan,” kata Musaffa.

Musaffa menegaskan GP Ansor Jawa Timur siap ikut dalam upaya pencegahan narkotika melalui edukasi dan kegiatan sosial di kalangan anak muda.

“Ansor memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga generasi muda. Negara memiliki aparat penegak hukum, sementara masyarakat memiliki kekuatan sosial. Keduanya harus bertemu dalam satu kepentingan: menyelamatkan generasi dan menjaga masa depan Indonesia,” pungkas dia. (*)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru