Surabaya,JatimUPdate.id - Jaringan Mata Publik menyoroti tingginya Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Surabaya yang belum otomatis menunjukkan kemandirian fiskal daerah. Dalam dokumen RPJMD Kota Surabaya 2025-2029, rasio PAD terhadap total pendapatan daerah pada 2024 tercatat 60,93 persen dan masuk kategori sangat baik.
Koordinator Lapangan Jaringan Mata Publik, Kang Sem, mengatakan angka tersebut perlu dilihat bersama dengan struktur pendapatan dan belanja daerah. Menurut dia, besarnya PAD belum cukup untuk menggambarkan seberapa mandiri Surabaya membiayai pembangunan dan pelayanan publik.
Baca juga: Billy Minta Klarifikasi atas Tuduhan RSUD Eka Chandrarini Buang Limbah Medis di Sidoarjo
“Kami tidak hanya melihat Surabaya dari besarnya angka PAD. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah PAD yang besar tersebut sudah mampu membuat Surabaya benar-benar mandiri dalam membiayai pembangunan dan pelayanan publik,” kata Kang Sem, melalui keterangannya, Kamis (27/8).
Ia meminta Pemerintah Kota Surabaya membuka informasi mengenai struktur pendapatan daerah, termasuk porsi dana transfer dan penggunaan PAD. Informasi tersebut dianggap penting agar masyarakat dapat mengetahui kondisi fiskal Surabaya secara utuh.
“Jangan sampai masyarakat hanya disuguhi angka PAD yang tinggi, tetapi tidak mengetahui bagaimana kondisi fiskal sebenarnya. Publik berhak tahu, dari mana pendapatan daerah berasal, ke mana anggarannya digunakan, dan apakah kebijakan tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat Surabaya,” tegasnya.
Baca juga: Bursa Ketum PBNU Memanas, Imam Jazuli Dinilai Bisa Jadi Jalan Tengah
Menurut Kang Sem, Pemkot Surabaya bersama DPRD perlu menjelaskan indikator yang digunakan untuk mengukur kemandirian fiskal daerah.
Transparansi tersebut untuk memastikan peningkatan PAD benar-benar berpengaruh terhadap kemampuan pemerintah membiayai pembangunan dan pelayanan publik.
Baca juga: Dinkes Surabaya Bantah Limbah Medis di Sidoarjo Milik RSUD Eka Chandrarini
Surabaya, kata dia, memiliki potensi ekonomi yang besar, ukuran keberhasilan fiskal tidak berhenti pada pencapaian PAD. Namun juga pada kemampuan daerah mengelola pendapatan untuk kepentingan masyarakat.
“Surabaya adalah kota dengan potensi ekonomi yang besar. Maka targetnya bukan hanya PAD tinggi, tetapi bagaimana PAD tersebut mampu menciptakan kemandirian fiskal, meningkatkan pelayanan publik, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkas Kang Sem. (*)
Editor : Miftahul Rachman