Alumni PMII Dorong NU Keluar dari Krisis, Kepemimpinan Jadi Taruhan

Reporter : Ibrahim
Bedah buku Dari Pergerakan Menuju Kepemimpinan, dok istimewa

Jombang,JatimUPdate.id - Ketua Umum DPP PKB Abdul Muhaimin Iskandar meminta alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tidak berhenti sebagai penonton dalam dinamika Nahdlatul Ulama (NU). 

Ia mengajak mereka menggunakan posisi dan pengaruhnya untuk mendorong perubahan di tubuh organisasi yang dinilainya mengalami kemunduran dalam lima tahun terakhir.

Baca juga: Prabowo di Muktamar NU: Ratusan Triliun Hasil Penghematan Anggaran Akan Dialirkan ke Rakyat Miskin

Seruan itu disampaikan Muhaimin dalam bedah buku Dari Pergerakan Menuju Kepemimpinan: Jejak Langkah Alumni PMII di Panggung Politik, Akademik, dan Kemasyarakatan di Salam Hall Denanyar, Jombang, Jumat, (28/8).

Menurut Muhaimin, forum alumni PMII yang berlangsung bertepatan dengan Muktamar NU memiliki posisi strategis. Alumni tidak cukup hanya berkumpul dan membicarakan masa lalu pergerakan. Mereka perlu mengambil bagian dalam menentukan arah NU.

“Tema terbesar hari ini adalah menyelamatkan NU dari keterpurukan lima tahun terakhir,” kata Muhaimin.

Muhaimin mengatakan perbaikan organisasi harus dimulai dari keberanian mengakui persoalan. Menurut dia, menutup mata terhadap masalah hanya akan memperpanjang kemunduran.

“NU harus kita akui, jujur, terburuk. Kejujuran itu sebagai bagian dari konsekuensi untuk kita melakukan apa di dalam menolong keterpurukan itu,” tuturnya.

Ia mengaku prihatin melihat dinamika internal NU dalam beberapa tahun terakhir. Konflik kepentingan dan perebutan sumber daya, kata dia, telah menggerus marwah organisasi.

“Perih lima tahun terakhir ini. Saya sebagai kader PMII, sebagai kader NU, melihat cakar-cakaran, rebutan uang di publik,” ungkapnya.

Maka dari itu, Muhaimin meminta alumni PMII yang memiliki posisi dan hak dalam proses Muktamar menggunakan pengaruh tersebut untuk mendorong perubahan. Ia menilai ukuran keberhasilan organisasi alumni bukan pada banyaknya kegiatan, melainkan pada kemampuan alumninya memberi warna dalam keputusan strategis NU.

Ketua Umum PB IKA PMII periode 2025-2030 Fathan Subchi mengatakan buku tersebut menjadi salah satu cara alumni PMII merekam gagasan mereka setelah tersebar di berbagai bidang. Hampir 100 alumni terlibat dalam proses penyusunan buku, sedangkan 44 orang di antaranya menuangkan gagasan secara langsung.

Latar belakang para penulis beragam. Ada yang bergerak di masyarakat sipil, mendampingi petani, berbisnis, menjadi akademisi, hingga berpolitik. Keragaman itu, kata Fathan, justru memperkaya cara alumni melihat masa depan NU dan Indonesia.

“Kalau di Mesir kan, minal fikroh ilal harokah. Dari ideologi menuju gerakan. Saya kira kita bisa kembangkan, dari ideologi, dari ide, dari manifesto, dari gagasan menuju kepemimpinan,” ujar Fathan.

Ia mengatakan perjalanan kader PMII seharusnya tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Kekuasaan dan kewenangan yang diperoleh alumni perlu diterjemahkan menjadi kebijakan yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Wakil Sekretaris Jenderal PB IKA PMII M. Sholeh Basyari mengatakan buku itu juga menawarkan gambaran mengenai model kepemimpinan yang lahir dari tradisi pergerakan. Menurut dia, pengalaman politik lima tahun terakhir yang dipenuhi ketegangan dan perbedaan kepentingan membutuhkan alternatif kepemimpinan.

“Buku ini menyodorkan alternatif leadership yang kami tawarkan kepada publik Indonesia. Inilah kami, wahai Indonesia. Kami punya sistem kepemimpinan yang khas, berjenjang, dan memiliki karakter tersendiri,” kata Sholeh.

Baca juga: UNESA Dampingi PKK Desa Ngogri Jombang Tingkatkan Daya Saing Abon Lele dengan Teknologi Spinner

Sholeh menuturkan penyusunan buku itu dibahas bersama Fathan Subchi sejak pertengahan Mei 2026. Judul Dari Pergerakan Menuju Kepemimpinan akhirnya dipilih setelah sempat muncul gagasan lain, Minal Akidah Ilaf Tawroh atau “Dari Teologi Menuju Revolusi”.

Usulan revolusi itu, kata Sholeh, kemudian ditanggapi dengan gurauan karena banyak alumni PMII kini berada di pemerintahan dan lembaga negara.

Sholeh juga mengaitkan perjalanan politik alumni PMII dan warga NU dengan apa yang disebutnya sebagai “siklus angka sembilan”. Ia menunjuk 1999 ketika KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terpilih sebagai presiden.

Sepuluh tahun kemudian, pada 2009, kekuatan politik yang berbasis warga NU disebutnya kembali memperoleh momentum. Pada 2019, KH Ma’ruf Amin terpilih sebagai wakil presiden mendampingi Joko Widodo.

Rangkaian itu membuat Sholeh melihat kemungkinan munculnya momentum serupa pada 2029.

“Pertanyaannya, apakah siklus sembilan tahunan yang sudah terjadi dan sukses mengantarkan hasil itu akan terulang lagi pada 2029? Kalau terulang seperti 1999, 2009, 2019 dan kelak 2029, tokoh sentralnya hanya satu, yakni Dr. Abdul Muhaimin Iskandar,” ujarnya.

Bagi Sholeh, pengalaman panjang alumni PMII dalam politik, akademik dan kehidupan sosial merupakan modal untuk menawarkan gagasan kepemimpinan. Buku tersebut diharapkan tidak hanya menjadi dokumentasi perjalanan alumni, tetapi juga menjadi tawaran mengenai arah kepemimpinan Indonesia.

Gagasan serupa muncul dari Ketua Umum IKA Perempuan PMII Luluk Nur Hamidah. Melalui bukunya Ublek dan Oncor, ia memilih melihat NU dari akar kehidupan masyarakat, bukan dari panggung organisasi dan kekuasaan.

Baca juga: Ulama yang Mendunia, KH. DR. Marsudi Syuhud: Dari NU untuk Umat, Bersama Indonesia Menuju Indonesia Emas 2045 

“Saya di buku ini menulis dengan judul yang cukup sederhana, Ublek dan Oncor. Di situ ada Ublek, Oncor, dan juga Bahidu,” kata Luluk.

Menurut Luluk, istilah dalam judul itu digunakan sebagai metafora untuk membaca kehidupan sosial dan politik NU. Ia ingin menunjukkan bahwa NU tumbuh dari ruang-ruang kecil yang dekat dengan masyarakat.

“NU itu saya mulai tidak dari sesuatu yang besar seperti hari ini, tetapi saya melihat NU dari sesuatu yang kecil, yang sangat intim, yang sangat tenang, dan sangat indah, yang itu digambarkan seperti Ublek,” ujarnya.

Ia menyebut akar NU dapat ditemukan di kampung, musala, tempat mengaji dan keluarga. Nilai-nilai keagamaan diwariskan melalui ibu, nenek, ibu nyai, guru ngaji dan para kiai kampung sebelum berkembang menjadi kekuatan sosial yang lebih luas.

“Tidak dari panggung-panggung yang besar, panggung-panggung yang gemerlap, apalagi dari panggung-panggung kekuasaan,” tegasnya.

Bagi Luluk, pengalaman pertama anak mengenal doa, membaca Al-Qur’an dan belajar dasar-dasar agama justru berlangsung di lingkungan keluarga dan masyarakat. Dari ruang sederhana itulah nilai yang kemudian membentuk tradisi NU diwariskan lintas generasi.

Forum itu mempertemukan alumni dari berbagai profesi dan wilayah untuk membicarakan satu tema: bagaimana pengalaman pergerakan diterjemahkan menjadi kepemimpinan dan pengabdian. (*)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru