Kaji Pemulihan Pascabencana Berbasis Kearifan Lokal

Mahasiswa Jepang dan Komunitas Dharma Bhakti Patanjala Susuri Jejak Banjir Bandang di Desa Serang

avatar Rio Rolis
  • URL berhasil dicopy
Komunitas Dharma Bhakti Patanjala turut mendampingi Prof. Tatsuo Sato dari Ibaraki University, Jepang, dalam program Joint Community-Service Program 2026.
Komunitas Dharma Bhakti Patanjala turut mendampingi Prof. Tatsuo Sato dari Ibaraki University, Jepang, dalam program Joint Community-Service Program 2026.

 

 

Purbalingga, JatimUPdate.id — Komunitas Dharma Bhakti Patanjala turut mendampingi Prof. Tatsuo Sato dari Ibaraki University, Jepang, dalam program Joint Community-Service Program 2026 bertajuk "Recovery from Natural Disaster" yang diselenggarakan oleh International Relations Office (IRO) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga.

Kegiatan yang berlangsung selama tujuh hari sejak Senin, (17/08/2026), ini melibatkan mahasiswa Jepang untuk belajar langsung dari masyarakat terdampak bencana sekaligus meneliti potensi tanaman dan sayuran lokal di desa tersebut.

Pada Rabu, (19/08/2026), rombongan Prof. Tatsuo Sato bersama mahasiswa Ibaraki University didampingi Komunitas Dharma Bhakti Patanjala dan warga lokal yang tergabung dalam Edelweis Adventure meninjau langsung bekas lokasi paling terdampak banjir bandang di Dusun Gunung Malang, Desa Serang.

Di lokasi ini, para pendamping menjelaskan kronologi terjadinya banjir bandang serta dampaknya terhadap permukiman warga dan hamparan lahan pertanian yang rusak dan hilang.

Salah satu mahasiswa volunteer dari IRO Unsoed, Rivai Pasaribu, menjelaskan bahwa program ini menyasar beberapa tujuan sekaligus.

"Sasaran program ini adalah pemberdayaan masyarakat pedesaan, pengembangan agrowisata, serta mencari solusi atas persoalan kebencanaan melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna," ujar Rivai.

Ketua Komunitas Dharma Bhakti Patanjala, Dr. Indaru Setyo Nurprojo, menyampaikan bahwa keterlibatan komunitas dalam program ini merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran kultural masyarakat dalam menghadapi risiko ekologis, bukan sekadar respons teknis pascabencana.

"Pemulihan pascabencana tidak akan berkelanjutan jika hanya mengandalkan pendekatan teknis semata. Masyarakat perlu memahami kembali relasinya dengan lanskap tempat mereka hidup — bagaimana air, hutan, dan pertanian saling terhubung — agar mitigasi ke depan lahir dari kesadaran, bukan sekadar proyek," ungkapnya.

Kolaborasi lintas negara ini menjadi salah satu bentuk konkret kerja sama akademik antara Unsoed dan Ibaraki University dalam merespons persoalan kebencanaan di wilayah lereng Gunung Slamet, sekaligus membuka ruang riset bersama mengenai potensi agrowisata dan keanekaragaman hayati pertanian di Desa Serang.

Program ini diharapkan dapat menjadi model kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi, komunitas lokal, dan masyarakat terdampak bencana dalam merumuskan strategi pemulihan yang kontekstual dan berbasis kearifan lokal. (rilis/rio/yh)