SD Plus Al-Ishlah Bondowoso Bekali Puluhan Guru Kelola Kelas, Tekankan Adab hingga Kemandirian Siswa

avatar M Aris Effendi
  • URL berhasil dicopy
Usth. Wida Alamaidah, M.Pd., menyampaikan materi Pelatihan Manajemen Kelas kepada puluhan guru SD Plus Al-Ishlah Bondowoso, Jumat (28/8/2026).
Usth. Wida Alamaidah, M.Pd., menyampaikan materi Pelatihan Manajemen Kelas kepada puluhan guru SD Plus Al-Ishlah Bondowoso, Jumat (28/8/2026).

Bondowoso, JatimUPdate.id, – Mengelola kelas bukan sekadar memastikan siswa tertib dan mengikuti pembelajaran. Lebih dari itu, guru dituntut mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman sekaligus menanamkan adab, kesadaran, kedisiplinan, dan nilai-nilai keislaman kepada peserta didik. 

Hal tersebut menjadi salah satu penekanan dalam Pelatihan Manajemen Kelas yang digelar SD Plus Al-Ishlah Bondowoso di Ruang Pertemuan SD Plus Al-Ishlah, Jumat (28/8/2026). 

Kegiatan tersebut diikuti puluhan guru sebagai bagian dari upaya sekolah meningkatkan kompetensi dan profesionalisme pendidik dalam mengelola pembelajaran sekaligus mendampingi perkembangan karakter peserta didik. 

Pelatihan dibuka oleh Kepala SD Plus Al-Ishlah Bondowoso, Afifah Zakiyah Darojah, S.Pd.I. Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh guru mengikuti kegiatan dengan kesiapan hati, pikiran terbuka, serta semangat untuk terus belajar. 

“Kita siapkan gelas kosong, kita belajar bersama, menimba ilmu, dan meluruskan niat dengan senang hati serta semangat. Semoga ilmu yang kita pelajari hari ini dapat diserap dengan baik dan diterapkan dalam keseharian saat mendampingi anak-anak surga kita di sekolah,” ujar Afifah. 

Ia menekankan, peningkatan kualitas guru merupakan bagian penting dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter peserta didik.

Anak Usia SD Membutuhkan Lingkungan Belajar yang Tepat

Pelatihan menghadirkan Usth. Wida Alamaidah, M.Pd. sebagai pemateri dengan tema “Membangun Lingkungan Belajar yang Optimal dan Sesuai Syariat.”

Dalam pemaparannya, Usth. Wida menjelaskan bahwa usia 7–12 tahun merupakan fase yang sangat krusial dalam perkembangan anak. Pada masa tersebut, anak tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga perlu mendapatkan penanaman karakter, adab, kedisiplinan, dan nilai-nilai keagamaan.

Sekolah, menurutnya, harus mampu menjadi “Kawah Candradimuka” bagi anak usia 7–12 tahun, yakni ruang pendidikan tempat anak ditempa untuk berkembang dalam ilmu, adab, karakter, dan kemandirian.

Guru juga perlu memiliki visi dalam setiap proses pembelajaran. Anak tidak cukup hanya mengetahui apa yang sedang dipelajari, tetapi juga perlu memahami mengapa mereka harus mempelajarinya dan untuk apa ilmu tersebut digunakan.

Hal-hal sederhana seperti perkalian, pembagian, penjumlahan hingga adab makan dan adab ke kamar mandi perlu disampaikan dengan alasan yang dapat dipahami anak.

Sebab, anak usia sekolah dasar mulai banyak bertanya tentang “mengapa”. Karena itu, guru juga dituntut memperluas wawasan dan memahami alasan di balik materi maupun aturan yang diberikan kepada siswa.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu siswa memahami tujuan belajar sekaligus meningkatkan fokus dan kesadaran mereka selama mengikuti pembelajaran.

Membangun Kelas sebagai Keluarga, Komunitas, dan Tim
Dalam pelatihan tersebut, guru juga diajak melihat kelas bukan sekadar ruangan tempat berlangsungnya pembelajaran, melainkan sebuah lingkungan yang memiliki dinamika sosial dan emosional.

Ada tiga dimensi yang perlu dibangun dalam kelas, yakni keluarga, komunitas, dan teamwork.

Sebagai keluarga, kelas perlu menghadirkan interaksi yang sehat dengan membangun rasa saling menyayangi, menghargai, menghormati, dan melindungi. Dengan suasana tersebut, siswa diharapkan merasa aman, nyaman, dan betah berada di kelas.

Sementara sebagai komunitas, siswa diarahkan memahami visi pribadi dan menyelaraskannya dengan visi kelas. Adapun dalam aspek teamwork, seluruh siswa dibiasakan bekerja sama secara solid untuk mencapai tujuan yang telah disepakati bersama.

Dalam pengelolaannya, guru dapat melalui tiga tahapan, yakni persiapan, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pembuatan kesepakatan kelas dengan melibatkan siswa.

Ketika siswa diberi ruang untuk berdiskusi dan ikut mengambil keputusan, mereka akan merasa terlibat. Dari keterlibatan tersebut kemudian tumbuh rasa memiliki sehingga aturan yang disepakati lebih memungkinkan untuk dijalankan dengan kesadaran, bukan semata-mata karena perintah guru.

Namun, kesepakatan yang telah dibuat tetap membutuhkan konsistensi dan istiqamah.

Guru Didorong Menjadi Manajer, Bukan Sekadar Pengawas
Pada sesi berikutnya, peserta mendapatkan materi “Senyum Guru, Sukses Siswa! Panduan Santai Mengelola Kelas dan Membentuk Karakter Anak.”

Guru diperkenalkan dengan tiga hal penting dalam mengelola kelas, yakni tegas, memiliki kesadaran, dan objektif.

Ketegasan harus berjalan bersama konsistensi dan keselarasan. Guru juga dituntut cepat tanggap terhadap situasi di kelas dan mampu melakukan antisipasi.

Sementara objektivitas diperlukan agar guru mampu menjaga kesehatan emosinya ketika menghadapi berbagai perilaku siswa.

Guru juga didorong untuk membiasakan diri berpikir positif dan tidak terburu-buru memberikan label negatif kepada siswa.

Ketika seorang anak melakukan kesalahan, guru perlu mencoba memahami alasan di balik perilaku tersebut sebelum menentukan tindakan.

Dalam komunikasi, guru dapat menggunakan pendekatan verbal maupun nonverbal. Memanggil nama siswa secara positif, berbicara secara langsung dan sopan, memberikan petunjuk waktu, menjaga kontak mata, hingga mendekati siswa secara tepat ketika terjadi gangguan menjadi bagian dari strategi komunikasi efektif.

Lebih jauh, guru diingatkan agar tidak menjadikan hukuman sebagai satu-satunya alat untuk mengendalikan siswa.

Motivasi yang lahir karena takut hukuman cenderung rapuh. Begitu pula motivasi yang hanya dibangun melalui iming-iming.
Sebaliknya, guru perlu membantu siswa membangun kesadaran dari dalam dirinya.

Karena itu, posisi guru idealnya bukan sekadar sebagai pengawas, tetapi sebagai manajer kelas yang membantu siswa berpikir, mengevaluasi diri, dan menemukan solusi.

Guru dapat memancing nalar kritis siswa melalui pertanyaan sederhana, seperti “Apa yang kita yakini?” dan “Bagaimana caranya kita bisa memperbaiki?”

Pendekatan tersebut diharapkan mampu menguatkan pribadi siswa, mendorong evaluasi diri, sekaligus membangun kemandirian.

Guru Bawa Ilmu Pelatihan ke Ruang Kelas

Salah seorang guru peserta, Puput Nur Hidayati, M.Pd., menilai pelatihan tersebut memberikan perspektif baru dalam memandang pengelolaan kelas.

“Pelatihan kemarin itu membuka pandangan kami bahwa mengelola kelas bukan sekadar menjaga ketertiban, melainkan menanamkan adab, kesadaran, dan nilai syariat ke dalam jiwa anak,” ujar Puput.

Menurutnya, pendekatan guru sebagai manajer yang bijak dan berempati menjadi salah satu hal penting yang dapat diterapkan dalam keseharian di sekolah.

“Melalui pendekatan guru sebagai manajer yang bijak dan berempati, kami di SD Plus Al-Ishlah berkomitmen menciptakan ruang belajar yang aman dan nyaman, agar siswa tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, beradab, dan berakhlak mulia,” lanjutnya.

Ia pun berkomitmen membawa hasil pelatihan tersebut ke dalam praktik pembelajaran di kelas.


“InsyaAllah, ke depan saya akan menerapkannya dengan memposisikan diri sebagai guru manager, melibatkan siswa secara aktif dalam menyusun kesepakatan kelas, melempar pertanyaan reflektif untuk membangun kesadaran diri mereka, serta mengedepankan ketegasan yang konsisten dan penuh kasih sayang demi terciptanya lingkungan belajar yang aman dan nyaman,” ungkapnya.

Tak Sekadar Tertib, tetapi Membentuk Kesadaran
Pelatihan juga mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada strategi yang digunakan guru. Guru sendiri merupakan bagian penting dari proses pembentukan karakter siswa.

Anak tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan guru, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dalam keseharian. Karena itu, guru dituntut menjadi teladan dari perilaku yang ingin dilihat pada peserta didik.

Setelah ikhtiar dilakukan melalui pembelajaran dan pendampingan, guru juga diingatkan untuk mengiringinya dengan doa. Sebab, ilmu dan terbukanya hati seseorang untuk menerima ilmu pada akhirnya merupakan kehendak Allah SWT.

Meskipun materi yang secara ideal membutuhkan waktu lebih dari satu hari harus dipadatkan dalam satu rangkaian pelatihan, puluhan guru tetap mengikuti kegiatan dengan antusias.

Melalui kegiatan tersebut, SD Plus Al-Ishlah berharap ilmu yang diperoleh tidak berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi benar-benar diterapkan dalam keseharian di ruang kelas.

Pada akhirnya, keberhasilan manajemen kelas bukan hanya ketika siswa mampu tertib karena takut kepada guru. Lebih dari itu, keberhasilan pendidikan terlihat ketika siswa mulai mampu memahami, menyadari, mengevaluasi, dan mengatur dirinya sendiri.

Pelatihan ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan ilmu serta kemudahan kepada Allah SWT agar ikhtiar para guru dalam mendidik dan mendampingi generasi penerus senantiasa memberikan manfaat bagi siswa, sekolah, dan masyarakat. (ries/yh)