Jakarta, JatimUpdate.id - Saya tak menyangka kabar duka itu datang di pagi yang masih kelabu. Airlangga Pribadi Kusman—intelektual muda dengan gagasan-gagasan besar—pergi dengan cara yang barangkali paling indah bagi siapa pun yang mencintai ilmu: jatuh di tengah karya, di antara kata-kata yang belum selesai ditulis.
Dia tiba di Jakarta dari Surabaya dengan menumpang kereta, dan turun di Stasiun Gambir saat langit masih memerah oleh fajar.
Baca juga: Keluarga Besar JatimUpdate.id dan Sygma Research Mengucapkan Belasungkawa Atas Wafatnya Mas Angga
Hari itu, Angga—begitu ia akrab disapa—langsung menuju kedai kopi Atjeh Connection di Jalan Sabang. Kedai yang selalu buka, tak kenal malam dan siang. Di sanalah, secangkir kopi hitam kesukaannya dan sepiring kudapan sarapan menemani paginya yang hening.
Kedai masih sepi. Sembari menunggu sang istri yang harus mengantar anak mereka ke sekolah di daerah Pamulang, Angga membuka laptop.
Jari-jarinya menari di atas keyboard, melanjutkan makalah tentang Soekarno—sebuah artikel riset yang ia tulis bersama Vijay Prashad, sejarawan dan intelektual dari India.
Laptop itu masih menyala ketika Angga bangkit dari kursi. Kaki mendadaknya limbung, tubuhnya sempoyongan sebentar, lalu roboh ke lantai.
"Laptopnya masih terbuka, layar artikel belum dimatikan," kenang Didik, sahabatnya dari Penerbit GDN, yang selama ini menerbitkan karya-karya Angga.
Penjaga kedai menemukannya tergeletak. Istri Angga, Lia, mencoba menghubungi ponsel suaminya, dan dari sambungan telepon itulah kabar buruk pertama terdengar. Ambulans segera meluncur. Angga dilarikan ke unit gawat darurat RSPAD Gatot Subroto.
"Penjaga kedai memperlihatkan rekaman CCTV saat Angga jatuh," kata Didik lagi.
Di dalam ambulans, tensi darahnya menyentuh angka 240. Di ruang emergensi, tekanan itu terus meroket. Gula darahnya mencapai 400. "Sejak tiba di RS, Angga sudah dalam keadaan koma," tambah Didik.
Pukul 13.35, jantungnya berhenti berdetak. Para dokter berupaya mati-matian memompa kembali harapan di dada itu.
Namun takdir berkata lain. Airlangga Pribadi Kusman—dosen FISIP Universitas Airlangga—tutup usia pada usia 49 tahun. Nama depannya bersemayam pula di universitas tempat ia mengajar.
Saya, seperti kawan-kawan dekatnya, terpana oleh kepergian ini. Pertemuan kami bermula sekitar tahun 2010, saat ia mengambil program doktoral di Universitas Murdoch, Australia, di bawah bimbingan Profesor Vedi Hadiz dan Richard Robison.
Waktu itu, kami sibuk mendiskusikan 25 tahun terbitnya buku The Rise of Capital karya Robison. Dari situlah, pendekatan ekonomi politik Murdoch—yang belakangan kerap disebut "Murdoch School"—menjadi ciri khas pemikirannya.
Angga adalah salah satu pewaris utama tradisi itu. Riset disertasinya menjelma menjadi satu karya penting: The Vortex of Power: Intellectuals and Politics in Indonesia's Post-Authoritarian Era, yang diterbitkan Palgrave Macmillan pada 2019.
Dalam buku itu, ia membedah dengan tajam jejaring kekuasaan yang tumbuh subur di Jawa Timur pasca-reformasi.
Namun, ia tak pernah berhenti di satu titik. Karya berikutnya, Merahnya Ajaran Bung Karno: Narasi Pembebasan ala Indonesia (2022), memperlihatkan kegigihannya menelusuri akar pemikiran Soekarno.
Ia terus bergumul dengan Marhaenisme—menulis artikel dan buku. Teranyar, Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z—yang ia tulis bersama Rocky Gerung—rencananya akan didiskusikan di Tangerang Selatan, Kamis pekan ini.
Namun, diskusi itu tak akan pernah ia hadiri.
Di RSPAD, saya berdiri di ruang emergensi. Lia dan Didik masih di sana. Di hadapan kami, Angga terbujur tenang. Saya memanjatkan doa dan melantunkan Al-Fatihah untuknya.
Lia, dengan kesabaran yang luar biasa, menceritakan detik-detik terakhir suaminya.
Saya membayangkan: laptop itu masih menyala, naskah hampir rampung, kopi mungkin masih hangat. Ia bangkit. Dan kemudian, kakinya goyah.
Saya percaya, di detik-detik itu, Angga tengah bergulat dengan gagasan, bertempur dengan kata-kata yang ingin diukir menjadi abadi. Pergi di tengah karya—bagi seorang intelektual, itulah kematian yang paling indah.
Selamat jalan, kawan.
Karyamu takkan pernah padam. Ia akan terus hidup dalam perdebatan, dalam sanjungan, dan di setiap baris yang kau tinggalkan. (#)
Editor : Redaksi