Banjarmasin, JatimUpdate.id — KM Virgo Transport 8, kapal Ro-Ro yang dikabarkan terbalik dan tenggelam di dekat perairan Banjarmasin pada 13 September 2026, ternyata bukan kapal baru.
Ia memiliki sejarah panjang hampir empat dekade, dimulai dari galangan kapal di Jepang hingga akhir hayatnya di Indonesia.
Berikut jejak sejarah kapal tersebut berdasarkan data yang dihimpun.
1986–1987: Lahir di Imabari, Jepang
KM Virgo Transport 8 dibangun pada tahun 1986 di galangan Shin Kurushima Onishi Dockyard – Imabari, Jepang, dan selesai pada tahun 1987. Pada tahun yang sama, kapal ini mulai berlayar dengan nama FERRY KURUSHIMA.
1987–2009: Era Kansai Kisen
Kapal ini dioperasikan oleh perusahaan lokal Jepang Kansai Kisen Co., Ltd. Ia melayani rute Matsuyama (Shikoku) – Kokura (Kyushu).
Kapal ini memiliki sistership bernama FERRY HAYATOMO 2, yang pernah dirumorkan akan beroperasi di Indonesia. Namun, kapal tersebut akhirnya dijual ke Bangladesh untuk discrap.
2009–2013: Era Ferry Sunflower
Pada November 2009, pengoperasian rute Matsuyama–Kokura dan Ferry Kurushima dialihkan ke Ferry Sunflower Ltd.
Peralihan ini terjadi setelah Kansai Kisen dan Diamond Ferry memutuskan digabung oleh MOL sebagai bagian dari rencana mengatasi tekanan ekonomi.
Pada tahun 2013, Ferry Sunflower Ltd. memutuskan menarik diri dari pengoperasian rute tersebut.
2013–2025: Era Ishizaki Kisen dan Matsuyama Kokura Ferry
Pada tahun yang sama, kapal diambil alih oleh Ishizaki Kisen Co., Ltd. Rute dan Ferry Kurushima kemudian dioperasikan oleh anak perusahaannya, Matsuyama Kokura Ferry Co., Ltd.
Pada tahun 2025, perusahaan memutuskan menghentikan dan menutup rute tersebut. Kapal pun dipensiunkan dan dijual.
2025–2026: Era Virgo Karya Shipping
Pada tahun yang sama, kapal dibeli oleh PT VKS (Virgo Karya Shipping) dan diberi nama VIRGO TRANSPORT 8. Kapal kemudian tiba di Indonesia dan dimodifikasi dengan menambahkan side ramp door.
Tepatnya pada akhir Juli 2026, KM Virgo Transport 8 mulai beroperasi untuk rute Surabaya–Banjarmasin.
13 September 2026: Akhir Pelayaran
Baca juga: Kapal Virgo Transport 8 Hilang Kontak di Laut Jawa, 243 Orang dalam Pencarian Basarnas
Pada 13 September 2026, KM Virgo Transport 8 dikabarkan terbalik dan tenggelam di dekat perairan Banjarmasin saat dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin. Status kapal tercatat mati (tenggelam).
Data Umum KM Virgo Transport 8 (2025–2026)
· Nama: KM Virgo Transport 8
· Ex name: FERRY KURUSHIMA (1987–2025)
· Negara: Indonesia
· Call Sign: YDIL4
· IMO: 8625179
· Home port: Batam
· Jenis kapal: Ro-Ro Ferry (RoPax)
· No. Tanda Pendaftaran: 2026 PPm No. 9870/L
· Tahun pembuatan: 1986–1987
· Panjang (LOA): 119,00 m
· Lebar (Beam): 21,00 m
· Dalam (Depth): 6,40 m
· Gross Tonnage: 8.540 GT
· Net Tonnage: 5.330 NT
· Mesin penggerak: Diesel KOBE 8UEC37LA x 2
· Kecepatan berlayar: ± 12 knot (22,22 km/j)
· Kapasitas: ± 480 penumpang, 73 truk, 41 mobil pribadi
· Status: Mati (tenggelam)
Dengan demikian, KM Virgo Transport 8 merupakan kapal eks Jepang yang menghabiskan sebagian besar masa operasionalnya di rute Matsuyama–Kokura sebelum akhirnya berlayar di Indonesia dan menemui akhir tragis di perairan Banjarmasin.
Kabar Tenggelamnya Kapal
Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 yang berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin dilaporkan terbalik di perairan Masalembo, Laut Jawa, pada Minggu dini hari (13/9/2026).
Hingga hari kedua operasi SAR, sebanyak 108 orang berhasil dievakuasi selamat, 6 orang meninggal dunia, dan 129 lainnya masih dalam pencarian.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memastikan kapal dalam kondisi terbalik tetapi belum sepenuhnya tenggelam. Kepala Basarnas Mohammad Syafii mengungkapkan posisi kapal telah bergeser sekitar 1,6 mil laut ke arah barat dari titik koordinat awal, dengan posisi tengkurap yang menimbulkan risiko tinggi bagi penyelam untuk masuk ke dalam badan kapal.
Kronologi Kejadian
KM Virgo Transport 8 berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada Sabtu (12/9) pukul 06.52 waktu setempat. Kapal membawa 243 orang yang terdiri dari 30 kru, 27 mitra kerja kapal, 59 penumpang dewasa, 1 anak-anak, serta 126 sopir dan kernet, dengan muatan 89 unit kendaraan.
Sekitar pukul 02.00 waktu setempat pada Minggu (13/9), nakhoda melaporkan kapal mengalami kemiringan (listing) akibat cuaca buruk dan hantaman gelombang tinggi, sebelum akhirnya komunikasi terputus. Kantor SAR Banjarmasin menerima laporan insiden pukul 04.10 Wita dan segera mengerahkan KN SAR Laksmana 241 untuk operasi pencarian dan pertolongan.
Kepala KSOP Tanjung Perak, Agustinus Maun, menyatakan bahwa prakiraan cuaca saat itu tidak menunjukkan adanya peringatan cuaca buruk. "Ketinggian gelombang pada tanggal itu paling tinggi 2 meter. Kapal dengan bobot tonase 8.500 itu masih bisa melewati situasi seperti itu," ujarnya.
Baca juga: Jepang Sedang Memberi Kita "Preview" Masa Depan — dan Kita Belum Siap Nonton
Operasi SAR dan Evakuasi
Kementerian Perhubungan melalui KSOP Kelas I Banjarmasin mendirikan posko darurat di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin sebagai pusat koordinasi dengan Basarnas, PT Pelindo, dan pihak terkait lainnya.
Evakuasi korban selamat melibatkan beberapa kapal yang berada di sekitar lokasi kejadian. MV Haida mengevakuasi 69 orang, TB TCP mengevakuasi 38 orang, dan TB Mauhaw IX mengevakuasi 16 orang (15 selamat, 1 meninggal). PT Virgo Karya Shipping juga menerjunkan dua kapal, yakni Kapal MV Haida dan Kapal Tanker Pertamina, untuk membantu proses evakuasi.
Korban luka-luka langsung dilarikan ke RSUD Ulin Banjarmasin dan RS Dr. R. Soedarsono (RS TPT) Banjarmasin. Pihak perusahaan membuka posko pendataan dan pelayanan informasi di Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara (GSN) Pelabuhan Tanjung Perak serta di Kantor VKS di Jalan Perak Barat No. 215A, Surabaya.
Dugaan Penyebab dan Sorotan Publik
Insiden ini memicu berbagai analisis mengenai penyebab terbaliknya kapal. Basarnas menduga cuaca buruk dengan gelombang tinggi sebagai faktor utama, dengan ketinggian gelombang mencapai 1,5–2,5 meter saat kejadian.
Namun, pakar dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menilai cuaca bukan penyebab utama. Analisis BMKG menunjukkan kondisi cuaca di sekitar lokasi pada pukul 02.00 WITA berada dalam kondisi cerah hingga berawan, tanpa indikasi cuaca ekstrem. Pakar ITS menyoroti potensi masuknya air melalui pintu rampa (ramp door) yang tidak tertutup rapat serta pergeseran muatan sebagai penyebab yang perlu diinvestigasi lebih lanjut.
Anggota DPR RI, Sudjatmiko, menyoroti keberadaan kapal-kapal tua yang masih beroperasi setelah mengalami modifikasi. "Jangan sampai kapal yang sudah tua kemudian dimodifikasi atau diremajakan, lalu dianggap sudah seperti kapal baru," ujarnya.
Insiden ini juga menjadi sorotan internasional. Media asing seperti AP News, Newsweek, dan TradeWinds melaporkan kejadian ini, menyoroti usia kapal yang mencapai 39 tahun serta latar belakangnya sebagai kapal eks-Jepang. Data menunjukkan ini merupakan insiden feri besar keempat di Indonesia sejak Juli 2026. Badan investigasi kecelakaan KNKT mencatat telah terjadi 46 kecelakaan Ro-Ro di perairan Indonesia antara tahun 2003 dan Agustus 2026.
Tanggapan Perusahaan
General Manager PT Virgo Karya Shipping, Yoel Rihi, membenarkan total 243 orang berada di kapal sesuai dengan data Basarnas. "30 kru, 60 penumpang pejalan kaki, sopir kernet 124 orang, dan 29 orang petugas di luar kru kapal," jelasnya. Perusahaan juga menegaskan bahwa usia kapal tidak menentukan kelaiklautan selama perawatan dilakukan dengan tepat. (#)
Editor : Redaksi