Jakarta, JatimUpdate.id — Ilmuwan perilaku sekaligus pakar neurosains Indonesia, Profesor Taufiq Fredrik Pasiak, mengungkap akar perilaku Presiden Prabowo Subianto dalam sebuah podcast terbaru. Menurutnya, cara berpikir dan bertindak Prabowo saat ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman hidup yang ia jalani sejak kecil, terutama perpindahan negara yang terus-menerus akibat pengasingan politik ayahnya.
Analisis ini disampaikan Taufiq secara kritis dan mendalam dalam podcast Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan TV.
Taufiq menjelaskan bahwa perilaku manusia merupakan hasil kombinasi antara faktor internal dan eksternal, termasuk keadaan otak, pengalaman hidup, dan lingkungan yang membentuknya. Dalam konteks Prabowo, pengalaman masa kecil yang berpindah-pindah negara setiap dua tahun karena mengikuti ayahnya, Soemitro Djojohadikusumo, dalam pengasingan politik menjadi fondasi yang kuat dalam membentuk cara ia memandang dunia.
Waspada dan Dunia yang Penuh Ancaman
Menurut Taufiq, perjalanan hidup inilah yang membentuk perilaku Prabowo yang selalu waspada dan merasa dunia ini penuh dengan ancaman. Pola pikir defensif ini tercermin dalam berbagai pernyataan publik Prabowo yang kerap menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi gangguan. Dalam sebuah pidato, misalnya, Prabowo mengingatkan agar semua pihak waspada terhadap upaya yang bisa memicu huru-hara.
Prabowo sendiri pernah mengakui bahwa dirinya menerima banyak ancaman ketika berbicara tentang keinginannya mewujudkan pemerintahan yang bersih dan menyediakan makanan bergizi gratis bagi masyarakat. Ancaman tersebut, menurut pengakuannya, mencakup ancaman ekonomi, psikologis, hingga upaya adu domba.
Konteks Historis: Tekanan sebagai Menantu Penguasa
Taufiq sebelumnya pernah menganalisis kondisi Prabowo pada masa-masa awal reformasi. Menurutnya, ketika Prabowo berada di pusaran kekuasaan sebagai menantu Presiden Soeharto, tekanan situasi dan kondisi sangat memengaruhi perilakunya.
“Konteks yang diceritakan itu konteks dulu, zaman ketika PS berada di ring utama pusaran kekuasaan bangsa,” ujar Taufiq dalam keterangannya kepada media pada 2014 silam.
Taufiq menambahkan bahwa sifat arogan yang mungkin terkesan pada diri Prabowo kala itu dapat dipahami sebagai konsekuensi dari latar belakang keluarga terhormat.
Namun, seiring waktu dan pendewasaan, serta interaksi dengan berbagai kalangan, sistem kendali diri Prabowo tersusun lebih baik.
“Sistem kendali dirinya sudah tersusun dengan baik akibat pelbagai persoalan yang dihadapinya selama perjalanan hidupnya,” jelas Taufiq.
Pergeseran Fungsi Otak Seiring Usia
Dalam kajian neurosains yang ia kembangkan, Taufiq menjelaskan bahwa pada orang yang menua terjadi pergeseran fungsi otak yang disebut shift to right.
Otak kanan menjadi lebih dominan, memungkinkan seseorang menjadi lebih emosional, intuitif, dan matang.
“Itu sebabnya orang tua umumnya menjadi lebih wise dan matang,” pungkasnya.
Mengubah Cara Berpikir 300 Juta Rakyat
Dalam unggahan terpisah, Taufiq memberikan pisau analisisnya berbasis ilmu otak dan perilaku untuk memahami cara berpikir Prabowo. Ia menilai bahwa mengubah pikiran 300 juta rakyat Indonesia terhadap Prabowo merupakan tantangan yang sangat rumit.
“Hemat saya, mendingan memahami cara Prabowo berpikir, lalu memilih cara dan strategi yang pas untuk bisa mengubah yang relevan,” tulisnya.
Profil Singkat Taufiq Fredrik Pasiak
Taufiq Fredrik Pasiak merupakan seorang dokter, neurosaintis, dan akademisi Indonesia yang saat ini menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta.
Ia memperoleh pengakuan akademik internasional sebagai Adjunct Professor in Neuroscience dari Universiti Geomatika Malaysia pada Juni 2026.
Taufiq telah menulis 12 buku dalam bidang neurosains, spiritualitas, dan perilaku manusia, termasuk “Revolusi IQ/EQ/SQ” yang menjadi karya perintis di Indonesia.
Analisis Taufiq ini menawarkan perspektif baru dalam memahami kepemimpinan Prabowo, bukan sekadar dari sisi politik, melainkan dari sisi ilmu otak dan perilaku yang terbentuk melalui perjalanan hidup yang panjang dan penuh tekanan. (#)
Editor : Redaksi