Surabaya,JatimUPdate.id – Pakar politik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ken Bimo Sultoni menganggap pemecatan Achmad Hidayat dari PDIP tidak akan terlalu berdampak terhadap kekuatan elektoral PDIP Surabaya dalam jangka pendek.
"PDIP masih memiliki struktur organisasi, jaringan PAC dan ranting, kader, serta basis pemilih yang relatif kuat," kata Bimo, kepada Jatimupdate.id, Sabtu (19/9).
Baca juga: Golkar Surabaya Petakan Skenario Pemekaran Dapil, Target 10 Kursi pada Pemilu 2029
Kendati begitu, papar Bimo pemecatan Achmad Hidayat berpotensi mengurangi kekuatan PDIP pada level jaringan personal dan politik akar rumput.
Sebab, Achmad bukan hanya nama dalam struktur partai, ia pernah menjabat sebagai Wakil Sekretaris DPC PDIP Surabaya.
Achmad tambah Bomo memiliki pengalaman kerja-kerja pemenangan politik, termasuk dalam lingkaran pemenangan Eri Cahyadi dan Armuji.
Baca juga: Jerat Gila Biaya Sekolah
“Kalau seseorang yang mempunyai jaringan personal di akar rumput ini keluar, persoalannya bukan hanya berapa jumlah kader yang ikut keluar,” tegas Bimo.
Menurut dia, yang perlu dilihat apakah jaringan informal, simpul relawan, tokoh kampung, komunitas, dan pemilih yang selama ini terhubung secara personal dengan Achmad Hidayat masih tetap berada dalam orbit PDIP atau tidak?
Maka dari itu, dampak pemecatan tersebut tidak serta-merta terlihat dalam bentuk perpindahan massa secara besar-besaran.
Baca juga: Imam Syafi’i Soroti Beban Seragam Sekolah dan Ketepatan Data Desil Penerima Bantuan
Namun, dalam politik lokal, urai Bimo kehilangan figur yang memiliki jaringan sosial politik dapat memberikan efek dalam jangka menengah apabila jaringan tersebut kemudian dibawa ke kendaraan politik lain.
“Kerugiannya mungkin bukan langsung terlihat dalam bentuk perpindahan massa besar-besaran. Akan tetapi dalam politik lokal, kehilangan satu orang yang memiliki jaringan sosial politik itu bisa memiliki efek jangka menengah jika jaringan tersebut kemudian dibawa ke kendaraan politik lain,” urai Ken Bimo Sultoni. (Roy/Mmt)
Editor : Miftahul Rachman