Emper Omah Rungkut Surabaya, 16 September 2026

Mencetak Pemimpin Sebelum Mencetak Penguasa

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy

 

Oleh Dr. Agus Andi Subroto STP., M.M.

Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan
Ketua DPD AFEBSI Jatim
Wasekjen IDEI Insan Doktor Ekonomi Indonesia

 

Kota Surabaya, JatimUPdate.id- 

Tentang Pendidikan Karakter, Etika Kekuasaan, dan Masa Depan SDM Nusantara

Ada sesuatu yang menarik sekaligus menggelisahkan dalam perjalanan sebuah bangsa.

Seseorang memulai kehidupannya sebagai manusia biasa: tumbuh dalam keluarga, bersekolah, dan belajar tentang kejujuran, tanggung jawab, serta cara menghormati sesama. Lalu ia masuk ke dalam sebuah organisasi, mendapat kepercayaan, memegang jabatan, dan perlahan masuk ke dalam lingkaran kekuasaan.

Pada titik itu, dinamika kehidupan berubah.

Yang dahulu harus meminta, kini menentukan. Yang dahulu menunggu keputusan, kini membuatnya. Yang dahulu terikat aturan, kini ikut menentukan bagaimana aturan dijalankan.

Di sinilah karakter manusia diuji secara nyata. Bukan saat seseorang tidak memiliki apa-apa, melainkan ketika ia memiliki kewenangan untuk mendapatkan banyak hal.

Fenomena ini tentu tidak hanya terjadi di panggung politik. Ia ada di mana-mana: di perusahaan, birokrasi, kampus, hingga dalam relasi sosial yang paling sederhana.

Menariknya, kekuasaan tidak selalu menciptakan karakter baru; ia kerap kali hanya memperbesar karakter yang sudah ada. Orang berintegritas yang mendapat kekuasaan akan memperluas ruang kebaikan. Sebaliknya, orientasi kepentingan pribadi yang dibarengi kewenangan besar justru membuka lebar pintu penyalahgunaan.

Maka, membicarakan masa depan bangsa tidak cukup hanya dengan menyoroti siapa yang duduk di kursi kekuasaan. Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar:

Manusia seperti apa yang sedang kita siapkan untuk mengisi kursi-kursi itu?

Pertanyaan ini membawa kita kembali pada dunia pendidikan.

Selama ini, institusi pendidikan fokus melahirkan lulusan yang kompeten: dibekali pengetahuan, keterampilan teknis, kemampuan berpikir kritis, dan daya adaptasi yang dibutuhkan dunia kerja.

Namun, kehidupan sering kali membuktikan satu hal sederhana: kompetensi dan karakter adalah dua hal yang berbeda. Seseorang bisa sangat cerdas, tetapi belum tentu bijaksana. Seseorang bisa sangat terampil, tetapi belum tentu bertanggung jawab.

Di sinilah pendidikan melampaui batas ruang transfer knowledge.

Kampus bukan sekadar pabrik pencetak gelar. Ia adalah laboratorium sosial tempat seseorang belajar mengambil keputusan, mengelola konflik, menerima kritik, bekerja sama, dan memahami konsekuensi dari setiap pilihan.

Hal-hal kecil ini tampak sepele di ruang kuliah. Namun kelak, ketika mereka menjadi manajer, birokrat, pengusaha, pembuat kebijakan, atau pemimpin publik, kebiasaan-kebiasaan kecil itu akan berdampak secara masif.

Artinya, kualitas kepemimpinan sebuah bangsa tidak ditentukan sekadar saat seseorang berada di puncak. Prosesnya sudah dimulai jauh-jauh hari—di rumah, di sekolah, di ruang-ruang kelas, dan lewat pengalaman-pengalaman kecil saat seseorang belajar membedakan antara apa yang bisa dilakukan dan apa yang seharusnya dilakukan.

Tantangan hari ini tentu semakin kompleks. Dunia menuntut kecepatan beradaptasi, inovasi, dan penguasaan teknologi. Namun, semua keahlian itu akan kehilangan arah jika abadi tanpa kesadaran etis. Kecerdasan tanpa tanggung jawab menjelma menjadi alat kepentingan pribadi. Kekuasaan tanpa etika merosot menjadi dominasi.

Sudah saatnya orientasi pembangunan SDM bergeser. Kita tidak lagi hanya mengukur keberhasilan dari tingkat kelulusan, angka penyerapan kerja, atau indeks kompetensi semata. Ada pertanyaan lain yang sama krusialnya:

Apakah manusia yang kita cetak masih memiliki integritas ketika tidak ada lagi yang mengawasinya?

Ukuran karakter yang sebenarnya bukanlah apa yang tampak di hadapan banyak orang. Melainkan ketika seseorang memiliki kesempatan mengambil sesuatu yang bukan haknya, lalu ia memilih untuk tidak melakukannya. Ketika ia punya kuasa untuk membungkam kritik, tetapi memilih untuk mendengar. Ketika ia bisa mementingkan diri sendiri, namun tetap memikirkan kepentingan yang lebih luas.

Sebuah bangsa pada akhirnya tidak hanya dibangun oleh beton, teknologi, atau kebijakan investasi. Bangsa dibangun oleh manusia. Dan kualitas sebuah bangsa hari ini adalah cermin dari kualitas manusia yang kita didik dan beri kepercayaan di masa lalu.

Pekerjaan terbesar dalam merawat negeri ini bukanlah sekadar mencari siapa yang paling tangkas merebut puncak. Melainkan memastikan bahwa dari ruang-ruang pendidikan hari ini, tumbuh manusia-manusia yang kelak ketika berada di puncak, tidak pernah lupa pada siapa amanah itu sesungguhnya diperuntukkan.

Di sinilah esensi pendidikan menemukan bentuknya yang paling dalam: bukan sekadar mencetak orang pandai, melainkan menyiapkan manusia yang tetap manusia ketika ia memegang kekuasaan.

Sebab, sebelum seseorang menjadi penguasa, ia adalah manusia. Dan jauh sebelum ia memegang kendali, ada ekosistem pendidik, keluarga, dan masyarakat yang ikut membentuk siapa dirinya.