Eisha Rachbini: Tekanan Geopolitik dan Harga Minyak Menguji Ketahanan Ekonomi Indonesia

Reporter : Shofa
Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eisha M. Rachbini, Ph.D.

 

Jakarta, JatimUPdate.id — Ketidakpastian geopolitik global dan kenaikan harga minyak dunia menjadi tantangan serius bagi perekonomian Indonesia.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Kemiskinan

Tekanan tersebut berpotensi merambat melalui tiga jalur utama, yakni sektor energi dan fiskal, gangguan rantai pasok global, serta investasi dan pasar keuangan.

Pemerintah perlu mengantisipasi dampak berantai tersebut agar stabilitas ekonomi nasional, daya beli masyarakat, dan penciptaan lapangan kerja tetap terjaga.

Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eisha M. Rachbini, Ph.D., menilai guncangan eksternal tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan harga energi.

Kenaikan biaya produksi, gangguan distribusi, tekanan nilai tukar rupiah, dan meningkatnya biaya pembiayaan dapat saling memperkuat sehingga memengaruhi aktivitas dunia usaha dan ekonomi masyarakat.

“Ketidakpastian geopolitik menjadi faktor krusial bagi perekonomian Indonesia. Kenaikan harga energi, tekanan biaya logistik, dan gejolak pasar keuangan global perlu diantisipasi melalui kebijakan yang tepat,” demikian pokok pemikiran Eisha dalam melihat tantangan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global.

Pada jalur pertama, kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya energi dan input produksi, sekaligus memperbesar kebutuhan subsidi pemerintah. Jika tekanan berlangsung berkepanjangan, inflasi dapat meningkat dan ruang fiskal semakin terbatas.

Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika pemerintah juga harus membiayai berbagai program prioritas pembangunan.

Jalur kedua berkaitan dengan gangguan rantai pasok global. Fragmentasi perdagangan dan disrupsi jalur distribusi dapat meningkatkan ongkos logistik, memperbesar kebutuhan modal kerja, serta menekan pembiayaan perdagangan (trade finance). Pelaku usaha, khususnya sektor yang bergantung pada bahan baku impor, berisiko menghadapi kenaikan biaya operasional yang pada akhirnya dapat menghambat produksi, investasi, dan perekrutan tenaga kerja.

Sementara itu, pada jalur ketiga, gejolak pasar keuangan global berpotensi mendorong investor mengalihkan portofolio ke aset yang dianggap lebih aman.

Perubahan tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Konsekuensinya, biaya dana (cost of fund) meningkat dan lembaga keuangan berpotensi lebih selektif dalam menyalurkan kredit kepada dunia usaha.

Tekanan eksternal juga perlu dicermati dari sisi ketahanan energi nasional. Ketergantungan Indonesia pada impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) membuat perekonomian rentan terhadap perubahan harga serta gangguan pasokan internasional.

Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya impor migas, menekan neraca perdagangan, dan memperbesar beban kompensasi maupun subsidi energi apabila kebijakan harga domestik tidak segera menyesuaikan.

Dampak tersebut berpotensi menjalar ke sektor riil melalui kenaikan ongkos produksi dan distribusi. Jika tidak diantisipasi, tekanan biaya dapat diteruskan ke harga barang dan jasa, sehingga menggerus daya beli rumah tangga.

Baca juga: Disiplin Devisa dan Batas Baru Kekuasaan Ekonomi

Karena itu, kebijakan stabilisasi perlu mempertimbangkan keseimbangan antara menjaga keterjangkauan energi bagi masyarakat, keberlanjutan fiskal, dan kepastian usaha.

Gambaran mengenai risiko tersebut juga dibahas dalam Kajian Tengah Tahun INDEF 2026 bertajuk Menavigasi Guncangan Global: Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Krisis Geopolitik, Energi, dan Iklim. Dengan menggunakan model Computable General Equilibrium (CGE), kajian itu menyimulasikan dampak sejumlah risiko global terhadap perekonomian nasional.

Dalam skenario lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah, simulasi INDEF memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) berpotensi tertekan sekitar 0,21 persen.

Ekspor diperkirakan melambat 2,44 persen, sedangkan upah riil turun 0,28 persen. Pada saat yang sama, inflasi berpotensi meningkat 0,28 persen dan impor naik 7,8 persen. Angka-angka tersebut merupakan hasil simulasi berdasarkan skenario tertentu, bukan proyeksi yang pasti terjadi.

Konflik yang mengganggu jalur pelayaran strategis, termasuk Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, juga menambah ketidakpastian pasokan energi dan biaya pengangkutan.

Bagi Indonesia, kondisi ini memperkuat urgensi diversifikasi sumber impor serta peningkatan kapasitas produksi energi domestik. Perubahan harga minyak dan kondisi pasar keuangan perlu dipantau secara terpadu karena dampaknya dapat meluas ke neraca perdagangan, nilai tukar, inflasi, dan APBN.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, diversifikasi pasokan minyak, penguatan produksi dalam negeri, dan pengembangan energi alternatif menjadi langkah penting untuk mengurangi kerentanan.

Baca juga: Watch Out Indonesia : Ketika Kepungan Itu Datang, Kedaulatan Harus Menjawab

Pengembangan biofuel, panas bumi (geothermal), energi surya, hidrogen hijau, dan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel/SAF) dapat menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi.

Di sisi fiskal, pemerintah perlu menjaga agar kebijakan subsidi energi tetap melindungi kelompok masyarakat rentan tanpa mengabaikan keberlanjutan anggaran.

Penguatan ketepatan sasaran subsidi, efisiensi belanja, dan koordinasi kebijakan fiskal-moneter perlu berjalan beriringan. Pada saat yang sama, kepastian kebijakan dan komunikasi yang transparan penting untuk menjaga kepercayaan investor serta memberikan ruang bagi dunia usaha dalam mengambil keputusan.

Menurut Eisha, tantangan utama Indonesia bukan hanya menghadapi guncangan global, melainkan memastikan dampaknya tidak berkembang menjadi tekanan berkepanjangan terhadap ekonomi domestik.

Respons yang terukur, adaptif, dan terkoordinasi diperlukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan.

Dengan demikian, ketahanan ekonomi Indonesia perlu dibangun melalui kombinasi pengelolaan fiskal yang hati-hati, diversifikasi energi, penguatan rantai pasok, serta pemeliharaan kepercayaan pasar.

Langkah tersebut menjadi penting agar tekanan geopolitik global tidak semakin membebani dunia usaha dan masyarakat, sekaligus membuka peluang bagi transformasi ekonomi yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
(rilis/sof/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Trending Minggu Ini
Berita Terbaru