Vela Aero Luncurkan Prototipe Taksi Terbang Vela Alpha, Targetkan Operasi Komersial 2029

Reporter : Imam Hambali
Perusahaan kedirgantaraan nasional, Vela Aero, resmi perkenalkan prototipe fisik skala penuh taksi terbang Vela Alpha dalam ajang Heli Expo Asia (HEXIA) 2026 di Cengkareng Heliport, Tangerang.

 

Jakarta, JatimUPdate.id - Industri penerbangan Indonesia memasuki babak baru. Perusahaan kedirgantaraan nasional, Vela Aero, resmi memperkenalkan prototipe fisik skala penuh taksi terbang Vela Alpha dalam ajang Heli Expo Asia (HEXIA) 2026 di Cengkareng Heliport, Tangerang, Jumat (21/8/2026).

Peluncuran tersebut menandai peralihan Vela Alpha dari tahap desain konseptual menuju fase persiapan uji terbang resmi dan sertifikasi kelaikudaraan.

Perusahaan yang beroperasi dengan nama resmi PT Vela Prima Nusantara itu menyebut kehadiran prototipe fisik sebagai bukti kemampuan rekayasa dan manufaktur dalam negeri untuk mengembangkan teknologi penerbangan masa depan.

Vela Aero juga mengungkapkan telah mengantongi akumulasi 160 Letter of Intent (LOI) dari calon pemesan domestik maupun internasional.

Jumlah tersebut merupakan surat pernyataan minat yang belum mengikat dan belum termasuk sejumlah nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU).

Dalam kesempatan yang sama, Vela Aero menandatangani MoU dengan Whitesky Aviation terkait rencana pengadaan 50 unit Vela Alpha.

Armada tersebut direncanakan untuk mendukung berbagai kebutuhan transportasi udara, mulai dari layanan penghubung bandara (airport feeder), taksi udara perkotaan, pariwisata premium hingga pengiriman logistik di kawasan industri.

Vela Aero kini membidik dua target penting sebelum akhir 2026. Pertama, menggelar uji terbang perdana di hadapan publik, regulator, mitra bisnis, dan calon investor pada kuartal IV 2026.

Kedua, memperoleh lisensi Design Organization Approval (DOA) Class D dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU), Kementerian Perhubungan.

Lisensi tersebut menjadi landasan legalitas institusional bagi perusahaan untuk menjalankan kegiatan perancangan dan manufaktur pesawat udara bersertifikat nasional.

Memasuki periode 2027-2028, Vela Aero akan memfokuskan pengembangan pada proses sertifikasi sekaligus mengonversi LOI menjadi kontrak pemesanan definitif.

Perusahaan menargetkan Type Certification atau sertifikasi tipe penuh dapat diperoleh pada akhir 2028.

Sementara layanan komersial atau entry into service ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2029.

Dari sisi teknologi, Vela Alpha mengusung konfigurasi lift-and-cruise dengan sistem distributed electric propulsion yang ditenagai sembilan motor listrik independen.

Teknologi tersebut memungkinkan pesawat lepas landas dan mendarat secara vertikal, kemudian beralih ke mode penerbangan jelajah dengan memanfaatkan sayap.

Kabin Vela Alpha dirancang mampu mengangkut satu pilot dan maksimal enam penumpang.

Pesawat ini memiliki kapasitas beban muatan hingga 550 kilogram, termasuk pilot, dengan kecepatan jelajah yang diklaim mencapai 250 kilometer per jam.

Vela Aero menyiapkan dua pilihan teknologi penggerak. Varian pertama adalah listrik murni atau electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL) dengan klaim jangkauan hingga 150 kilometer untuk kebutuhan transportasi perkotaan.

Sedangkan varian kedua menggunakan teknologi hibrida-listrik atau hybrid Vertical Take-Off and Landing (hVTOL). Varian ini dilengkapi turbogenerator dan diklaim mampu menempuh jarak hingga 500 kilometer untuk penerbangan regional.

Meski demikian, perusahaan menegaskan seluruh spesifikasi tersebut masih bersifat awal dan berpotensi mengalami perubahan. Penyesuaian akan dilakukan berdasarkan hasil uji terbang, perkembangan densitas energi baterai, kebutuhan kapasitas muatan, serta persyaratan sertifikasi akhir.

"Kami tidak sekadar membangun pesawat, melainkan mengorkestrasi ekosistem AAM terintegrasi untuk membawa Indonesia menjadi pusat inovasi aviasi dan pemegang IP teknologi kedirgantaraan terdepan di Asia Tenggara," tulis keterangan resmi Vela Aero.

Peluncuran Vela Alpha sekaligus menjadi langkah perusahaan untuk masuk ke industri Advanced Air Mobility (AAM), sektor transportasi udara generasi baru yang mengandalkan pesawat listrik dan teknologi lepas landas serta pendaratan vertikal.

Namun, realisasi layanan taksi terbang tersebut masih bergantung pada keberhasilan pengujian, pemenuhan standar keselamatan, sertifikasi regulator, serta kesiapan infrastruktur dan pasar komersial.(ih/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Trending Minggu Ini
Berita Terbaru