Hidup Bukan Untuk Jadi Pecundang Namun Jadi Pemenang

jatimupdate.id
Mas AAS

Hari telah larut, diri ini masih rehat di Rest Area Waru. Memberi ruang sedikit pada tubuh untuk beristirahat sejenak. Karena alarm telah berbunyi.


Untuk apa coba? Semua ini dilakukan, demi menyelesaikan sesuatu yang sudah dimulai. Demi sukses terwujudnya sebuah misi. Lebih tinggi lagi demi amanah karena kadung berjanji kepada Sang Illahi harus selesaikan semua ini.

Baca juga: Jawa Timur Deklarasikan Gerakan Bersih Narkoba, Mendes PDT Ajak Awasi Desa Dari Peredaran Narkoba


Belajar bertanggung jawab dan mengambil keputusan yang terbaik untuk diri sendiri dahulu. Adalah hal maha penting. Banyak sudah permisalan hidup yang bisa menjadi Koco benggolo contoh nyatanya.


Bertemu dengan teman jadi tertunda tetap dilakukan waktunya tidak pas.


Pelajaran pada malam ini: apabila dihadapkan kepada sebuah pilihan, dan ada sedikit keyakinan dalam diri, kita melakukan sesuatu yang benar.


Kita sebagai manusia tidak perlu takut. Keyakinan diri itu cukup sebagai pemandu. Karena keyakinan diri adalah suara Tuhan Yang Besar! Laksana suara rakyat suara Tuhan.


Kalaupun ada perdebatan di dalam menyelesaikan semua persoalan. Ya, tidak masalah itu sebuah mekanisme yang wajar.


Karena posisinya sudah tidak apple to apple.
Berbicara dengan keyakinan dan spirit tinggi untuk melihat sebuah persoalan dengan jernih kadang harus dilakukan, agar lawan juga bisa mengerti, bahwa kita dalam posisi bukan menjadi sub ordinat dia dalam sebuah relasi, meski ia mengeluarkan jurus mautnya sebagai seorang yang memiliki hal lebih: pengaruh semisal.


Meski penulis hanya menjadi tukang ojek dan bakulan sego goreng. Kami punya value dan harga yang ada jumlahnya bukan bermaksud menyebut tinggi, diperoleh oleh akumulasi peristiwa kehidupan yang mampu diselesaikan! Dan itu semua adalah sebuah experience yang otentik dan original.


Cerita di malam tadi, boleh dikatakan aneh namun nyata. Namun semua akhirnya berakhir dengan indah.


Kadang hanya karena ada pikiran yang rada banyak, karena faktor beragam, sehingga persoalan yang mungkin bisa disebut sederhana oleh orang lain, diri kita menyebutnya besar. Karena dihadapkan harus berhadapan dengan orang besar kata orang bukan kata semesta.


Hanya masalahnya harus di hadapi tak bisa lari dari kenyataan. Apapun masalahnya. Lari dari tanggung jawab bukan mental dari penulis.


Jangan takut kepada siapapun. Apabila benar! Saat salah mengaku benar dan berdalih banyak macam: semesta tidak bakalan diam.


Bisa jadi itu hukum spirit yang kadung melekat dalam diri penulis. Mungkin itu juga pembawaan DNA diri dari keturunan, upps! Kalau sudah benar, disalahkan bakalan dilawan, rasa takut sudah pergi dengan sendirinya entah pergi kemana!


Sehingga watak penulis tidak akan silau oleh keberadaan dan eksistensi seseorang: yang tidak mau dan mampu meletakkan sebuah keadilan pada jalurnya pada reel nya. Apalagi hanya bermodal aksesoris kadonyan saja!

Baca juga: Menjahit Teori dan Realitas: Sebuah Refleksi Pendidikan Kewirausahaan


Merasa benar dengan berlindung pada secuil tuhan-tuhan kecil berupa kedudukan, materi, yang dimiliki: lalu dipakai untuk menekan manusia lainnya. Ya, satu cara penulis yang dipunyai adalah lawan kesewenang-wenangan yang terjadi, setidaknya berani untuk interupsi. "Bukan begitu cara nya bung?"


Apa yang Anda andalkan itu masih barang fana aku berpegang kuat-kuat kepada yang abadi. Mari kita bertanding, untuk sama-sama mengandalkan kekuatan yang sama-sama kita yakini. Bagi penulis kalau sudah begini: tidak ada rumus takut, hukum semesta akan mendukung menjadi teman abadi bagi penulis. Pengalaman hidup adalah jawaban pastinya.


Dan belajar kepada alam, bahwa ngelmu kasunyatan itu kedudukannya memanglah tertinggi.


Satu demi satu PR itu dikerjakan, skala prioritas menurut nalar harus dikerjakan terlebih dahulu karena kedudukan nya paling terpenting.


Meski acap kali ada tantangan berupa: kuntilanak, pocongan, dan wewe gombel ada di tengah jalan, yang tanpa sebuah rasa sadar dan eling yang dihidupkan, wajar adanya bila muncul rasa takut!


Namun sudah menjadi ilmu titen berpegangan yang kuat kepada yang abadi, selalu diganjar kemenangan dan indah pada akhirnya. Dan cara berpegangan yang kuat dan abadi ini memanglah kudu dilatih secara terus menerus, layaknya belajar menulis.


Meski tidak mudah, kadang muncul rasa lelah, rasa sendirian dan hal-hal negatif lainnya.

Baca juga: Zulhas Jadi Keynote Speaker, LHKP PWM Jatim Tegaskan Politik Kebangsaan sebagai Kontrol Demokrasi


Ada rumus yang sudah terbukti manjur adalah tetap berjalan dan hadapi rintangan serta halangan tersebut. Meski kuntilanak nya benar-benar ada!


Rintangan itu yang akan pergi atau diri kita yang terkapar, kalah, dan menjadi pecundang.


Semua pilihan ada ditangan penulis bukan orang lain!


Penulis memilih berjuang, terus melangkah. Dan hidup yang seperti ini benar-benar layak diperjuangkan oleh penulis, untuk melampaui semua rintangan yang ada. Apalagi tekanan orang lain berupa dengan memunculkan kuntilanak-kuntilanak yang akan cepat sirna dengan ubo rampe sing pas tersebut!


Ganbatte, keep spirit, di seruput dulu kopinya masee!


Pehhh wis ganti Dino Iki, ora kroso...harus segera pulang ke Surabaya sekarang.


AAS, 28 Juni 2023
Rest Area Waru Sidoarjo

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru