Terjadi Deflasi, Pertumbuhan Ekonomi Kota Malang Melambat
Kota Malang, JatimUpdate.id - mengalami penurunan signifikan dalam pertumbuhan ekonomi pasca-pandemi COVID-19. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada tahun 2024 hanya mencapai 5,41 persen, turun dari 6,07 persen pada 2023 dan 6,32 persen pada 2022. Penurunan ini sejalan dengan tren perlambatan yang terjadi di wilayah Jawa Timur secara keseluruhan.
Laporan ini disampaikan oleh Kepala BPS Kota Malang, Umar Sjaifudin, dalam konferensi pers yang berlangsung pada Selasa, 4 Februari 2025.
Baca Juga: Pelatihan Jaya Melati 1: Mencetak Kader Hizbul Wathan Berkualitas
Dalam pernyataannya, Umar menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur juga mengalami penurunan, dengan angka sebesar 6,32 persen pada 2022, berlanjut ke 6,07 persen pada 2023, dan 5,41 persen pada 2024.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi nasional menunjukkan angka 5,31 persen pada 2022, menurun menjadi 5,05 persen di 2023, dan 5,03 persen pada 2024.
Umar mengindikasikan bahwa pelambatan pertumbuhan ekonomi tingkat nasional biasanya berdampak pada pertumbuhan di tingkat daerah.
"Jarang sekali ada kejadian di tingkat nasional dan Jawa Timur melambat, sementara kabupaten atau kota mengalami peningkatan, kecuali ada proyek yang luar biasa," jelasnya.
Untuk menghitung pertumbuhan ekonomi, BPS menggunakan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dari seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur. Kota Malang menempati peringkat ke-5 dari 38 kota dan kabupaten di Jawa Timur, di belakang Kota Surabaya (5,76 persen), Kabupaten Sidoarjo (5,73 persen), Kabupaten Gresik (5,54 persen), dan Kabupaten Pasuruan (5,45 persen).
Umar mencatat bahwa ada empat lapangan usaha utama yang berkontribusi terhadap struktur distribusi dan pertumbuhan PDRB Kota Malang pada 2024. Keempat sektor tersebut adalah Perdagangan sebanyak 29,22%, dengan andil pertumbuhan ekonomi sebesar 4,69 persen. Kedua, Industri Pengolahan 27,09 %, dengan andil 5,13 persen. Ketiga, Konstruksi sebesar 12,43 %, dengan andil 5,12 persen. Terakhir Jasa Pendidikan sebesar 7,19%, dengan andil 5,08 persen.
"Kontribusi dari empat sektor ini hampir mencapai 75 persen untuk Kota Malang, sehingga keempatnya sangat penting bagi perekonomian daerah," tegas Umar.
Pertumbuhan ekonomi terkecil di Kota Malang berasal dari sektor real estate, dengan andil hanya 3,8 persen, sementara sektor transportasi dan pergudangan menyumbang 12,63 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.
Dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat, Kota Malang menghadapi tantangan untuk meningkatkan kontribusi terhadap perekonomian Jawa Timur, yang saat ini didominasi oleh daerah-daerah dengan kawasan industri besar. Kota Malang hanya menyumbangkan 3,15 persen terhadap pertumbuhan ekonomi provinsi, jauh di bawah Surabaya yang mencapai 24,34 persen.
Kota Malang mencatat deflasi sebesar 0,22 persen tahun ke tahun (YoY) pada Februari 2025. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, Umar Sjaifudin, mengungkapkan bahwa penurunan ini dipengaruhi oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang memberikan andil sebesar 1,80 persen terhadap deflasi umum.
Menurut Umar Sjaifudin, deflasi bulanan (month-to-month/M-to-M) Kota Malang pada Februari 2025 mencapai 0,69 persen, dengan kontribusi serupa dari kelompok perumahan dan utilitas domestik yang memberikan andil sebesar 0,70 persen.
Beberapa komoditas utama yang menyumbang deflasi meliputi tarif listrik, bawang merah, daging ayam ras, serta cabai baik rawit maupun merah. Deflasi untuk tahun kalender Kota Malang pada Februari 2025 tercatat sebesar 1,28 persen.
Umar juga mencatat bahwa komoditas tarif listrik berperan dominan dalam penentuan deflasi, baik secara M-to-M, year-to-date (Y-to-D), maupun Y-on-Y. Selama lima tahun terakhir, komoditas yang berkontribusi terhadap inflasi pada bulan Februari biasanya terdiri dari daging ayam ras, bawang merah, cabai merah, dan telur ayam ras.
Analisis terhadap perkembangan harga beberapa komoditas dalam kelompok makanan, minuman, dan tembakau menunjukkan bahwa bawang merah, tomat, telur ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah mengalami penurunan harga dibandingkan bulan sebelumnya.
Baca Juga: Konsistensi Latihan Ekstrakurikuler Antar Tim Voli SMPN 11 Malang Raih Prestasi
Joko Budi Santoso, seorang ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, menilai deflasi yang terjadi pada bulan Februari merupakan hasil positif dari upaya pengendalian inflasi.
Ia menyatakan bahwa kenaikan harga sejumlah komoditas pangan menjelang bulan Ramadan berhasil diredam melalui koordinasi yang efektif antara pemangku kepentingan.
Joko juga menekankan pentingnya perbaikan pola tanam sebagai kunci untuk menjaga stok dan distribusi komoditas pangan, terutama dalam menghadapi lonjakan inflasi menjelang mudik lebaran. Ia mencatat bahwa pemerintah pusat telah mengambil langkah terkait penurunan harga tiket pesawat dan moda transportasi lainnya.
"Di sisi lain, deflasi ini juga menunjukkan bahwa masyarakat semakin bijak dalam berkonsumsi, tidak melakukan konsumsi berlebihan menjelang Ramadan," tambahnya.
Deflasi di Kota Malang menandakan adanya perkembangan positif dalam pengendalian inflasi, di mana komoditas esensial dapat dikendalikan dengan baik. Melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan kestabilan harga dapat terjaga, terutama menjelang bulan Ramadan yang sering kali memicu lonjakan permintaan. (dek/RIS)
Editor : Redaksi