Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan, Momentum Perubahan
Oleh: Ponirin Mika
Pembina Kajian Sirah Nabawiyah di Raluna Coffee, Paiton, Probolinggo
Baca Juga: Mendikdasmen Abdul Mu’ti: Dua Fungsi Pendidikan, Wariskan Nilai dan Siapkan Khalifah Masa Depan
Probolinggo, JatimUPdate.id : Lailatul Qadar merupakan malam yang dinanti-nanti oleh setiap Muslim.
Keistimewaannya melebihi seribu bulan, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, surat Al-Qadr.
Pada malam ini, Allah menurunkan rahmat-Nya dengan limpahan pahala bagi orang-orang yang beribadah dengan penuh keimanan dan keikhlasan.
Keutamaan Lailatul Qadar bukan hanya dalam hitungan waktu, tetapi juga dalam kualitas keberkahan yang tak tertandingi.
Banyak ulama dan cendekiawan Muslim mengajarkan bahwa untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar, seseorang harus mengisi malam itu dengan ibadah yang penuh makna.
Terdapat tiga amalan utama dalam menghidupkan malam ini: memperbanyak zikir kepada Allah, beramal baik seperti memberi makan fakir miskin, dan mendirikan shalat Isya serta Subuh berjamaah.
Ketiga hal ini menjadi kunci untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar.
Zikir: Menghubungkan Diri dengan Allah
Amalan pertama yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak zikir kepada Allah.
Zikir bukan hanya mengucapkan kalimat-kalimat tasbih dan tahmid, tetapi juga bentuk kesadaran hati dalam mengingat Allah di setiap waktu.
Dengan berzikir, seorang Muslim semakin mendekatkan diri kepada Tuhannya dan merasakan ketenangan batin yang luar biasa.
Zikir di malam Lailatul Qadar juga menjadi sarana untuk mendapatkan ampunan Allah.
Rasulullah SAW mengajarkan doa khusus yang dianjurkan untuk dibaca pada malam ini: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku).
Dengan doa ini, seorang Muslim berharap mendapatkan penghapusan dosa dan keberkahan di dunia serta akhirat.
Sedekah dan Memberi Makan Fakir Miskin
Amalan kedua yang sangat dianjurkan adalah berbuat kebaikan, salah satunya dengan memberi makan fakir miskin. Lailatul Qadar bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga kesempatan untuk menebarkan manfaat bagi sesama.
Sedekah pada malam ini memiliki nilai yang luar biasa. Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang memberi makan kepada saudaranya yang berpuasa akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang diberi makan.
Baca Juga: Alfamart Konsisten Hadirkan Program Sosial Tahunan Warteg Gratis Ramadan 2026
Memberikan makan kepada fakir miskin tidak hanya mencerminkan kepedulian sosial, tetapi juga menunjukkan kecintaan terhadap sesama umat Islam.
Shalat Isya dan Subuh Berjamaah: Amal yang Tak Boleh Ditinggalkan
Amalan ketiga yang disebut sebagai tingkatan terendah dalam menghidupkan Lailatul Qadar adalah shalat Isya dan Subuh berjamaah.
Meskipun disebut tingkatan yang paling ringan, bukan berarti amal ini tidak bernilai. Sebab, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang menunaikan shalat Isya dan Subuh berjamaah, maka ia seperti beribadah sepanjang malam.
Banyak umat Islam yang terjebak dalam pemahaman bahwa ibadah di malam Lailatul Qadar harus dilakukan secara berlebihan hingga lupa akan konsistensi ibadah harian.
Padahal, menjaga shalat berjamaah adalah bentuk istiqamah yang sangat dianjurkan. Bahkan, dalam banyak riwayat disebutkan bahwa orang yang menjaga shalat berjamaah akan mendapatkan cahaya di hari kiamat.
Mencari Lailatul Qadar: Sebuah Perjalanan Spiritual
Malam Lailatul Qadar tidak ditentukan secara pasti kapan terjadinya. Namun, Rasulullah SAW memberikan petunjuk bahwa ia terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah dan ketakwaan dalam sepuluh malam terakhir tersebut.
Mencari Lailatul Qadar bukan sekadar tentang mendapatkan pahala yang besar, tetapi juga tentang membangun hubungan yang lebih erat dengan Allah. Malam ini menjadi momen refleksi bagi setiap Muslim untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Baca Juga: Bupati Bondowoso Resmi Buka Festival Ramadhan 2026, Dorong Ekonomi Rakyat dan Pelestarian Budaya
Menjadikan Lailatul Qadar sebagai Momentum Perubahan
Bagi seorang Muslim, Lailatul Qadar bukan hanya tentang satu malam penuh ibadah, tetapi juga momentum untuk perubahan diri.
Seperti yang diajarkan dalam ajaran Islam, keutamaan suatu amal tidak hanya terletak pada pelaksanaannya, tetapi juga pada dampak yang ditinggalkan setelahnya.
Mereka yang benar-benar meraih Lailatul Qadar akan membawa semangat ibadahnya ke hari-hari setelah Ramadhan. Amal kebaikan yang dilakukan tidak berhenti setelah malam itu berlalu, tetapi terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan begitu, Lailatul Qadar bukan hanya menjadi pengalaman spiritual sesaat, melainkan titik awal dari perjalanan iman yang lebih kuat.
Kesimpulan: Mencari Berkah, Meraih Ampunan
Lailatul Qadar adalah malam yang penuh rahmat, lebih baik dari seribu bulan. Untuk menghidupkan malam ini, seorang Muslim bisa melakukan tiga amalan utama: memperbanyak zikir, beramal baik seperti memberi makan fakir miskin, dan menjaga shalat Isya serta Subuh berjamaah.
Menggapai Lailatul Qadar bukan hanya tentang ibadah yang intens, tetapi juga tentang membangun hubungan yang lebih baik dengan Allah dan sesama manusia.
Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk meraih berkah dan ampunan di malam yang mulia ini, serta menjadikannya sebagai momentum perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. (pm/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat