Seleksi Kepala Dinas Surabaya, Azhar Kahfi: Ajang Adu Gagasan, Bukan Rebutan Jabatan
Surabaya,JatimUPdat.id - Anggota Komisi A DPRD Surabaya, Azhar Kahfi, mengatakan seleksi terbuka kepala dinas yang digelar Pemkot Surabaya bukan soal perebutan jabatan, tetapi ajang adu gagasan.
Dari sudut pandangnya, setiap peserta yang maju dalam proses ini telah menyampaikan inovasi yang patut dipertimbangkan.
Baca Juga: Apresiasi Purabaya-Kenpark Lewat Tol, Eri Irawan Dukung Kembali Pakai Bus
"Ajang kemarin itu pameran inovasi. Ini bukan sekadar siapa yang menduduki jabatan, tapi siapa yang bisa menawarkan solusi konkret untuk pembangunan kota," kata Kahfi, Jumat (28/3).
Kahfi kembali menyoroti mundurnya 50 ASN dari proses seleksi sebagai hal yang wajar, meskipun disayangkan.
Menurutnya, bukan berarti mereka tidak kompeten tetapi bisa jadi merasa belum cukup percaya diri untuk mengemban tanggung jawab besar di posisi kepala dinas.
"Inovasi yang mereka paparkan tetap harus dihargai. Kalau memang gagasannya bagus, seharusnya tetap bisa diakomodasi dalam kebijakan daerah," tambah legislator Gerindra tersebut.
Baca Juga: BPJS Nonaktif Tanpa Pemberitahuan, Warga Miskin Terancam Gagal Operasi
Kahfi juga menekankan gagasan dari peserta seleksi sebaiknya tidak dibiarkan begitu saja. Para ASN yang sudah berani tampil dan memberikan ide harus tetap dirangkul oleh kepala dinas yang terpilih agar inovasi mereka bisa diimplementasikan.
Maka dari itu, Kahfi berharap proses seleksi ini mampu menepis anggapan penentuan kepala dinas hanya berdasarkan selera pimpinan. Dengan sistem adu gagasan, pemilihan diharapkan lebih transparan dan berbasis kapabilitas.
"Pak Eri pasti sudah punya visi besar untuk Surabaya. Ide-ide dari para kontestan ini bisa menjadi bagian dari visi itu. Jadi, seleksi ini bukan hanya mencari pejabat, tapi juga menampung inovasi yang bisa diadopsi," demikian Azhar Khfi.
Baca Juga: DPRD Surabaya Soroti Dinamika Normalisasi Sungai Kalianak Tahap II
Seebelumya Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, 50 ASN lingkungan Pemkot Surabaya memilih mengundurkan diri dari proses lelang jabatan untuk maju kepala dinas.
Menurut Eri, beberapa peserta seleksi merasa terkejut dengan tingkat kesulitan yang dihadapi. Mereka menyadari bahwa menjadi kepala dinas tidak sekadar memiliki satu inovasi, tetapi harus mampu memahami dan memimpin seluruh bidang di dinas tersebut.
“Misalnya di Satpol PP, ada empat bidang. Seorang kepala dinas harus tahu jumlah pedagang kaki lima (PKL), bagaimana pendekatan humanis dilakukan, serta kebijakan apa yang harus diterapkan. Rata-rata proposal yang masuk hanya membahas satu bidang saja, bukan secara keseluruhan,” jelasnya. (roy)
Editor : Yuris. T. Hidayat