Prabowo Lanjutkan Proyek Gasifikasi Batu Bara, Solusi Alternatif LPG dengan Investasi Rp 180 Triliun

Reporter : -
Prabowo Lanjutkan Proyek Gasifikasi Batu Bara, Solusi Alternatif LPG dengan Investasi Rp 180 Triliun
Presiden RI Prabowo Subianto berencana melanjutkan proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG).

 

Jakarta, JatimUpdate.id,Presiden RI Prabowo Subianto berencana melanjutkan proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG).

Baca Juga: Tahun 2026, Prabowo Targetkan Pembangunan 1.000 Desa Nelayan

Proyek ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor LPG dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Sebelumnya, proyek ini sempat menarik minat perusahaan asal Amerika Serikat, Air Products and Chemicals, serta investor dari China.

Namun, keduanya akhirnya mundur karena menilai proyek tersebut tidak ekonomis akibat tingginya biaya produksi dan distribusi, serta sulit diimplementasikan karena infrastruktur pendukung yang masih terbatas.

Meski demikian, pemerintah berkomitmen untuk melanjutkan proyek ini dengan sumber pendanaan dari dalam negeri.

Pembangunan DME di Beberapa Wilayah

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa proyek DME akan dibangun secara paralel di beberapa wilayah, yakni Kabupaten Muara Enim dan Ogan Komering Ilir (OKI) di Sumatera Selatan, Kabupaten Tanah Bumbu di Kalimantan Selatan, serta Kabupaten Kutai Timur di Kalimantan Timur.

“Kita akan membangun DME berbahan baku batu bara kalori rendah sebagai substitusi LPG. Produk ini akan dipasarkan dalam negeri guna mengurangi ketergantungan impor LPG,” ujar Bahlil, dikutip dari CNBC Indonesia, Senin (24/3/2025).

Bahlil menegaskan bahwa pembangunan industri DME kali ini tidak lagi bergantung pada investor asing, sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kemandirian ekonomi dan memastikan seluruh keuntungan dapat dinikmati oleh industri dalam negeri.

Baca Juga: Kebijakan Baru Dana Desa 2026: Fokus Pengembangan Koperasi Desa Merah Putih

Seluruh pendanaan akan berasal dari sumber daya dan modal dalam negeri, sementara teknologi akan diperoleh dari pihak luar.

Selain itu, pemerintah juga berencana meningkatkan nilai tambah sektor pertambangan, termasuk tembaga, nikel, dan bauksit hingga menjadi alumina.

Investasi Besar untuk Hilirisasi Batu Bara

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengungkapkan bahwa proyek gasifikasi batu bara menjadi DME merupakan bagian dari 21 proyek hilirisasi yang dipercepat pemerintah.

Di antara proyek-proyek tersebut, DME menjadi prioritas utama karena potensinya dalam mengurangi impor LPG dan mendukung ketahanan energi nasional.

Baca Juga: 10 Tahun Penggunaan Dana Desa Masih Belum Tepat Sasaran, Prabowo Subianto Bakal Rombak Kebijakan

Proyek ini menjadi yang terbesar dengan nilai investasi mencapai US$ 11 miliar atau sekitar Rp 180 triliun, berdasarkan asumsi kurs Rp 16.450 per US$.

“Dari 21 proyek hilirisasi, terdapat empat proyek hilirisasi DME, satu proyek hilirisasi besi, satu proyek hilirisasi alumina, satu proyek hilirisasi aluminium, dua proyek hilirisasi tembaga, dan dua proyek hilirisasi nikel. DME menjadi proyek terbesar dengan total investasi sekitar US$ 11 miliar,” kata Tri, dikutip Rabu (5/3/2025).

Tri memastikan bahwa pendanaan proyek DME akan bersumber dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), sebuah lembaga yang dibentuk untuk mengelola investasi strategis pemerintah dalam sektor energi dan sumber daya alam guna mendukung kemandirian ekonomi nasional.

Sementara itu, pihak pelaksana proyek masih dalam tahap pembahasan dan berpotensi melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

“Nanti pelaksananya bisa dari BUMN atau pihak lain. Sampai saat ini, masih dalam tahap pembahasan,” pungkasnya. (CNBC Indonesia/ries/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat